Hidayatullah.com— Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan untuk “berkontribusi” dalam upaya-upaya keamanan Amerika Serikat di Selat Hormuz, yang kemungkinan juga termasuk pengerahan militer, tetapi menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada keputusan yang dibuat.
Presiden AS Donald Trump berulang kali menekan negara sekutu Korea Selatan untuk memberikan bantuan dalam perang yang dilakoninya di Timur Tengah, mengatakan bahwa Seoul menolak permintaannya untuk membantu mengamankan jalur maritim yang sangat penting bagi pasokan minyak dan gas dunia itu.
“Kontribusi terhadap Selat Hormuz dapat dilakukan dalam batasan yang tidak membahayakan kesiapan militer,” kata seorang pejabat kantor kepresidenan Korea Selatan kepada awak media hari Jumat (4/9/2026) seperti dilansir AFP.
Kantor kepresidenan menambahkan dalam pernyataan terpisah bahwa “referensi yang dibuat saat penjelasan pers hari ini mengenai kontribusi militer — seperti partisipasi tempur, non-tempur, dan operasi pencarian — semata-mata sekedar contoh berbagai opsi.”
“Mohon diingat bahwa belum ada keputusan terkait kontribusi sesungguhnya,” imbuh pernyataan tersebut.
Pernyataan itu dirilis setelah sehari sebelumnya lembaga penyiaran lokal JTBC melaporkan bahwa pemerintah Korea Selatan “bermaksud untuk” mengerahkan pasukan ke Selat Hormuz dan sedang mengkajinya sebelum diajukan ke parlemen untuk mendapatkan persetujuan.
Sementara SBS melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan pesawat patroli maritim, kapal pendukung logistik angkatan laut, dan tim penjinak bahan peledak (EOD).
Pesawat patroli maritim itu akan ditugaskan untuk memantau kapal-kapal selam dan kapal permukaan milik pihak-pihak yang berpotensi menjadi ancaman, lapor SBS, mengutip seorang pejabat militer senior.
Tim EOD diharapkan dapat melakukan operasi gabungan dengan pasukan angkatan laut asing jika dikerahkan, imbuhnya.
Trump kesulitan mendapatkan bantuan dari sekutu-sekutunya dalam perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran enam bulan lalu dan sejak itu menemui jalan buntu.*




