Hidayatullah.com– Konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran secara terbuka memperluas daftar targetnya, tidak hanya pada instalasi militer tetapi juga bank, pusat ekonomi, serta infrastruktur teknologi yang dianggap terkait dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan tersebut muncul setelah sebuah bank di Teheran dilaporkan menjadi sasaran serangan udara yang oleh Iran dituduhkan sebagai operasi Israel. Serangan itu memicu respons keras dari komando militer Iran.
Media Iran dan laporan internasional menyebut komando operasi militer Iran, Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa serangan terhadap bank tersebut membuka kemungkinan bagi Iran untuk membalas dengan menargetkan pusat ekonomi dan keuangan lawan.
Seorang juru bicara komando tersebut mengatakan bahwa “musuh telah memberi kami kebebasan untuk menargetkan pusat ekonomi dan bank milik Amerika Serikat dan rezim Zionis di Kawasan,” kutip Business Today.
Peringatan bahkan disertai imbauan keamanan bagi warga sipil di kawasan Timur Tengah agar menjauhi institusi keuangan karena berpotensi menjadi sasaran serangan balasan.
Laporan Reuters menyebut pihak militer Iran memperingatkan masyarakat agar tidak berada dalam radius satu kilometer dari bank atau pusat ekonomi yang terkait dengan kepentingan AS dan Israel.
Infrastruktur teknologi ikut masuk target
Selain sektor keuangan, Iran juga mulai menyasar infrastruktur teknologi global. Kantor berita Tasnim News Agency, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), mempublikasikan daftar perusahaan teknologi Barat yang dianggap memiliki keterkaitan dengan operasi militer Israel.
Perusahaan yang disebut antara lain Google, Microsoft, Oracle, Nvidia, IBM, dan Palantir. Infrastruktur teknologi dan kantor regional perusahaan-perusahaan tersebut di Israel maupun negara Teluk disebut sebagai potensi target baru.
Tasnim menyebut langkah itu sebagai bagian dari perubahan karakter konflik yang kini berkembang menjadi “perang infrastruktur.”
Dalam laporannya, media tersebut menulis bahwa “seiring meluasnya perang regional menjadi perang infrastruktur, cakupan target sah Iran juga ikut meluas.”
Beberapa fasilitas teknologi di kawasan Teluk bahkan dilaporkan telah terkena dampak konflik, termasuk pusat data komputasi awan yang menjadi tulang punggung layanan digital global.
Konflik berubah menjadi perang sistem
Para analis keamanan internasional menilai langkah Iran menunjukkan perubahan pola perang modern di Timur Tengah.
Menurut laporan media teknologi internasional, konflik yang awalnya berfokus pada serangan militer kini mulai bergeser ke infrastruktur ekonomi dan digital, termasuk bank, pusat data, serta perusahaan teknologi global.
Sejumlah pakar keamanan siber menyebut perusahaan sipil kini semakin sering berada di garis depan konflik modern karena teknologi mereka digunakan dalam operasi militer seperti kecerdasan buatan, analisis data, dan komputasi awan.
Media teknologi Wired melaporkan bahwa Iran menganggap infrastruktur perusahaan teknologi tersebut memiliki keterkaitan dengan operasi militer Israel sehingga berpotensi dianggap sebagai target strategis.
Para analis bahkan menyebut perkembangan ini sebagai tanda munculnya fase baru perang modern yang tidak lagi hanya menargetkan pangkalan militer, tetapi juga sistem ekonomi dan digital yang menopang operasi militer.
Dengan eskalasi tersebut, konflik Timur Tengah kini dinilai tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga berpotensi mengguncang infrastruktur teknologi dan ekonomi global.*




