Hidayatullah.com– Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil di Jalur Gaza, Palestina, meminta warga Palestina di Jalur Gaza melakukan tindakan penyelamatan yang diperlukan untuk melindungi diri mereka sendiri dari dampak badai pasir yang menjadikan udara dan langit Palestina berwarna jingga.
Dalam sebuah pernyataan hari Sabtu (14/3/2025), Direktorat mendesak warga Gaza untuk tidak keluar rumah, pusat penampungan, serta tenda-tenda yang menjadi tempat tinggal mereka kecuali ada keperluan yang sangat mendesak. Peringatan khusus diberikan kepada pasien penderita gangguan sistem pernapasan, karena kadar debu yang sangat tinggi di udara, lapor The Palestinian Information Center.
Masyarakat dianjurkan mengenakan masker atau kain yang dibasahi air untuk menutupi bagian hidung mereka saat keluar, serta melindungi mata mereka dari paparan debu, terutama bagi mereka yang mengalami alergi pada mata.
Warga juga diimbau untuk menambah konsumsi air minum dan cairan usai berpuasa, guna mengurangi efek negatif dari udara yang mengandung banyak partikel debu.Direktorat menegaskan pentingnya untuk mengencangkan tali-tali pengikat tenda dan terpal supaya tidak terbawa angin, terutama bagi warga yang berada di daerah pesisir.
Hari Sabtu (14/3/2026) badai melanda Jalur Gaza di mana udara dipenuhi dengan partikel debu dan pasir.
Departemen Meteorologi memperkirakan cuaca setempat akan berdebu dan sebagian berawan, dengan perubahan suhu udara yang tidak signifikan pada siang hari, dengan perkiraan hujan di sejumlah daerah, sementara angin bergerak dari arah timur laut ke tenggara dengan kecepatan sedang, sementara ketinggian gelombang laut tergolong rendah.
Pada malam hari, Jalur Gaza akan terpapar sistem tekanan rendah yang disertai massa udara dingin, sehingga berpeluang terjadi penurunan suhu dan hujan ringan yang tersebar di sebagian besar wilayah, yang terkadang dapat disertai badai petir.
Sejak Desember 2025, Jalur Gaza dilanda beberapa sistem tekanan rendah sehingga udara berhembus kuat yang mengakibatkan puluhan ribu tenda pengungsi tertiup angin, terendam banjir, dan rusak.
Kondisi cuaca ini terjadi pada saat ratusan ribu pengungsi di Jalur Gaza tinggal di dalam tenda-tenda usang yang tidak memberikan perlindungan memadai dari cuaca buruk.*




