Hidayatullah.com– Warga Palestina berlari di bagian tengah wilayah Gaza hari Jumat (8/5/2026) dalam acara Palestine International Marathon edisi ke sepuluh, yang menurut panitia diikuti oleh sekitar 1.900 orang.
Lomba lari itu, yang digelar setelah vakum 2 tahun akibat perang, diikuti juga oleh orang-orang yang kehilangan anggota tubuhnya serta mereka yang terluka selama konflik.
Aed al-Khatib, seorang korban perang yang kehilangan anggota tubuhnya, mengaku baru pertama ikut serta dalam maraton itu sejak terluka.”Saya pemain sepakbola sebelum terluka … kemudian musibah itu datang, tetapi alhamdulilah, saya tidak berhenti bermimpi,” ujarnya, menunjukkan kegembiraannya bisa mengikuti maraton tersebut.
Pemenang lomba, Khalil al-Tharabin, menyambut baik diselenggarakannya kembali maraton itu, sementara anggota panitia, Hassan al-Ra’i mengatakan anak-anak Gaza “berhak untuk hidup dan memiliki harapan”.
Lomba lari maraton di Gaza itu diselenggarakan bersamaan dengan maraton di kota Bethlehem (Bait Lahim) di Tepi Barat.Di kota yang terletak di wilayah Palestina yang dijajah Zionis Israel itu jumlah pesertanya melebihi 13.000, termasuk 2.523 pelari di Gaza dan sekitar 1.000 peserta asing, kata pihak penyelenggara seperti dilansir Al Arabiya.
Lomba tersebut diberi tema “Right to Movement” sebagai seruan supaya rakyat Palestina diberi kebebasan bergerak ke berbagai kota di negerinya – yang sebagian besar dijajah dan dikuasai oleh Zionis.
Dinding-dinding pembatas dan pos-pos pemeriksaan yang dibuat oleh tentara Israel sejak lama menghambat aktivitas kehidupan harian bagi hampir tiga juta orang Palestina di Tepi Barat.
Dinding pembatas dan pos pemeriksaan jumlahnya semakin bertambah banyak sejak awal perang Gaza Oktober 2023, sehingga desa-desa dan kota-kota kecil dalam keadaan seperti “pengepungan permanen”.*




