Hidayatullah.com – Iran memperingatkan negara-negara Eropa dapat menjadi “target sah” jika mereka bergabung dengan Amerika Serikat dan Israel dalam perang melawan negara tersebut.
Dalam sebuah wawancara dengan France 24 pada Jumat (06/03/2026), Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan Teheran telah memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak terlibat dalam perang tersebut.
“Kami telah memberi tahu negara-negara Eropa dan semua orang lain bahwa mereka harus berhati-hati agar tidak terlibat dalam perang agresi terhadap Iran ini,” katanya.
Takht-Ravanchi menambahkan bahwa negara mana pun yang bergabung dalam kampanye militer akan menghadapi pembalasan.
“Jika ada negara yang bergabung dengan Amerika dan Israel dalam agresi terhadap Iran, mereka juga akan menjadi target sah untuk pembalasan Iran,” katanya.
Pengerahan Pasukan Eropa
Ancaman ini disampaikan Menlu Iran ketika negara-negara Eropa mulai meningkatkan pengerahan militer mereka di kawasan Timur Tengah.
Prancis telah mengumumkan pengerahan Tonnerre, kapal induk helikopter amfibi, ke Mediterania, menurut stasiun televisi BFM TV.
Kapal tersebut akan bergabung dengan kapal induk Charles de Gaulle, yang dilaporkan telah tiba di wilayah tersebut sebelumnya setelah beroperasi di Laut Baltik.
Sementara itu, Inggris telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah Teluk.
Perdana Menteri Keir Starmer mengadakan pembicaraan dengan Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa pada hari Kamis, menawarkan untuk mengerahkan jet tempur untuk memberikan perlindungan udara defensif bagi negara Teluk tersebut.
Starmer juga mengumumkan bahwa empat jet tempur Typhoon tambahan akan dikerahkan ke Qatar menyusul permintaan dari sekutu.
Ketegangan regional telah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada hari Sabtu.
Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta lebih dari 150 siswi dan pejabat militer senior.
Iran telah merespons dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah, serta beberapa kota di Israel.*




