Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Iptekes

Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

Ahmad
Terakhir diupdate: 7 Juli 2026 23:14 11:14 pm
Ahmad
Dipublikasikan 8 Juli 2026 08:09
Bagikan
Bagikan

Memasang tato sama halnya pertempuran seluler seumur hidup di mana sistem imun terus-menerus mengepung. Riset menemukan pemilik tato menghadapi risiko hingga hampir 3 kali lipat lebih tinggi terkena kanker kulit dan kanker limfoma

Hidayatullah.com | BAGI banyak orang, tato adalah bentuk ekspresi diri, karya seni visual, atau cara mengabadikan memori secara permanen di atas tubuh. Namun, di balik keindahan visualnya, dunia kedokteran melihat tato sebagai sebuah fenomena biologis yang luar biasa: sebuah kondisi siaga satu sekaligus medan perang abadi antara sistem kekebalan tubuh manusia dan zat asing.

Selama bertahun-tahun, ilmuwan meyakini bahwa tato bersifat permanen karena tinta disuntikkan ke dalam sel kulit yang berumur panjang. Teori lama ini akhirnya dipatahkan oleh sebuah riset revolusioner yang dipublikasikan di jurnal Journal of Experimental Medicine (JEM) pada tahun 2018.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Anna Baranska dari Center of Immunology Marseille-Luminy (CIML), Prancis, melakukan eksperimen menggunakan model tikus untuk melacak dinamika sel imun terhadap pigmen tato.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa tinta tato bertahan bukan karena sel kulit atau sel imunnya hidup selamanya. Rahasianya terletak pada siklus capture-release-recapture (tangkap-lepas-tangkap).

Baca Juga

UNICEF: Anak-Anak Gunakan AI 3 Kali Lipat Lebih Banyak Dibanding Orang Dewasa
Pakar Bilang Suplemen Harian Lebih Banyak Bahaya Dibandingkan Manfaat
Ketika Gelar Sarjana Tak Lagi Menjamin Masa Depan: Gen Z Mulai Ragu Nilai Kuliah
Jumlah Kasus Penyakit Menular Seksual di Eropa Pada 2024 Mencatat Rekor
Belajar di Waktu Subuh Terbukti Tingkatkan Kinerja Otak dan Daya Ingat

Ketika jarum menusuk kulit, sel darah putih yang disebut makrofag bergegas datang dan menelan partikel tinta karena dianggap sebagai ancaman. Saat makrofag tersebut mati secara alami, mereka melepaskan kembali tinta tersebut ke jaringan kulit.

Sebelum tinta sempat bergeser atau dibuang, generasi makrofag baru langsung datang dan memakan kembali tinta yang terlepas di lokasi yang sama. Proses ini berulang terus-menerus selama bertahun-tahun. Sistem imun kita tidak pernah berhenti berperang; mereka terjebak dalam siklus abadi untuk menahan kepungan tinta tato tersebut.

Tato Tidak Aman dan Berdampak Sistemik

Banyak orang mengira dampak tato hanya berada di area kulit yang digambar. Sayangnya, realitas biologis menunjukkan bahwa efek tato bersifat sistemik, artinya dampaknya menyebar ke seluruh tubuh. Masalah utamanya terletak pada bahan baku tinta itu sendiri.

Tinta tato bukanlah kosmetik biasa yang ramah bagi jaringan tubuh. Banyak pigmen yang digunakan saat ini sebenarnya diproduksi untuk keperluan industri, seperti cat mobil, plastik, dan tinta printer.

Kandungan di dalamnya mencakup logam berat beracun seperti nikel, kromium, kobalt, timbal, dan kadmium. Tinta juga mengandung senyawa organik berbahaya seperti azo dyes (pewarna azo) dan polycyclic aromatic hydrocarbons atau PAH (hidrokarbon aromatik polisiklik) yang dikenal memicu kanker.

Tinta berwarna—terutama merah, kuning, dan oranye—menjadi yang paling sering memicu reaksi alergi kronis dan pembentukan granuloma, yaitu benjolan jaringan akibat peradangan.

Lebih jauh lagi, partikel tinta ini tidak menetap di kulit. Partikel berukuran sangat kecil sering kali lolos dari kepungan makrofag kulit, lalu bermigrasi melalui pembuluh limfatik dan menumpuk secara permanen di kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening berfungsi sebagai benteng pertahanan utama imun tubuh. Akibat migrasi ini, kelenjar getah bening orang yang bertato sering kali berubah warna sesuai tinta tato mereka.

Sebuah artikel ilmiah yang ditulis oleh Anggi M. Lubis (Chief Editor The Conversation) pada Desember 2025 menyoroti bagaimana akumulasi pigmen ini mengacaukan respons tubuh. Berdasarkan riset yang diulasnya, tinta tato yang ditelan oleh sel imun dapat memicu sinyal konstan yang menjaga sistem imun tetap aktif secara agresif.

Kondisi ini menyebabkan peradangan di kelenjar getah bening terdekat hingga dua bulan. Bahkan, riset tersebut menemukan bahwa keberadaan tinta tato di dekat area suntikan medis dapat mengganggu sistem komunikasi kimiawi sel imun atau immune signaling.

Dampak yang cukup mengkhawatirkan adalah terjadinya penurunan respons imun tubuh terhadap vaksin tertentu, salah satunya adalah vaksin COVID-19.

“Tato memperkenalkan zat ke dalam tubuh yang tidak pernah dirancang untuk tinggal jangka panjang di jaringan manusia… Beban kimia total ini meningkat seiring tato yang semakin besar, banyak, dan berwarna.” — Anggi M. Lubis, The Conversation (2025)

Risiko Kanker dan Autoimun Nyata

Hubungan antara tato dengan penyakit berat seperti kanker dan gangguan autoimun kini semakin diperkuat oleh data-data medis terbaru. Ketika tubuh dipaksa berada dalam kondisi peradangan kronis jangka panjang untuk menahan tinta, risiko kerusakan genetik dan gangguan regulasi imun akan meningkat.

Sebuah studi ilmiah yang ditulis oleh jurnalis kesehatan Jesse Pines di majalah Forbes pada Juni 2025 memaparkan temuan yang signifikan.

Berdasarkan studi kohort kembar di Denmark pada tahun 2025, ditemukan fakta bahwa orang yang memiliki tato berukuran besar menghadapi risiko hingga hampir 3 kali lipat lebih tinggi untuk terkena kanker kulit dan kanker limfoma (kanker kelenjar getah bening). Mengingat kanker membutuhkan waktu dekade untuk berkembang, studi ini menjadi salah satu peringatan dini yang paling kuat bagi dunia medis.

Selain kanker, tato juga bertindak sebagai pemicu penyakit autoimun. Berdasarkan tinjauan medis yang dipublikasikan dalam The Journal of Medicine (Januari 2024) oleh Beatrice Bălăceanu-Gurău beserta timnya, tato kosmetik dan rias permanen kerap memicu munculnya penyakit autoimun seperti psoriasis, lupus, dan sarkoidosis.

Hal ini terjadi melalui efek yang disebut Koebner phenomenon (fenomena Koebner)—yaitu kondisi di mana penyakit kulit autoimun muncul dan menyebar di area yang mengalami trauma atau luka, dalam hal ini akibat tusukan jarum tato.

Tidak hanya itu, area kulit yang ditato dapat berubah menjadi immunocompromised districts (distrik gangguan imun lokal). Ini adalah area yang mengalami kekacauan regulasi imun, sehingga membuatnya sangat rentan terhadap infeksi virus jangka panjang seperti kutil dan molluscum contagiosum (infeksi virus yang menyebabkan bintil kubah pada kulit) yang bisa muncul berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun setelah proses penatoan selesai.

Tato juga menciptakan kendala besar bagi diagnosis kanker. Pigmen tinta yang gelap dan padat sering kali menutupi perkembangan awal tumor ganas seperti melanoma (kanker kulit mematikan). Dokter akan kesulitan mengevaluasi tahi lalat atau lesi mencurigakan yang berada di bawah lapisan tinta tato.

“Sangat direkomendasikan bagi individu untuk melakukan konsultasi dermatologi sebelum mendapatkan tato, mencakup penilaian komprehensif terhadap penyakit kulit terkait dan komorbiditas (penyakit penyerta)… karena tidak jarang reaksi kulit terhadap tato menjadi presentasi awal dari penyakit autoimun yang mendasarinya.” — Beatrice Bălăceanu-Gurău dkk., The Journal of Medicine (2024)

Penghapusan Tato Jauh Lebih Rumit dari Mencegahnya

Banyak orang yang membuat tato di usia muda berakhir dengan penyesalan di kemudian hari akibat perubahan gaya hidup, tuntutan profesi, atau alasan pribadi. Namun, anggapan bahwa tato mudah dihapus berkat teknologi laser modern adalah sebuah kekeliruan besar. Faktanya, menghapus tato jauh lebih sulit, menyakitkan, mahal, dan menyimpan bahaya kesehatan yang tersembunyi.

Jesse Pines dalam artikelnya di Forbes menjelaskan bahwa proses penghapusan tato berukuran besar membutuhkan biaya yang sangat fantastis, bisa mencapai 5.000 hingga 10.000 dolar AS (sekitar 75 juta hingga 150 juta rupiah), serta memerlukan belasan sesi laser yang menyakitkan tanpa jaminan pigmen bisa hilang total.

Secara biologis, komplikasi penghapusan laser justru bisa memperparah peradangan di dalam tubuh. Cara kerja laser adalah menembakkan energi tinggi untuk memecah partikel tinta yang besar di dalam makrofag kulit menjadi serpihan-serpihan kecil agar bisa dialirkan ke pembuluh limfatik.

Namun, proses pemecahan ini memicu pelepasan racun dan produk sampingan berbahaya ke aliran darah yang sebelumnya terisolasi di dalam sel kulit. Tinta berbasis pewarna azo, misalnya, ketika ditembak laser akan terdegradasi menjadi senyawa kimia bernama aromatic amines (amina aromatik) yang merupakan zat karsinogenik kuat dan dapat merusak genetika sel.

Akibatnya, pasien yang menjalani penghapusan tato kerap mengalami reaksi alergi baru, pembentukan jaringan parut permanen (keloid), serta perubahan pigmentasi kulit yang parah.

Siklus tangkap-lepas-tangkap yang ditemukan dalam jurnal JEM 2018 juga menjadi alasan mengapa tato sangat sulit dihapus. Begitu laser menghancurkan sel makrofag lama dan memecah tinta, sel-sel makrofag baru dari aliran darah akan langsung menyerbu area tersebut untuk memakan kembali serpihan tinta sebelum sempat dibuang oleh sistem pembuangan tubuh.

“Penghapusan tato dapat menyebabkan skar (jaringan parut), diskolorasi kulit (perubahan warna), dan reaksi alergi. Perawatan laser bahkan dapat memicu gejala alergi atau sistemik yang sebelumnya tidak ada, terutama ketika partikel pigmen dipecah dan masuk ke dalam aliran darah.” — Jesse Pines, Forbes (2025).

Kesimpulannya, tato bukanlah sekadar gambar diam yang melekat di permukaan kulit Anda. Di tingkat seluler, tubuh Anda menganggapnya sebagai invasi zat asing berskala besar yang harus dilawan tanpa henti seumur hidup. Mengingat regulasi tinta tato yang masih longgar secara global dan risiko penyakit sistemik yang nyata, keputusan untuk mengukir tubuh harus dipikirkan secara matang. Mencegah dampak buruknya jauh lebih mudah daripada mencoba menghentikan perang imun yang telanjur terjadi di bawah kulit Anda.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinekanker kulitkanker limfomaPilihan Redaksisistem imuntatotatoo
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
Tulisan selanjutnya PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ormas Islam Tolak Kehadiran PM India ke Indonesia, Soroti Dugaan Pelanggaran HAM terhadap Muslim

Berita
6 Juli 2026 20:46
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
UNESCO Mengakui Dondang Sayang hingga Silat sebagai Warisan Budaya Malaysia
Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato

Terbaru

  • PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
  • Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
  • Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
  • Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
  • Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
  • Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
  • Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki
  • Ledakan di Damaskus Dekat Hotel Presiden Prancis Menginap,18 Orang Terluka
  • Analisa Israel: Iran dan Hizbullah Tidak Bantu Hamas Lancarkan Operasi Thufan Al-Aqsha
  • 30 Tahun Menyalahgunakan Kekuasaan Pejabat China Diganjar Hukuman Mati

Mungkin Anda Juga Suka

Iptekes

Pembuat Jutaan iPhone Malah Malah Melarang Main HP Berlebihan karena Bahaya

26 Maret 2026 08:30
Iptekes

Kecenderungan Beragama Generasi Z Meningkat, Ini Temuan Peneliti

2 Maret 2026 16:00
vape covid
Iptekes

Otoritas Kesehatan Prancis Peringatkan Risiko Vape Bagi Kesehatan

13 Februari 2026 20:11
Iptekes

Satu dari Tiga Orang Belanda Tidak Sadar Dirinya Diabetes

12 Februari 2026 18:16
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?