Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Perang Umpan Iran dan Tipuan Canggih Medan Tempur

Ahmad
Terakhir diupdate: 20 Maret 2026 14:43 2:43 pm
Ahmad
Dipublikasikan 20 Maret 2026 14:32
Bagikan
Bagikan

S2J News menulis Iran disebut mengerahkan jutaan jet tempur, tank, dan sistem pertahanan udara palsu buatan China untuk memancing AS dan Israel menghabiskan rudal mahal pada sasaran murah.

Hidatullah.com | DALAM perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki senjata paling mutakhir, melainkan juga oleh siapa yang paling lihai menipu lawan. Inilah salah satu fenomena baru serangan AS-Israel kepada Iran.

Di era ketika radar, sensor inframerah, citra satelit, dan kecerdasan buatan menjadi mata utama di medan tempur, sasaran palsu kini bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi untuk membingungkan, mengalihkan, dan menguras kekuatan musuh sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai.

Baru-baru ini beberapa media membuat ulasan menarik terkait aksi tipuan pihak Iran dibantu China.

S2J News baru-baru ini menulis bagaimana Iran telah mengerahkan jutaan jet tempur, tank, dan sistem pertahanan udara palsu buatan China untuk memancing AS dan Israel menghabiskan rudal mahal pada sasaran murah.

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Media ini menggambarkan taktik tersebut sebagai bagian dari perang asimetris, yakni upaya membuat lawan merugi secara biaya dan logistik dengan memaksa mereka menembakkan amunisi presisi bernilai sangat tinggi ke target yang sebenarnya tidak penting.

Menurut Moneycontrol, klaim itu mencuat setelah beredarnya video di media sosial yang memicu spekulasi bahwa Iran kemungkinan memakai inflatable decoys (sasaran tipuan tiup) yang diduga diimpor dari China.

Dalam laporannya, media tersebut menyebut akun GPX Press mengklaim Iran telah mengimpor lebih dari 900.000 model umpan, termasuk tank, kendaraan pembawa rudal, serta rudal balistik berikut peluncurnya.

Moneycontrol juga memberi catatan penting. Media itu menegaskan informasi tersebut belum diverifikasi secara independen.

Dengan kata lain, klaim mengenai jumlah besar alutsista palsu itu masih berada di wilayah laporan yang beredar, bukan fakta yang sudah dipastikan oleh sumber resmi maupun verifikasi lapangan yang kuat.

Nada serupa muncul dalam laporan Pakistan Today pada 9 Maret 2026. Media itu menulis dunia maya diramaikan klaim bahwa Iran mengimpor 900.000 decoy militer tiup dari China, sehingga memungkinkan serangan AS menghantam sasaran palsu alih-alih target yang sesungguhnya.

Laporan tersebut berkembang setelah video serangan terhadap target yang disebut sebagai helikopter Mi-17 memancing keraguan di kalangan pengguna media sosial.

Meski mengangkat klaim yang sama, Pakistan Today juga tidak menyajikannya sebagai fakta final. Media itu menekankan bahwa skala “pasukan umpan” Iran masih belum dapat dipastikan.

Narasi itulah yang mengemuka dalam sejumlah laporan media awal Maret 2026, ketika Iran disebut menggunakan peralatan militer umpan atau decoy untuk mengecoh serangan Amerika Serikat dan Israel.

Laporan tersebut menyebut sasaran palsu itu diduga mencakup jet tempur, tank, peluncur rudal, hingga sistem pertahanan udara yang dirancang menyerupai alutsista asli.

Dalam laporannya, S2J News menyebut umpan itu bukan hanya berbentuk replika fisik, melainkan juga dapat dilengkapi unsur pendukung seperti pemantul radar, sumber panas buatan, dan bentuk visual yang meniru aset militer asli.

Dengan pola semacam itu, sasaran palsu tidak hanya terlihat meyakinkan dari kejauhan, tetapi juga berpotensi terbaca sebagai ancaman nyata oleh sensor lawan.

Logika taktik ini sederhana, tetapi mematikan secara ekonomi. Seperti ditulis S2J News, bila satu sasaran palsu yang nilainya relatif murah mampu memancing rudal bernilai jutaan dolar, maka penyerang sesungguhnya sedang dipaksa menanggung biaya perang yang sangat besar bahkan sebelum menghantam kekuatan inti lawan.

Kerangka itu sejalan dengan analisis Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang menilai bahwa perang modern semakin menuntut kemampuan menipu lawan, bukan sekadar menghancurkannya.

Dalam analisis Januari 2026, CSIS menyebut militer modern perlu kembali menghidupkan ghost armies (unit-unit tipuan) karena di tengah dominasi drone, satelit, dan sensor canggih, pengaburan sasaran tetap menjadi unsur penting untuk memanipulasi apa yang dilihat musuh dan menyesatkan penargetan mereka.

Dalam kajian lain pada Maret 2026, CSIS juga menyoroti bagaimana sistem berbiaya rendah dapat memaksa lawan mengerahkan pertahanan yang jauh lebih mahal.

Logika ini membuat perang umpan relevan secara strategis: sasaran palsu tidak harus menghancurkan lawan, tetapi cukup efektif bila mampu menunda serangan, memecah fokus pengintaian, atau memancing rudal presisi bernilai tinggi ke target yang sebenarnya tidak menentukan.

Dalam konteks itu, dugaan penggunaan decoy oleh Iran—meski belum terverifikasi penuh—tetap masuk akal sebagai bagian dari pola perang asimetris yang mengandalkan tekanan biaya dan kekacauan persepsi.

Di titik ini, yang menarik bukan hanya benar atau tidaknya angka “ratusan ribu” atau “jutaan” umpan tersebut, melainkan masuk akalnya konsep yang mendasarinya.

Dalam teori militer, penggunaan decoy adalah bagian dari deception warfare, yakni seni menciptakan persepsi palsu agar lawan mengambil keputusan yang keliru. Seorang skeptis yang cermat tentu akan bertanya: apakah sensor modern benar-benar semudah itu dikelabui? Pertanyaan itu valid.

S2J News mengakui adanya keraguan dari sejumlah analis. Mereka menilai sensor termal canggih, pengintaian multi-spektrum, dan sistem identifikasi berbasis kecerdasan buatan semestinya mampu membedakan antara target asli dan tiruan.

Keraguan ini penting, sebab tanpa verifikasi visual, data satelit, atau pengakuan resmi, klaim tentang “jutaan alutsista palsu” berisiko menjadi sensasional.

Namun, pakar pertahanan umumnya sepakat pada satu hal: dalam perang modern, sasaran umpan tetap efektif, terutama bila digunakan dalam jumlah besar dan dipadukan dengan kekacauan informasi di medan perang.

Efektivitasnya tidak harus sempurna. Cukup bila ia menunda serangan, memecah fokus pengintaian, memancing tembakan awal, atau memaksa lawan memeriksa ulang target.

Karena itu, laporan-laporan mengenai dugaan taktik Iran ini sebaiknya dibaca dalam dua lapis. Lapis pertama adalah klaim spesifik tentang impor alutsista palsu dari China dalam jumlah sangat besar, yang sampai kini belum terverifikasi kuat. Lapis kedua adalah realitas strategis bahwa perang modern memang semakin ditentukan oleh kemampuan menipu sistem lawan, bukan hanya menghancurkannya.

Iran sendiri belum memberikan pernyataan resmi soal ini. Dengan demikian, cerita tentang “pasukan bayangan” Iran mungkin belum sepenuhnya terbukti, tetapi ia membuka satu kenyataan yang lebih besar: di medan tempur abad ini, yang palsu pun bisa mematikan—bukan karena daya hancurnya, melainkan karena kemampuannya membuat lawan salah melihat perang.*/Abdullah H

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:chinaHeadlineiranJet Tempurperang tipuansistem pertahanan udaraTank
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dari Geladak Tempur Menuju Kampung Halaman
Tulisan selanjutnya Kisah Jenaka Hari Raya (1) : Diinterogasi Istri Sepulang Shalat ‘Id

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun

Berita
17 Oktober 2026 10:07
Tiga Pria Mengaku Merencakan Serangan Terhadap Masjid Maryam di Galway
IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?