Ribuan Muslim dari berbagai negara berkumpul di Dam Square, Amsterdam, membentangkan tikar dan berbagi makanan saat Ramadhan, menghadirkan suasana doa, persaudaraan, dan kedamaian di tengah salah satu alun-alun paling terkenal di Eropa
Hidayatullah.com | SORE itu, hamparan tikar panjang terbentang di salah satu alun-alun paling terkenal di Eropa. Di atasnya, ribuan orang duduk berjejer membawa makanan dari rumah masing-masing—kurma, roti, sup hangat, hingga berbagai hidangan khas dari Timur Tengah, Asia, dan Afrika.
Sebagian datang bersama keluarga. Sebagian bersama sahabat. Ada pula yang datang sendirian, tetapi akhirnya duduk berdampingan dengan orang yang baru mereka kenal beberapa menit sebelumnya.
Pemandangan yang jarang terlihat itu terjadi di Dam Square pada Sabtu, 28 Februari 2026. Ribuan umat Muslim berkumpul mengikuti acara “Street Iftar”, berbuka puasa bersama di ruang publik jantung kota Amsterdam.
Di tempat yang biasanya dipenuhi wisatawan dan hiruk-pikuk kota, Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda: tenang, hangat, dan penuh kebersamaan.
Ramadhan Mengubah Wajah Dam Square
Pada hari-hari biasa, kawasan ini menjadi salah satu titik paling ramai di Amsterdam. Wisatawan berjalan santai mengelilingi bangunan bersejarah seperti Royal Palace of Amsterdam dan National Monument.
Namun menjelang matahari terbenam di bulan Ramadhan, suasana alun-alun itu berubah.
Para relawan komunitas Muslim mulai membentangkan tikar dan meja sederhana di berbagai sudut lapangan. Di atasnya disusun makanan berbuka: kurma, buah-buahan, roti, hingga sup hangat yang aromanya perlahan memenuhi udara senja Amsterdam.
Satu per satu orang mulai berdatangan—mahasiswa, pekerja, keluarga muda, hingga wisatawan Muslim yang kebetulan berada di kota itu. Tujuan mereka sama: menunggu waktu berbuka bersama.
Dari Berbagai Negeri, Duduk di Satu Tikar
Komunitas Muslim di Belanda dikenal sangat beragam. Banyak berasal dari Turki, Maroko, Suriname, Pakistan, Indonesia, hingga berbagai negara Afrika.
Ketika mereka duduk bersama di Dam Square, perbedaan bahasa dan budaya seakan hilang. Senyum, sapaan, dan makanan yang dibagikan menjadi bahasa universal yang menyatukan semua orang.
Seorang peserta acara yang datang bersama komunitasnya mengatakan bahwa buka puasa bersama di ruang publik memiliki makna khusus.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Ramadhan adalah tentang kebersamaan dan kepedulian,” ujar salah satu peserta kegiatan dikutip Yeni Asya.
Tidak hanya umat Muslim yang hadir. Banyak warga lokal Belanda yang datang karena penasaran. Beberapa dari mereka bahkan ikut duduk bersama dan mencicipi makanan yang dibagikan para relawan.
Doa Bersama di Jantung Kota Eropa
Menjelang waktu magrib, suasana di alun-alun perlahan berubah menjadi lebih tenang. Percakapan mulai mereda. Sebagian orang membuka mushaf kecil dan membaca Al-Qur’an. Sebagian lainnya menatap langit senja Amsterdam yang perlahan berubah warna.
Ketika waktu berbuka hampir tiba, seorang tokoh komunitas berdiri di depan kerumunan untuk memimpin doa. Perlahan-lahan, ribuan orang mengikuti gerakan yang sama. Tangan-tangan terangkat ke langit.
Momen itu terasa begitu sakral, seolah hiruk-pikuk kota besar berhenti sejenak menyaksikan pemandangan tersebut.
Saat azan magrib tiba, suasana yang tadinya hening berubah menjadi penuh rasa syukur.
Kurma diambil dari piring-piring yang telah disiapkan sejak sore. Gelas air berpindah dari tangan ke tangan.
Ribuan orang yang duduk berjejer memulai berbuka puasa dengan sederhana—mengikuti tradisi yang telah dilakukan umat Islam selama berabad-abad.
Yang membuat suasana semakin hangat adalah kebiasaan berbagi makanan. Hidangan khas Turki, Maroko, Asia Selatan hingga Asia Tenggara dibagikan kepada siapa saja yang duduk di dekatnya.
Bahkan beberapa wisatawan yang kebetulan lewat ikut ditawari kurma dan sup hangat oleh orang-orang yang belum pernah mereka kenal sebelumnya.
Dakwah Tanpa Kata
Bagi banyak warga lokal yang menyaksikan peristiwa itu, pengalaman tersebut membuka cara pandang baru tentang Islam. Tanpa ceramah panjang, mereka melihat langsung bagaimana nilai-nilai Ramadhan diwujudkan melalui tindakan sederhana: berbagi, keramahan, dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi para penyelenggara, itulah pesan yang ingin disampaikan melalui acara tersebut. “Acara ini menunjukkan solidaritas dan kebersamaan,” kata salah satu penyelenggara kegiatan kepada media.
Ketika malam mulai turun dan lampu-lampu kota Amsterdam menyala, acara berbuka puasa bersama itu perlahan berakhir.
Sebagian orang masih duduk berbincang dengan teman baru yang mereka temui sore itu. Sebagian lainnya membantu relawan membereskan tikar dan membersihkan area alun-alun.
Hari itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam.
Namun bagi banyak orang yang hadir, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang jauh lebih panjang.
Di tengah salah satu pusat kota paling terkenal di Eropa, ribuan manusia berkumpul bukan karena kesamaan bangsa atau bahasa, tetapi karena satu nilai yang sama: kebersamaan.
Dan pada malam itu, Dam Square tidak hanya menjadi tempat wisata.
Ia menjadi saksi bagaimana Ramadhan menghadirkan pesan persaudaraan yang melampaui batas agama, budaya, dan bangsa.*




