Hidayatullah.com – Turki dilaporkan telah menolak pesawat Presiden Israel mengakses wilayah udaranya. Hal itu membuat pesawat yang ditumpangi Isaac Herzog melewati rute lebih panjang ke Kazakhstan.
Menurut situs penerbangan HavasosyalMedya pada Selasa, pesawat tersebut sedang dalam perjalanan ke Astana, ibu kota Kazakhstan, ketika ditolak masuk ke wilayah udara Turki.
Jalur penerbangan awal dilaporkan melewati Turki, Armenia, dan Azerbaijan. Setelah ditolak masuk ke wilayah udara Turki, pesawat tersebut dialihkan melalui Eropa dan Rusia, memperpanjang perjalanan dari Tel Aviv ke Astana menjadi sekitar delapan jam.
Menurut sumber diplomatik di Ankara yang dikutip oleh RIA Novosti, wilayah udara Turki tetap tertutup bagi pejabat Israel dan pesawat yang membawa senjata.
Namun, wilayah udara tersebut tetap terbuka untuk penerbangan komersial yang dioperasikan oleh maskapai penerbangan negara ketiga, sementara maskapai penerbangan Israel diizinkan untuk transit dengan kondisi tertentu.
Turki telah mempertahankan hubungan penerbangan dan diplomatik yang terbatas dengan Israel setelah eskalasi perang di Gaza. Komunikasi resmi antara kedua negara dilaporkan terbatas pada saluran koordinasi keamanan darurat.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan pada 18 April bahwa Israel tidak mengejar keamanannya sendiri, melainkan berupaya merebut lebih banyak wilayah.
Berbicara di Forum Diplomasi Antalya, Fidan mengatakan, “Israel tidak mengejar keamanannya sendiri. Israel menginginkan lebih banyak tanah. Keamanan digunakan oleh pemerintah Netanyahu sebagai alasan untuk menduduki lebih banyak tanah.”*




