Hidayatullah.com – Sayap bersenjata kelompok perlawanan Palestina Hamas, Brigade Al-Qassam, pada Ahad mengatakan bahwa pelucutan senjata yang berusaha diterapkan oleh Israel adalah upaya untuk meneruskan genosida terhadap rakyat Palestina.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi (05/04/2026), juru bicara sayap bersenjata Hamas, Abu Ubaida, mengatakan bahwa mengangkat isu senjata “dengan cara yang kasar” tidak akan diterima.
Isu penyerahan senjata Hamas merupakan hambatan utama dalam negosiasi untuk menerapkan rencana “Dewan Perdamaian” Presiden AS Donald Trump untuk Gaza, yang bertujuan untuk memperkuat gencatan senjata yang menghentikan perang genosida Israel selama dua tahun pada Oktober lalu.
Mewakili faksi perlawanan, Hamas mengatakan kepada para mediator bahwa mereka tidak akan membahas pelucutan senjata tanpa jaminan bahwa Israel akan sepenuhnya meninggalkan Gaza, tiga sumber mengatakan kepada Reuters pekan lalu.
“Apa yang coba didorong musuh hari ini terhadap perlawanan Palestina, melalui mediator saudara kita, sangat berbahaya,” kata Hamas.
‘Upaya untuk melanjutkan genosida’
Hamas juga mengatakan tuntutan perlucutan senjata itu “tidak lain adalah upaya terang-terangan untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami, sesuatu yang tidak akan kami terima dalam keadaan apa pun.”
Belum jelas apakah komentar tersebut merupakan penolakan resmi terhadap rencana perlucutan senjata yang didukung AS, dan para pejabat politik Hamas tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Penjajah Israel secara terus menerus melakukan pelanggaran gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober, yang telah menewaskan hampir 700 orang dan melukai lebih dari 1.876 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Palestina.
Abu Ubaidah mendesak para mediator untuk menekan Israel agar memenuhi komitmennya di bawah fase pertama rencana Trump sebelum diskusi tentang fase kedua dapat dilakukan.
“Musuh adalah pihak yang merusak kesepakatan,” katanya.*




