Hidayatullah.com– Gelombang kebencian anti-Muslim di Inggris dilaporkan mencapai titik yang mengkhawatirkan pada awal tahun 2026. Serangkaian insiden kekerasan fisik, termasuk penggunaan kendaraan sebagai senjata untuk menyerang warga Muslim, kini menjadi fokus utama otoritas keamanan dan lembaga kemanusiaan di London.
Lembaga pemantau independen Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks) mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026, terjadi pergeseran pola serangan yang signifikan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 65% korban adalah perempuan Muslim.
“Kami melihat adanya keberanian yang mengerikan dari para pelaku,” ujar Iman Atta, Direktur Tell MAMA, dalam keterangannya. “Ini bukan lagi sekadar makian di media sosial; ini adalah serangan fisik di dunia nyata yang bertujuan untuk melukai atau membunuh, dengan wanita berhijab sebagai target termudah karena identitas mereka yang terlihat jelas.”
Kegagalan Perlindungan
Kondisi ini dipertegas oleh Laporan Komite Parlemen Inggris yang dirilis pada Januari 2026. Parlemen menyoroti adanya “kerentanan ganda” yang dihadapi perempuan Muslim. Laporan tersebut secara kritis menyebutkan bahwa otoritas penegak hukum sering kali gagal mengidentifikasi motif kebencian (hate crime) di awal penyelidikan, dan cenderung mengategorikan serangan kendaraan terhadap wanita Muslim hanya sebagai kecelakaan lalu lintas biasa.
Para pakar sosiologi dan lembaga pemantau media mencatat bahwa kebencian ini tidak tumbuh di ruang hampa. Centre for Media Monitoring (CfMM) melaporkan bahwa narasi media arus utama dan algoritma media sosial memainkan peran kunci.
“Ada normalisasi dehumanisasi terhadap Muslim,” kata Dr. Faisal Hanif, seorang peneliti senior.
“Ketika media dan politisi terus-menerus membingkai identitas Muslim sebagai ancaman terhadap ‘nilai-nilai Barat’, hal itu memberikan lampu hijau bagi individu yang tidak stabil secara mental atau kelompok sayap kanan untuk melakukan aksi kekerasan. Mereka merasa sedang ‘membela negara’ saat menabrakkan mobil mereka ke arah seorang ibu yang sedang menyeberang.”
Pakar dari Hope Not Hate juga menambahkan bahwa penyebaran teori konspirasi “The Great Replacement” di platform digital telah memicu radikalisasi cepat di kalangan pemuda, yang memandang wanita Muslim sebagai simbol dari perubahan demografi yang mereka takuti.
Kasus-kasus yang dilaporkan oleh media internasional seperti The Guardian memberikan gambaran nyata dari data-data di atas. Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah insiden di Waltham Forest, London Timur. Seorang saksi mata yang berada di lokasi kejadian menuturkan kepada media:
“Mobil itu tidak ngerem. Pengemudinya melihat hijabnya, lalu dia menginjak gas. Itu jelas disengaja. Setelah menabrak, dia tidak berhenti, dia hanya melesat pergi seolah-olah yang ditabraknya bukan manusia.”
The Guardian melaporkan bahwa banyak korban yang selamat kini mengalami trauma mendalam. Mereka merasa tidak aman lagi bahkan untuk sekadar mengantar anak ke sekolah atau pergi ke toko kelontong sendirian.*




