Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

Mahmud
Terakhir diupdate: 10 April 2026 04:59 4:59 am
Mahmud
Dipublikasikan 9 April 2026 14:00
Bagikan
Ilustrasi Perang Salib
Bagikan

Musuh tidak menang karena mereka hebat, tetapi karena kelemahan internal umat yang bersekongkol atau bekerjasama dengan musuh. Perang Salib memberikan pelajaran berharga bahwa musuh hanya sekuat celah pengkhianatan yang kita berikan.

Hidayatullah.com | Kemenangan dalam suatu pertempuran bukanlah sekadar soal adu tajam pedang atau canggihnya alutsista. Jika kita mau membaca lembaran kelam jatuhnya Yerusalem pada abad ke-5 Hijriah, fakta di lapangan sama sekali berbeda.

Kota suci ini diduduki selama 88 (bahkan dalam pendapat lain 90) tahun bukan semata-mata karena kehebatan militer Tentara Salib, melainkan karena pengabaian ukhuwah di antara para pemimpin Muslim yang lebih memilih berlindung di balik ketiak asing daripada bersandar pada saudara seiman.

Ada dua buku menarik yang akan dijadikan pijakan dalam tulisan ini. Pertama, al-Ḥurūb ash-Shalībiyyah: Qiṣṣat al-Ḥurūb aṣ-Ṣalībiyyah min al-Bidāyah ḥattā ‘Ahd ‘Imād ad-Dīn Zankī (Perang Salib: Kisah Perang Salib dari Awal Hingga Masa Imaduddin Zanki: 2009), karya Prof. Dr. Raghib As-Sirjani. Kedua, Hākadzā Zhahara Jīlu Shalāh ad-Dīn, wa Hākadhā ‘Ādat al-Quds (Demikianlah lahir generasi Shalahuddin, dan demikianlah Yerusalem kembali: 2002), karya Dr. Majid Irsa Al-Kilani.

Buku anggitan Dr. Raghib al-Sirjani dan Majid Irsan al-Kilani ini bukan hanya sekadar bernostalgia dengan tragedi masa lalu, melainkan upaya membedah “penyakit dalam” yang kini kembali menjangkiti kepemimpinan umat: sebuah persekongkolan diam-diam yang membiarkan rakyat menderita demi jaminan keamanan kekuasaan dari kekuatan global.

Baca Juga

KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

Sebelum pemimpin politik jatuh ke pelukan musuh, para pemikir dan agamawannya telah lebih dulu lumpuh. Dr. Majid Irsan al-Kilani mencatat bahwa kemenangan mustahil diraih selama institusi ilmu dikuasai oleh mereka yang mengejar dunia.

Ulama yang seharusnya menjadi suluh, pencerah, penjaga moral dan pengoreksi penguasa, berubah menjadi legitimator kebijakan zalim demi status sosial, jabatan qadhi (hakim), dan pengelolaan wakaf.

Penyakit “cinta harta dan jabatan” di kalangan intelektual inilah yang memutus urat nadi perjuangan umat. Mereka membiarkan ukhuwah robek selama kepentingan material mereka terjamin oleh penguasa yang bersekutu dengan asing.

Selain itu, salah satu titik terendah dalam sejarah adalah ketika penguasa lebih takut pada saudara seimannya daripada agresi penjajah. Saat gelombang pertama Tentara Salib mengepung Antiokhia pada tahun 1098 M, al-Afdhal bin Badr al-Jamali, Wazir Daulah Fathimiyah di Mesir, melakukan langkah yang sangat memalukan.

Bukannya mengirim bantuan militer untuk membendung invasi, ia justru mengirim delegasi ke perkemahan Tentara Salib untuk menawarkan aliansi. Proposalnya jelas: Salibis boleh menguasai Syam Utara (wilayah Sunni Seljuk), asalkan mereka tidak mengganggu ambisi Fatimiyah menguasai Palestina. Dr. Raghib Al-Sirjani melukiskan momen ini sebagai tikaman yang melumpuhkan koordinasi militer umat di saat yang paling krusial.

Hambatan kemenangan juga datang dari faksi Sunni sendiri yang terjebak dalam kepentingan sempit. Ridhwan bin Tutush, penguasa Aleppo, adalah contoh pemimpin yang kehilangan integritas akidah. Dr. Raghib al-Sirjani mencatat bahwa Ridhwan berkali-kali menjalin kerja sama militer dengan Tancred, pemimpin Tentara Salib di Antiokhia.

Persekongkolan ini ditujukan bukan untuk perdamaian, melainkan untuk menyerang saingan internalnya sesama Muslim di Mosul dan Damaskus. Baginya, Tentara Salib adalah mitra yang berguna untuk menjaga kekuasaannya tetap absolut di Aleppo, meski rakyatnya harus menanggung kehinaan hidup di bawah bayang-bayang ancaman penjajah.

Ada juga fakta sejarah yang paling relevan untuk memotret mentalitas pemimpin saat itu yang membela kepentingan asing demi stabilitas takhta. Ketika Imaduddin Zanki membawa visi persatuan dan jihad untuk membebaskan Syam, Mu’inuddin Anar, pemimpin de facto Damaskus, justru merasa terancam kedudukannya.

Pada tahun 1140 M, Anar mengirim utusan kepada Raja Fulk d’Anjou (Raja Yerusalem) untuk beraliansi melawan Imaduddin. Ia bahkan bersedia membiayai seluruh biaya militer Tentara Salib sebesar 20.000 dinar per bulan dan menyerahkan kota Muslim, Banias, kepada Salibis sebagai “hadiah”. Sebuah kota Muslim dikorbankan hanya agar penjajah mau membantunya mengusir tentara pemersatu Muslim lainnya yang dianggap sebagai rival politik.

Tokoh lain yang juga perlu disebut di sini adalah Syawur; potret puncak kehinaan pemimpin yang kehilangan kompas iman dan mengabaikan ukhuwah secara total. Dalam persaingan jabatan Wazir di Mesir melawan rivalnya Dhirgham, ia memanggil Raja Amalric I dari Yerusalem untuk menjajah negerinya sendiri demi melindunginya dari pasukan Nuruddin Zanki yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh.

Syawur membiarkan tentara Salib masuk ke jantung Kairo dan menuntut upeti jutaan dinar yang diperas dari rakyat. Dr. Majid Irsan al-Kilani mencatat bahwa Shalahuddin al-Ayyubi akhirnya harus mengambil langkah drastis dengan mengeksekusi Syawur karena pengkhianatannya yang terus-menerus terhadap front persatuan Islam yang sedang dibangun.

Selain pengkhianatan politik secara terang-terangan, terdapat hambatan berupa teror ideologi dari kelompok kebatinan Hasysyasyin. Kelompok ini secara konkret sering kali berkoordinasi dengan musuh luar untuk melumpuhkan arsitek persatuan umat.

Mereka membunuh tokoh penting seperti Nizamul Mulk, yang merupakan otak di balik kebangkitan madrasah-madrasah Sunni, dan melakukan beberapa kali percobaan pembunuhan terhadap Shalahuddin al-Ayyubi.

Selama “penyakit dalam” berupa infiltrasi ideologi menyimpang dan aksi teror ini ada, energi umat habis untuk menjaga keamanan internal daripada melakukan ekspansi pembebasan. Akibatnya, kelemahan umat tak terhindarkan dan sangat rapuh dalam memnghadapi penjajah. Umat Islam kala itu persis kondisinya sebagaimana gambaran nabi: seperti hidangan yang diperebutkan di meja makan.

Dr. Raghib al-Sirjani −ketika memperhatikan fakta pahit ini− menulis catatan sangat relevan hingga hari ini: “Musuh-musuh kita tidak menang atas kita karena kekuatan mereka, tetapi karena kelemahan kita.” Musuh tidak menang karena mereka hebat, tetapi karena kelemahan internal umat yang bersekongkol dengan musuh yang memberikan mereka celah. Perang Salib memberikan pelajaran berharga bahwa musuh hanya sekuat celah pengkhianatan yang kita berikan.

Selama pemimpin umat lebih percaya pada pangkalan militer asing, restu politik dari pusat kekuatan global, atau aliansi Barat daripada ukhuwah dengan saudaranya sendiri, maka kemenangan hanyalah fatamorgana yang jauh di ufuk.

Shalahuddin al-Ayyubi di kemudian hari berhasil membebaskan Yerusalem bukan semata-mata karena ia memiliki jumlah pedang yang banyak secara tiba-tiba. Pembebasan itu terjadi karena ia menghabiskan bertahun-tahun masa kepemimpinannya untuk membersihkan internal umat dari para pengkhianat takhta ini.

Kebangkitan hanya dimulai saat umat memprioritaskan ukhuwah islamiyah, berani memutus rantai persekongkolan ini dan kembali pada komando iman yang bersih dari intervensi asing. Inilah nilai kemulian yang terkandung dalam agama ini; yang digambarkan dengan sangat indah oleh Umar bin Khattab Ra. Dalam al-Mushannaf (19/76) karya Ibnu Abi Syaibah:

إِنَّا قَوْمٌ ‌أَعَزَّنَا ‌اللَّهُ ‌بِالْإِسْلَامِ، فَلَنْ نَلْتَمِسَ الْعِزَّ بِغَيْرِهِ

“Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka kami tidak akan mencari kemuliaan dengan selainnya.” (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:HeadlinePerang Salibukhuwah Islamiyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kuburan Palsu Yahudi Masjidil Aqsha Dibuka Kembali setelah 6 Pekan Ditutup Israel
Tulisan selanjutnya Survei Terbaru: Mayoritas Warga Amerika Tak Lagi Dukung Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual

Berita
4 Oktober 2026 21:12
Menteri Ekstremis ‘Israel’ Pimpin Gerombolan Pemukim Yahudi Serbu Masjid Ibrahimi
Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf
Ateis dan Mitos Kecerdasan: Membedah Cacat Logika dalam Gagasan Ketiadaan Tuhan
Kopilot Pelaku Serangan di Pesawat Flydubai Tujuan Tel Aviv Pernah Dilarang Terbang di Oman

Terbaru

  • Sekitar 2.200 Kerabat Terduga Petempur ISIS Masih Ditahan Pasukan Kurdi Suriah
  • KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
  • Bentuk Kantor Urusan Keagamaan, Menhan AS Kaitkan Perang Fisik dengan Pertempuran Spiritual
  • Menteri PertahananAS Kutip Alkitab dan Serukan Perang terhadap “Kaum Islamis”
  • Aljazair Berlakukan Hukuman Mati Bagi Arsonis Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan
  • Intelijen Maroko Dituding Mematai Jurnalis dan Aktivis HAM
  • Amerika Serikat Usir Dua Diplomat Iran Usai Sidang Majelis Umum PBB
  • Lima Orang Didakwa di Prancis Terkait Pendanaan Hamas
  • Amerika Serikat Umumkan Kontrak $24,4 Miliar untuk Mempercepat Produksi Rudal
  • Dua Pria Iran Didakwa Berencana Serang Yahudi Manchester

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?