“Majalah dan buku-buku digelari di atas sebuah meja yang hanya berukuran 0,5 m… Ia tidak merasa sepi. Selalu ‘dihibur’ suara hingar-bingar kendaraan… Dan buku-buku atau majalah tidak dibiarkan ‘diam’. Ia saban waktu membuka ‘dialog’ dengan para penulis atau pengarang, biar cuma dengan pikiran-pikiran yang tertulis di dalamnya.” (Panjimas, 1979)
Hidayatullah.com | KISAH kemerdekaan negeri ini tidak hanya diukir oleh nama-nama besar yang terpahat di monumen sejarah, tetapi juga oleh ribuan sosok bersahaja yang memilih bergerak di balik layar. Salah satu dari perintis sunyi itu adalah Chumam Dasuki (Baca: majalah Panjimas No. 279, XXI 1979), seorang veteran perang yang lahir pada tahun 1921. Di masa muda yang bergolak antara tahun 1945 hingga 1947, Chumam memanggul senjata di bawah panji barisan Hisbullah dan unit TNI wilayah Yogyakarta.
Dalam pusaran medan gerilya tersebut, ia berjuang bahu-membahu di bawah komando resimen yang saat itu dipimpin oleh Soeharto; sosok yang belakangan menjadi Presiden Republik Indonesia. Namun, ketika gelora perang usai dan kedaulatan negara berhasil dipertahankan pada tahun 1948, Chumam memilih menanggalkan status keprajuritannya secara wajar. Tanpa menuntut keistimewaan atau panggung kehormatan, ia menyerap makna perjuangan sebagai pengabdian hidup yang terus berlanjut dalam kesederhanaan.
Pergulatan Hidup dan Langkah Merantau
Demi menopang kehidupan keluarganya, Chumam memulainya dari bawah. Pada tahun 1952, ia menyambut program transmigrasi ke Lampung bersama istrinya, Nyai Badawi. Di sana, ia mengolah sepetak tanah seluas satu hektar dan membangun kediaman sederhana di atas lahan setengah hektar. Selama bertahun-tahun, cucuran keringatnya menyirami ladang padi demi menghidupi keluarga.
Seiring berjalannya waktu, tenaga fisiknya tak lagi sama. Ketika memasuki dekade 1962 dan usianya menginjak kepala lima, produktivitas lahan pertaniannya merosot tajam. Sadar akan keterbatasan fisik untuk pekerjaan kasar di ladang, Chumam menyerahkan pengelolaan lahan dan rumah di Lampung kepada dua puteranya, Fatchurrahman dan Ahmad Fadil. Ia menyimpan tekad baru: merantau demi mengumpulkan modal modal hidup agar kelak bisa kembali dan menetap di tanah kelahirannya, Jawa.
Setelah sempat mencoba peruntungan yang belum membuahkan hasil di Yogyakarta, langkah kakinya berlabuh di riuk pikuk Jakarta pada Juni 1976. Tanpa mengandalkan kemewahan, ia menumpang sementara di kediaman keponakannya, Mursalih, di kawasan Jakarta Selatan.
Menjaga Martabat dan Menemukan Panggilan Literasi
Setibanya di ibu kota, Chumam menunjukkan ketangguhan mental seorang veteran. Ia tidak gengsi melakoni pekerjaan apa pun selama halal. Perjalanan kerjanya dimulai dari lantai Masjid Istiqlal, tempat ia mengabdi sebagai petugas kebersihan selama satu setengah bulan dengan penghasilan yang sangat bersahaja.
Dari sela-sela aktivitasnya di lingkungan masjid, Chumam membangun jejaring sosial yang membawanya pada babak baru kehidupannya di sekitar Masjid Agung Al-Azhar. Di sinilah ia menemukan ruang pengabdian baru yang mengubah jalannya: menjadi penjaja bacaan keagamaan dan buku-buku bekas.
Di pinggir Jalan Sisingamangaraja, beralaskan meja kayu sederhana berukuran setengah meter di dekat halte bus, Chumam menggelar pelitanya. Lapak kecil itu bukan sekadar tempat mengadu nasib mencari rezeki harian, melainkan manifestasi dari perannya sebagai pelestari literasi. Di tengah deru kendaraan dan debu jalanan Jakarta, ia menawarkan lembaran-lembaran ilmu:
Di balik meja kayu sederhananya, Chumam Dasuki menjajakan ragam koleksi bacaan mulai dari buku keagamaan, panduan doa, majalah, hingga karya-karya pemikiran Islam. Seluruh pasokan bahan bacaan tersebut ia kumpulkan secara tekun dari penerbit Yayasan Nurul Islam, toko-toko buku di kawasan Tanah Abang seperti Toko Buku Alaydrus, serta bantuan jaringan kolega-kolega lamanya.
Menariknya, lebih dari sekadar menjual, Chumam adalah seorang pembaca kritis yang menaruh kecintaan mendalam pada ilmu; di sela-sela menanti pembeli, ia kerap terlihat khusyuk melahap buku-buku pemikiran berat karya tokoh ternama seperti Prof. Dr. Rasyidi dan Dr. Soedibyo Markoes sebagai jalannya berdialog dengan para pemikir sekaligus menjaga ketajaman akalnya.
Kehadiran putera bungsunya, Ahmad Fadil, yang menyusul ke Jakarta untuk membantu menjaga lapak secara bergantian, menjadi penopang spiritual sekaligus bukti kehangatan keluarga yang saling menopang di tengah ketatnya persaingan ibu kota.
Meski haknya sebagai veteran baru diakui secara administratif pada tahun 1977 dan proses pengurusan tunjangan pensiunnya baru berjalan pada pertengahan 1979, Chumam tak pernah menggantungkan nasibnya pada bantuan semata. Menunggu pencairan tunjangan yang memakan waktu berbulan-bulan disikapinya dengan tenang sembari terus setia berdiri di samping meja buku kecilnya.
Dari hasil menjual bacaan, ia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari bersama puteranya, tetapi juga terus memutar modal untuk memborong buku-buku baru. Chumam Dasuki membuktikan bahwa jiwa pejuang tidak pernah purna tugas.
Jika di masa muda ia berjuang mempertahankan kedaulatan fisik bangsa dengan senjata, di masa tuanya ia berjuang merawat kecerdasan dan spiritualitas masyarakat melalui lembaran buku. Ia adalah keteladanan nyata tentang bagaimana seorang pejuang di balik layar menjaga kehormatan diri dan berkontribusi nyata sebagai pelestari literasi hingga akhir hayatnya.
Jejak langkahnya dalam merawat literasi mengingatkan penulis pada quote menarik dari Khalifah Umar bin Khattab Ra., “Ikatlah nikmat dengan syukur, dan ilmu dengan tulisan (kitab). Ilmu itu bagaikan buruan, dan tulisan adalah ikatannya … ikatlah hasil buruanmu dengan tali yang kokoh.” (Shafiyuddin al-Halbi, Uns al-Masjun wa Raahatu al-Masjuun, 1997: 33). Dengan berjualan buku, membacanya dan memudahkan orang mengakses literasi, maka Chumam Dasuki layak menjadi bagian dari pengikat ilmu dengan kitab dan pengikat buruan dengan tali kokoh. Rahimahullah rahmatan waasi’ah. (MBS)




