Hidayatullah.com—Ketahanan sebuah peradaban tidak ditentukan oleh kemajuan ekonomi atau teknologi semata, tetapi oleh kokohnya institusi keluarga. Karena itu, membangun masyarakat yang beradab tidak dapat dimulai dari kebijakan negara saja, melainkan harus berawal dari rumah, tempat karakter pertama kali dibentuk.
“Kalau kita ingin membangun peradaban, sebetulnya dari mana memulai membangun peradaban tersebut? Apakah langsung pada ranah politik, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya? Ataukah justru dari institusi terkecil dalam kehidupan manusia, yaitu keluarga,” demikian disampaikan Guru Besar Filsafat Islam dilakukan di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, di dalam agenda tahunan INSISTS Camp 2026 Batch 3 di Aula Villa Robinson Cisarua Resort, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Menurutnya, salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari peradaban modern adalah rapuhnya institusi keluarga ketika agama tidak lagi menjadi landasan kehidupan. Ia mencontohkan pengalamannya saat tinggal di Inggris.
Di lingkungan tempat tinggalnya, seorang perempuan lanjut usia hidup seorang diri tanpa ditemani anak-anaknya. Ketika ditanya kapan anak-anaknya datang berkunjung, perempuan itu menjawab bahwa mereka biasanya hanya menelepon pada saat Natal.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) ini, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan material tidak selalu diiringi dengan kuatnya ikatan keluarga.
Ia menilai, Islam menawarkan konsep yang berbeda. Keluarga bukan hanya tempat memenuhi kebutuhan biologis atau ekonomi, melainkan lembaga pendidikan pertama yang bertugas menanamkan iman, adab, dan tanggung jawab.
Hubungan ayah, ibu, dan anak dibangun di atas amanah, sehingga setiap anggota keluarga memiliki peran yang saling melengkapi dalam membentuk generasi berikutnya.
Menurut pria yang meraih doktor bidang pemikirran di ISTAC – IIUM, Malaysia ini, pendidikan karakter tidak lahir dari ceramah yang panjang, tetapi melalui pembiasaan yang dilakukan setiap hari.
Kebiasaan sederhana di rumah menjadi sarana membangun disiplin, tanggung jawab, kepedulian, dan etos kerja yang akan melekat hingga dewasa.
Sebagai contoh, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor ini mengutip hasil penelitian Harvard University yang menunjukkan bahwa anak-anak yang sejak kecil dibiasakan mengerjakan pekerjaan rumah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, bertanggung jawab, dan berhasil dalam kehidupannya.
Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa karakter dibangun melalui kebiasaan yang terus diulang. Karena itu, ia mengajukan pertanyaan sederhana, “Kalau orang terbiasa menyapu rumah, kenapa tidak bisa terbiasa shalat?”
Menurut alumni University of Birmingham, Inggris ini, jika kebiasaan mengerjakan pekerjaan rumah dapat membentuk karakter, maka pembiasaan ibadah sejak dini juga akan menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketaatan kepada Allah.
Ia juga menceritakan proses seleksi pegawai di sebuah perusahaan yang tidak hanya menguji kemampuan akademik pelamar. Sebelum memasuki ruang wawancara, para peserta melewati lorong yang sengaja dibuat berantakan.
Tempat sampah dibiarkan terbalik, sampah berserakan, dan pintu kamar mandi terbuka. Hampir semua peserta mengabaikannya. Namun, seorang pelamar berhenti untuk memungut sampah, membenahi tempat sampah, dan menutup pintu kamar mandi sebelum masuk ke ruang wawancara.
“Begitu dia masuk ruangan, dia tidak ditanya apa-apa. ‘Anda diterima sebagai pegawai.’ Karena Anda tahu apa yang harus Anda kerjakan ketika ada sesuatu yang tidak betul.”
Bagi Prof. Hamid, kisah tersebut memperlihatkan bahwa karakter merupakan hasil dari kebiasaan yang terus dilatih, bukan sesuatu yang muncul secara spontan. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memberi nasihat, tetapi harus menghadirkan lingkungan yang membiasakan anak melakukan kebaikan.
“Kalau orang terbiasa menyapu rumah, kenapa tidak bisa terbiasa shalat?”
Ia menegaskan bahwa amal saleh juga harus dibangun melalui pembiasaan. Membiasakan anak mengucapkan salam, menghormati orang tua, membaca Al-Qur’an, menjaga kebersihan, membantu pekerjaan rumah, hingga menjaga waktu shalat merupakan proses pendidikan yang berlangsung setiap hari.
Dengan pembiasaan itulah keluarga menjalankan fungsinya sebagai sekolah pertama yang melahirkan generasi berkarakter dan menjadi fondasi bagi tegaknya sebuah peradaban.
“Bukan memaksa anak begitu dia sudah besar. Tanggung jawab kita adalah membiasakan anak,” ujar penulis buku “Misykat: Refleksi tentang Islam, Westernisasi dan Liberalisas” (2012).
Krisis Peradaban Berawal dari Terputusnya Ilmu dan Amal
Ia juga menyinggung bahwa krisis yang dihadapi masyarakat modern bukan semata persoalan ekonomi, politik, atau teknologi. Di balik berbagai persoalan moral yang mengemuka, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni terputusnya hubungan antara ilmu, keyakinan, dan amal.
Ia menyinggung berbagai paradoks muncul termasuk adanya masyarakat yang tampak religius, tetapi belum mampu menghadirkan nilai agama dalam perilaku sehari-hari.
Ia menyoroti paradoks yang terjadi di Indonesia. Berbagai survei menunjukkan Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat religius. Namun, pada saat yang sama, masyarakat masih dihadapkan pada persoalan korupsi, rendahnya etika di ruang digital, hingga berbagai penyimpangan moral.
Baginya, kondisi itu menunjukkan bahwa religiusitas sering kali hanya dipahami dari sisi sosiologis, bukan dari sejauh mana agama membentuk karakter manusia.
“Salahnya adalah kata religiusitas itu hanya dilihat secara sosiologis.”
Prof. Hamid kemudian mengajak peserta melihat pengalaman peradaban Barat. Kemajuan sains, teknologi, pendidikan, dan riset memang melahirkan berbagai pencapaian besar, tetapi tidak selalu diikuti dengan ketahanan moral maupun keluarga.
Ia mencontohkan kehidupan masyarakat Barat yang semakin individualistis, hubungan anak dan orang tua yang renggang, hingga keluarga yang kehilangan fungsi sebagai tempat pembentukan nilai.
“Kita kadang-kadang terkesima dengan kemajuan Barat. Barat yang teknologinya bagus, pendidikannya maju, risetnya luar biasa, melupakan esensi dari peradaban Barat.”
Menurutnya, kemajuan tanpa agama hanya akan menghasilkan peradaban yang kehilangan arah. Karena itu, pembahasan tentang keluarga tidak dapat dipisahkan dari pembahasan tentang peradaban. Keluarga menjadi titik awal lahirnya manusia yang mampu menyatukan ilmu, iman, dan amal dalam kehidupan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam agenda tahunan “INSISTS Camp 2026 Batch 3” yang mengusung tema “Bina Ketahanan Keluarga untuk Generasi Berdaya” di Aula Villa Robinson Cisarua Resort, Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) sebuah lembaga pemikiran berkantor di Jakarta yang berlangsung selama tiga hari.
Acara diikuti 84 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, terdiri atas pasangan keluarga maupun peserta yang belum menikah. Selain Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi, hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Syamsuddin Arif, Assoc. Prof. Dr. Ugi Suharto, Dr. Nirwan Syafrin Manurung, Dr. Henri Shalahuddin, Dr Wido Supraha, Dr. Akmal Sjafril, dan Arif Afandi Zarkasyi, M.A.*




