Hidayatullah.com—Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Guru Besar Universitas Pertahanan, Prof Dr Salim Said, menilai kebijakan Presiden AS Donald Trump justru memperumit situasi dan berpotensi membuat Amerika semakin tidak aman.
Salim Said menilai konflik yang memanas tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan politik yang juga dihadapi Trump di dalam negeri Amerika.
“Tidak ada presiden Amerika sepanjang ingatan saya yang sudah mulai ribut sejak hari pertama dia masuk Gedung Putih. Tidak pernah ada hari lewat tanpa persoalan baru, ada persoalan yang tidak selesai,” ujar Salim Said dalam Tayangan Talk Show RELOAD di TVOne, 15 Maret 2026.
Menurutnya, Trump tidak hanya berhadapan dengan Iran, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan geopolitik lain seperti ketegangan dengan Rusia serta konflik yang melibatkan Ukraina.
Pembunuhan Soleimani Memicu Ketegangan Baru
Salim Said menegaskan bahwa situasi di Timur Tengah semakin panas setelah keputusan Trump memerintahkan serangan yang menewaskan Jenderal Iran, Qassem Soleimani, salah satu tokoh militer paling berpengaruh di negara tersebut.
“Sekarang ini menjadi panas karena Trump membunuh salah seorang perwira tinggi yang sangat penting di Iran, yaitu Soleimani,” kata Salim.
Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut juga memicu kontroversi di Washington karena dilakukan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Kongres Amerika Serikat.
Politik Domestik AS Ikut Memperkeruh Situasi
Pada saat yang sama, Trump juga tengah menghadapi tekanan politik dalam negeri, termasuk proses pemakzulan yang sedang bergulir di Kongres.
Menurut Salim Said, kondisi ini membuat kebijakan militer Trump semakin menjadi sorotan publik dan politisi di Amerika.
“Dia menyerang Iran dan membunuh Soleimani itu tidak berbicara dengan Kongres. Karena itu muncul tuntutan agar ada pembatasan penggunaan tentara oleh presiden,” ujarnya.
Situasi tersebut semakin kompleks setelah Amerika Serikat mengirim sekitar 2.500 prajurit tambahan ke kawasan Timur Tengah. Sementara di Baghdad, muncul tuntutan agar pasukan Amerika ditarik dari Irak.
Kebijakan Trump Dinilai Justru Merugikan Amerika
Salim Said menilai kebijakan militer Trump justru memberi dampak yang tidak menguntungkan bagi posisi Amerika Serikat di kawasan.
Sebelum pembunuhan Soleimani, demonstrasi besar sempat terjadi di Iran yang mengkritik pemerintah di Teheran. Namun setelah peristiwa tersebut, masyarakat Iran justru kembali bersatu menghadapi Amerika Serikat.
“Orang Iran yang tadinya demo kepada pemerintah mereka sekarang justru bergabung kembali karena menghadapi musuh bersama, yakni Amerika Serikat,” kata Salim.
Ia juga menyoroti pernyataan pemerintah Amerika yang mengklaim dunia menjadi lebih aman setelah Soleimani tewas. Menurutnya, klaim tersebut justru diperdebatkan di dalam negeri Amerika sendiri.
“Menteri Luar Negeri Amerika mengatakan sekarang dunia lebih aman. Tetapi sebagian orang Amerika justru mengatakan Amerika makin tidak aman,” ujarnya.
Salim menilai jika Iran melakukan serangan balasan, target yang paling mungkin adalah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah, bukan wilayah daratan Amerika Serikat.
Amerika diketahui memiliki sejumlah pangkalan militer di kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
“Iran tidak bodoh. Lebih gampang bagi mereka menyerang instalasi atau pangkalan Amerika di Timur Tengah,” kata Salim.*




