“Jangan membeli kurma dengan label Hadiklaim dan Mehadrin, eksportir kurma terbesar dari Israel dan pemukiman haram” bunyi seruan kampenye boikot
Hidayatullah.com | SERUAN boikot terhadap kurma yang diduga berasal dari Israel kembali menguat menjelang Ramadhan, seiring meningkatnya kampanye solidaritas Palestina di berbagai negara.
Sejumlah organisasi dan media internasional melaporkan bahwa sebagian produk kurma beredar di pasar global terkait dengan perusahaan eksportir ‘Israel’ atau ditanam di wilayah permukiman haram hasil penjajahan.
Investigasi yang dikutip Ethical Consumer pada 29 Januari 2026 menyebutkan bahwa eksportir besar seperti Hadiklaim dan Mehadrin mengirim kurma ke berbagai negara, termasuk Eropa.
“Para penyelidik berhasil mewawancarai para pemukim Israel di Lembah Yordania yang mengakui bahwa kurma yang mereka tanam diekspor ke Eropa melalui Hadiklaim dan Mehadrin,” tulis laporan tersebut.
Media Inggris The Muslim News juga melaporkan adanya imbauan kepada konsumen agar memeriksa label produk. Kampanye solidaritas menegaskan, “Jangan membeli kurma dengan label Hadiklaim. Hadiklaim adalah eksportir kurma terbesar dari Israel dan pemukimannya.”
Nama-nama Kurma yang Masuk Daftar Boikot
Beberapa laporan kampanye internasional dan organisasi solidaritas Palestina menyebut sejumlah merek yang perlu diwaspadai konsumen. Di antaranya:
Hadiklaim, yang memasarkan kurma melalui brand seperti King Solomon, Jordan River, dan MyJool.
Mehadrin, eksportir besar buah dan kurma asal Israel.
Carmel Agrexco, perusahaan ekspor pertanian yang juga menjual kurma.
Merek lain yang disebut dalam kampanye boikot meliputi Delilah, Navafresh, Urban Platter, Star Dates, Food to Live, hingga Sincerely Nuts.
Selain itu, sejumlah supermarket internasional juga pernah ditemukan menjual kurma yang bersumber dari Israel, seperti Marks & Spencer, Tesco, Morrisons, Ocado, dan brand Eat Me.
Aktivis juga mengingatkan konsumen agar waspada terhadap label seperti “Made in Israel,” “West Bank,” atau “Jordan Valley,” yang disebut “almost always made on Israeli settlements.”
Alasan Boikot
Kelompok kampanye menyatakan banyak kurma ditanam di permukiman yang dianggap ilegal menurut hukum internasional. “Banyak kurma yang dijual di supermarket Australia… ditanam di pemukiman Israel yang ilegal menurut hukum internasional,” tulis BDS Australia.
Bahkan, laporan tersebut menegaskan industri kurma Israel merupakan bagian penting ekonomi negara tersebut dan menghasilkan lebih dari setengah varietas Medjool dunia.
Kerigian Global
Gerakan boikot disebut mulai menunjukkan efek ekonomi. Data yang dikutip American Muslims for Palestine menunjukkan impor kurma Israel ke AS turun menjadi 16,5% pada 2020/2021 dibanding 25% pada 2015.
Sementara itu, kampanye sebelumnya juga mencatat penurunan signifikan setelah aksi aktivis, dari 10,7 juta kilogram pada 2015–2016 menjadi 3,1 juta kilogram pada 2017–2018, lapor BDS Australia.
Imbauan kepada Konsumen
Organisasi solidaritas mendorong masyarakat mencari alternatif dari negara lain. “Belilah kurma yang tidak berasal dari pemukiman ilegal Israel… ada banyak sekali varietas kurma Aljazair, Tunisia, Uni Emirat Arab, dan California yang bisa dipilih,” tulis The Muslim News. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen, kampanye #CheckTheLabel terus digaungkan sebagai langkah memastikan asal produk sebelum dibeli. Bagi pendukung gerakan ini, pilihan konsumsi dinilai sebagai bentuk tekanan ekonomi sekaligus solidaritas internasional terhadap Palestina.*




