Hidayatullah.com – Rabu, 10 Juni lalu, usai menunaikan shalat Ashar, puluhan santri Yayasan Pondok Pesantren Masyarakat Cibuntu berkumpul di sebuah gazebo. Ceria. Senyum mereka merekah, sehangat cahaya senja yang mulai menguning di ufuk barat.
Sore itu menjadi momen istimewa. Para santri menerima mushaf al-Qur’an dan buku Iqro’ baru yang disalurkan oleh Yayasan Wakaf Al-Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH).
Kehadiran wakaf tersebut membawa kebahagiaan tersendiri, sekaligus menambah semangat mereka dalam belajar dan mendalami al-Qur’an.
“Alhmadulillah, terima kasih atas buku iqro’-nya,” kata Elrangga Pratama, kelas 5 SD, dengan senyum bahagia.
“Al-Qur’annya sangat bermanfaat untuk kami,” timpal Sintia Rahmayanti, kelas 6 SD. Matanya berbinar, memancarkan rasa syukur dan kegembiraan.
Pesantren yang berlokasi di Dusun Secatuhu, RT. 002, RW. 001, Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu dibawah asuhan Ustadz Siddiq Junihardin.
Siddiq ditugaskan oleh Persaudaraan Da’i Indonesia (PosDa’i) Hidayatullah Ciomas, Bogor, guna berdakwah di Cibuntu. Ia menyampaikan ungkapan terima kasih, “Jazakallah khairan katsiran atas pemberian al-Qur’an dan buku Iqro’nya untuk para santri,” ujarnya penuh rasa syukur.
Menurutnya, bantuan itu sangat berarti dalam mendukung kegiatan belajar mengajar al-Qur’an sekaligus menumbuhkan semangat para santri untuk terus mengaji dan mendalami ajaran Islam.
“Semoga pahala mengalir kepada para pewakaf dan pembaca majalah Suara Hidayatullah,” imbuh pria kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara ini seraya memanjatkan doa.
Siddiq mengabdikan hidupnya untuk berdakwah dan pembinaan umat. Ia mengajar mengaji para santri TPQ, serta mengisi pengajian bada Shubuh di mushala maupun masjid yang ada di sekitar Cibuntu.
Cibuntu merupakan sebuah desa kecil yang berada di kaki Gunung Ciremai. Dikelilingi alam yang asri. Udaranya sejuk. Desa ini dikenal dengan julukan “Desa Mengaji”. Harapannya, masyarakat gemar membaca al-Qur’an di rumah-rumah, serta menghadiri majelis taklim di masjid maupun mushala.
“Yuk, berwakaf al-Qur’an maupun buku Iqro’. Karena masih banyak masyarakat di pelosok negeri ini yang bersemangat belajar ilmu agama, namun kekurangan sarana dan prasarananya,” ungkap M Azmi, sekretaris YAWASH.*




