Hidayatullah.com– Perusahaan manager aset terbesar dunia milik pengusaha Yahudi Amerika, Balackstone, akan membuka kantor di Kuwait.
Blackstone mengumumumkan rencana itu pada hari Senin 24 Juli melalui Kuwait Direct Investment Promotion Authority (KDIPA), lapor Al Arabiya (27/7/2026).
Presiden Blackstone Jon Gray mengatakan Kuwait memiliki sumber daya, visi dan kepemimpinan untuk menjadi pusat finansial dan komersial penting di kawasan Timur Tengah.
“Modal swasta dapat memainkan peran penting dalam mendukung diversifikasi ekonomi jangka panjang negara itu dan kami bermaksud memperdalam kemintraan yang sudah terjalin hampir empat dekade lamanya,” kata Gray.
Sementara itu Direktur Jenderal KDIPA Sheikh Meshall Al-Sabah mengatakan langka Balckstone itu mencerminkan kepercayaan terhadap Kuwait. “Hal itu memperkuat posisi Kuwait sebagai tujuan untuk investasi dan perkembangan berkelanjutan,” ujarnya.
Kantor Blackstone di Kuwait itu dijadwalkan akan dibuka pada kuartal ketiga tahun ini.
Perusahaan asal Amerika Serikat itu juga bermaksud membuka kantor di negara-negara Teluk dalam beberapa tahun ke depan.
Mengutip sumber-sumber yang mengetahui perihal rencana itu, Reuters pekan lalu melaporkan bahwa Blackstone berencan untuk membuka kantor di Dubai’s International Financial Center (DIFC).
Blackstone Inc. merupakan perusahaan manajemen aset dan investasi yang berbasis di 345 Park Avenue New York City, Amerika Serikat. Perusahaan itu didirikan pada 1985 sebagai hasil merger dan akuisisi perusahaan milik mendiang Peter Peterson dan Stephen Schwarzman, yang sebelumnya sama-sama bekerja di Lehman Brothers. Per September 2025, Blackstone dilaporkan memiliki total aset $1,2 triliun sehingga menjadikannya sebagai firma investasi alternatif terbesar dunia.
Stephen Allen Schwarzman, kelahiran 1947, merupakan pengusaha Amerika keturunan Yahudi. Menurut laporan Forbes, dia memiliki kekayaan sekitar US$50 miliar per awal 2026.
Blackstone dalam perjalanannya menimbulkan beberapa kontroversi besar.
Motel 6, penginapan yang dimiliki Blackstone, pernah didugat pada 2018 dan 2019 karena membocorkan data tamu yang menginap ditempatnya kepada US Immigration and Customs Enforcement (ICE) tanpa izin dari pengadilan. Sebagaimana diketahui aparat ICE gencar melakukan penangkapan terhadap pendatang asing dan bahkan tidak sungkan melakukan tindak kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang saat menjalankan tugas.
Pada tahun 2020, Blackstone menguasai saham mayoritas situs web Ancestry.com, yang mengontrol akses ke jutaan data genetik atau DNA milik orang dari berbagai belahan dunia. Kepemilikan andil Blackstone terhadap platform daring itu menimbulkan kecemasan di banyak pihak karena perusahaan itu dikenal tidak cakap menjaga data rahasia.
Perusahaan itu juga diketahui mempekerjakan anak sebagai buruh. Sebuah investigasi oleh Departemen Ketenagakerjaan AS menemukan bahwa lebih dari 100 anak Amerika dipekerjakan secara ilegal di Packers Sanitation Services Inc. (PSSI), sebuah rumah jagal milik Blackstone. Investigasi dimulai setelah seorang guru di sekolah menengah Walnut di Grand Island, Nebraska, melaporkan tentang adanya seorang siswa yang mengalami luka bakar akibat hydrochloric acid pada bagian tangan dan kaki ke Departemen Ketenagakerjaan. PSSI akhirnya dikenai denda total $1,5 juta dalam gugatan perdata dalam kasus itu.
Blackstone juga diketah berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengan komersialisasi dan penggundulan hutan Amazon di Amerika Selatan.*




