Hidayatullah.com—Gelombang kekerasan dan intimidasi kembali menyelimuti India, menandai periode kelam bagi kebebasan beragama di negeri dengan populasi terbanyak di dunia ini. Berbagai laporan media lapangan menunjukkan pola pelecehan sistematis terhadap umat Islam, khususnya saat menjalankan ibadah Ramadhan dan aktivitas ekonomi.
Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, anggota kelompok Hindutva Bajrang Dal terlihat menyerang seorang pedagang jalanan Muslim di India, menuduhnya sebagai “Bangladeshi” dan memaksanya meneriakkan slogan “Jai Shri Ram” (Hidup Dewa Rama) secara paksa sebelum melakukan penganiayaan.
Akibat serangan itu, korban mengalami luka-luka dan menjadi sorotan publik sebagai contoh meningkatnya intoleransi berdasarkan agama dan identitas di masyarakat India, lapor Muslim Mirror, yang banyak mencatat tren meningkatnya kejahatan kebencian terhadap Muslim di berbagai wilayah negara tersebut.
Di Dehradun, Uttarakhand, suasana khusyuk ibadah Jumat berubah mencekam ketika kelompok sayap kanan Hindutva menggeruduk lokasi shalat. Berdasarkan laporan Clarion India, para jamaah dihina secara verbal dan diancam secara fisik. Provokasi mencapai puncaknya saat kelompok tersebut mengklaim bahwa umat Muslim tidak lagi bebas beribadah bahkan di ruang privat.
“Jika kalian ingin melaksanakan shalat (namaz) di rumah sekalipun, kalian harus mengambil izin terlebih dahulu,” ujar salah satu anggota kelompok tersebut sebagaimana dikutip dari rekaman video yang viral.
Situasi serupa terjadi di Universitas Lucknow. Masjid Lal Baradari yang bersejarah secara mengejutkan dikunci dan barikade dipasang oleh pihak administrasi kampus tepat saat waktu shalat tiba.
Mengutip The Wire, mahasiswa yang marah mencoba menerobos barikade untuk menjalankan kewajiban mereka. Namun, sebuah pemandangan mengharukan terjadi: mahasiswa Hindu membentuk pagar betis manusia, menjaga rekan-rekan Muslim mereka yang sedang bersujud di luar masjid agar tidak diganggu.
Penargetan Ekonomi dan Identitas
Tekanan terhadap warga Muslim juga merambah ke sektor ekonomi mikro. Di jalan raya Agra-Aligarh, Uttar Pradesh, seorang kakek penjual teh bernama “Kundan Tea Stall” menjadi korban perundungan oleh seorang pria bernama Deepak Sharma.
Laporan Hindutva Watch menyebutkan bahwa Sharma terekam berbicara kasar dan memaksa sang kakek mengubah nama kedainya karena dianggap provokatif bagi kelompok tertentu.
Tak jauh dari sana, di Kaila Bhatta, Ghaziabad, sebuah video viral yang diulas Maktoob Media menunjukkan seorang pemuda bernama Satyam Pandit mengancam pemilik toko daging (mutton shop).
“Saya akan membakar tempat ini jika toko ini terlihat buka pada hari Selasa,” ancam Pandit, merujuk pada kesucian hari Selasa bagi umat Hindu karena adanya kuil di depan toko tersebut.
Kekerasan Anak dan Provokasi Masjid
Sentimen kebencian ini secara mengkhawatirkan mulai melibatkan anak-anak. Di Ayodhya, seorang Muslim dihina oleh anggota kelompok pelindung sapi (Gau Rakshak), Kapil Dev.
Dalam sebuah video yang beredar, diduga memperlihatkan Kapil Dev—atau dikenal sebagai Kapil Ayodhya, tengah mengancam seorang kurir pengantar makanan Swiggy terkait pesanan biryani daging.
Pelaku diduga keberatan dengan adanya pengantaran daging tersebut dan melontarkan ancaman verbal serta kata-kata kasar kepada kurir maupun pihak perusahaan.
Selama insiden berlangsung, Kapil Ayodhya juga diduga melontarkan komentar komunal (berbau SARA) dan menyebut pria itu sebagai “ancaman bagi negara”. Aksinya ini semakin memicu reaksi keras dari warganet.
Sementara itu Siasat Daily melaporkan insiden provokatif di Masjid Makki, Bihar saat waktu Maghrib. Seseorang membawa tiga anak kecil dengan sepeda motor dan memerintahkan mereka meneriakkan slogan “Jai Shri Ram” (Salam Kemenangan bagi Dewa Rama) tepat saat kumandang Adzan untuk memicu kerusuhan.
Pemukulan dan “Sweeping” Liar
Video viral dari Kaila Bhatta, Ghaziabad, Uttar Pradesh, memperlihatkan Satyam Pandit mengintimidasi pedagang daging kambing Muslim lanjut usia. Pelaku mengancam membakar toko jika tetap buka pada hari, hari suci kuil. Perdebatan sengit dengan bahasa cabul terdengar jelas.
Shalat tarawih di masjid dijaga ketat polisi, tetapi anggota Bajrang Dal tetap membuat keributan dan akhirnya dipukul latho oleh aparat. Di Naroda, Ahmedabad, Gujarat, pada 11 Desember, kelompok Hindutva merazia hotel mencari pasangan beda agama. Mereka mengancam staf hotel melarang pasangan Muslim-Hindu tinggal bersama.
Di Maharashtra, sorang muslim bernama Razik Qureshi menolak pemeriksaan tas oleh anggota Bajrang Dal. Ia menegaskan bahwa hanya polisi yang berwenang melakukan pemeriksaan tersebut.
“Hanya polisi yang memiliki otoritas hukum untuk menggeledah saya,” tegas Qureshi sebagaimana dilaporkan Scroll.in.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa hak warga tidak hilang karena agama.
Di Naroda, Ahmedabad, kelompok serupa melakukan aksi “sweeping” atau razia ke hotel-hotel untuk mencari pasangan beda agama dan memberikan ancaman keras kepada pengelola hotel agar tidak menerima tamu tersebut.
Kritik datang dari berbagai pihak. Ketua Kongres, Rahul Gandhi, sebelumnya menyerukan persatuan dan mengecam segala bentuk kekerasan atas dasar agama, dengan memuji individu yang berdiri melawan intimidasi komunal.
“Tidak ada patriotisme yang lebih besar daripada berdiri melawan kebencian,” kata Gandhi menanggapi kasus serupa di Uttarakhand yang melibatkan Bajrang Dal.
Sementara itu, pemimpin Samajwadi Party Akhilesh Yadav menuding pemerintah pusat mempolarisasi masyarakat dengan video kekerasan yang sengaja disebar guna mempengaruhi suasana sebelum pemilu, menyebut tindakan tersebut sebagai upaya menyuburkan kebencian komunal, lapor The Times of India.
Media nasional India juga mencatat bahwa banyak insiden intimidasi komunitas minoritas belakangan ini memicu perdebatan luas tentang toleransi dan kebebasan beragama di tengah meningkatnya aksi kelompok garis keras di berbagai negara bagian India.*




