Hidayatullah.com– Aliansi politik Syiah Iraq, Al-Ithar At-Tansiqiy (Coordination Framework), mengajukan nama Bassem al-Badry sebagai calonnya yang akan menduduki kursi perdana menteri. Demikian dikatakan blok politik itu dalam sebuah pernyataan hari Senin (20/4/2026).
Nama al-Badri dimunculkan setelah prospek mantan perdana menteri Nouri al-Maliki untuk menjabat kembali pudar. Pada bulan Januari, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghentikan dukungannya untuk Iraq apabila al-Maliki kembali memimpin pemerintahan Baghdad.
Ancaman itu membuat Coordination Framework, aliansi Syiah yang anggotanya memiliki keterkaitan dalam level berbeda-beda dengan Iran yang sebelumnya sudah sepakat untuk mengangkat al-Maliki, harus mencari kandidat pengganti, lansir Al Arabiya.
Secara konvensi sejak runtuhnya rezim Saddam Hussein, jabatan perdana menteri atau kepala pemerintahan Iraq menjadi porsi politik untuk kalangan Syiah, ketua atau juru bicara parlemen diberikan kepada kalangan Muslim (Sunni), sementara jabatan kepala negara atau presiden diberikan kepada kalangan Kurdi.
Parlemen Iraq pada hari Sabtu 11 April telah memilih politisi Kurdi Nizar Amedi sebagai presiden baru negara itu, peran politik yang sebagian besar hanya bersifat seremonial.*




