Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 1 Agustus 2026 11:24 11:24 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 1 Agustus 2026 11:24
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ahmad Rohim

Hidayatullah.com – Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah shalat, puasa, zakat, atau haji. Wahyu pertama yang diturunkan Allah adalah perintah membaca: “Iqra’” (Bacalah). Fakta ini menunjukkan bahwa membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan fondasi peradaban Islam. Membaca adalah pintu ilmu, dan ilmu adalah jalan menuju kemuliaan umat.

Namun, di tengah perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, budaya membaca di kalangan umat Islam menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Informasi memang semakin mudah diperoleh, tetapi kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya tradisi membaca yang mendalam.

Banyak orang lebih terbiasa melihat potongan video pendek, ringkasan instan, atau kutipan singkat daripada membaca buku, artikel, dan karya ilmiah secara utuh.

Baca Juga

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam
Hubungan Agama dan Sains
Al-Qur’an, Ulama, dan Lembaga Pendidikan Islam: Kompas Peradaban di Tengah Disrupsi Zaman

Akibatnya, kemampuan berpikir kritis, memahami persoalan secara komprehensif, dan membangun kedalaman ilmu perlahan mengalami kemunduran. Fenomena ini perlu menjadi perhatian serius karena peradaban besar tidak pernah lahir dari masyarakat yang malas membaca.

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kejayaan peradaban Islam pada masa klasik tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dibangun oleh generasi yang mencintai ilmu dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup. Para ulama menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk membaca, menelaah, menghafal, menulis, dan berdiskusi.

Imam An-Nawawi dikenal hampir tidak pernah menyia-nyiakan waktunya tanpa belajar. Imam Al-Ghazali menulis puluhan karya besar yang hingga kini menjadi rujukan dunia Islam. Ibnu Khaldun melahirkan teori sosial yang jauh mendahului zamannya. Semua itu berawal dari tradisi membaca yang kuat dan berkelanjutan.

Peradaban Islam pernah memiliki ribuan perpustakaan besar. Di kota-kota seperti Baghdad, Damaskus, dan Kairo, buku menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Ilmu pengetahuan berkembang karena budaya membaca tumbuh menjadi tradisi sosial, bukan hanya aktivitas individu.

Saat ini, tantangan yang dihadapi umat bukan lagi kelangkaan bahan bacaan, melainkan banjir informasi yang sering kali mengalihkan perhatian dari bacaan yang bermutu. Banyak orang merasa telah mengetahui sesuatu hanya karena melihat potongan informasi di media sosial. Padahal pengetahuan yang dangkal tidak cukup untuk menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.

Budaya instan ini berpotensi melahirkan generasi yang cepat berpendapat tetapi lambat memahami. Mereka mudah berbicara, tetapi kurang memiliki landasan ilmu yang kuat. Dalam konteks dakwah, kondisi ini dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran agama, penyebaran informasi yang tidak akurat, dan melemahnya otoritas keilmuan.

Menghidupkan kembali budaya membaca harus dimulai dari kesadaran bahwa membaca adalah ibadah mulia dan utama. Ketika seorang Muslim membaca Al-Qur’an, kitab tafsir, buku ilmu pengetahuan, atau karya yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat, ia sedang menjalankan salah satu bentuk ibadah, pengabdian dirinya kepada Allah. Membaca bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi bagian dari upaya memakmurkan akal yang telah dianugerahkan Allah.

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membangun budaya membaca. Anak-anak tidak akan mencintai buku jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang tidak menghargai ilmu. Rumah yang dipenuhi buku akan lebih mudah melahirkan generasi pembelajar dibanding rumah yang hanya dipenuhi hiburan digital. Keteladanan orang tua menjadi faktor yang sangat menentukan.

Lembaga pendidikan Islam juga perlu mengembalikan semangat literasi sebagai budaya utama. Pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Islam tidak cukup hanya mengajarkan materi pelajaran. Mereka harus menumbuhkan kecintaan terhadap membaca, menulis, dan berdiskusi ilmiah. Semangat iqra’ harus menjadi ruh pendidikan Islam.

Di sisi lain, para dai, guru, dan penyuluh agama perlu menjadi teladan dalam budaya literasi. Dakwah yang berkualitas lahir dari keluasan wawasan dan kedalaman ilmu. Semakin luas bacaan seorang pendakwah, semakin kaya pula perspektif, hikmah dan kebijaksanaan yang dapat disampaikan kepada masyarakat.

Teknologi sebenarnya tidak harus dipandang sebagai musuh budaya membaca. Justru teknologi dapat menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan. Buku digital, perpustakaan daring, jurnal elektronik, dan platform pembelajaran dapat dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi literasi umat. Yang diperlukan adalah kemampuan mengendalikan teknologi agar menjadi alat pembelajaran, menggali hikmah bukan sekadar alat hiburan.

Menghidupkan budaya membaca juga berarti membangun kembali peradaban ilmu. Umat yang gemar membaca akan melahirkan pemikir, ulama, peneliti, guru, penulis, dan pemimpin yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan zaman. Sebaliknya, umat yang menjauh dari budaya membaca akan mudah dipengaruhi, kehilangan daya kritis, dan tertinggal dalam persaingan global.

Pada akhirnya, kebangkitan umat Islam tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan literasi. Wahyu pertama yang berbunyi iqra’ sesungguhnya bukan hanya perintah membaca teks, tetapi juga perintah membaca kehidupan, membaca sejarah, membaca alam semesta, membaca dan menggali tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Jika umat Islam ingin kembali menjadi pelopor peradaban, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah menghidupkan kembali budaya membaca. Sebab dari membaca lahir ilmu, dari ilmu lahir kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan lahirlah peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a‘lam.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:budaya membacabukudakwahliterasi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Blackstone Inc perusahaan manager aset dan investasi terbesar dunia milik pengusaha Yahudi Amerika. Blackstone akan Buka Kantor di Kuwait

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Rakerwil Pemuda Hidayatullah DKI Jakarta Bahas Penguatan Peran Pemuda sebagai Penggerak Bangsa

Berita
26 Juli 2026 20:35
Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’
Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
Tunjukkan Sikap Pro-Palestina di Panggung Singapura Larang Massive Attack Tampil
Survei: Hampir Separuh Warga AS Dukung Penangkapan Netanyahu

Terbaru

  • Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam
  • Blackstone akan Buka Kantor di Kuwait
  • Tunjukkan Sikap Pro-Palestina di Panggung Singapura Larang Massive Attack Tampil
  • Serangan Udara Saudi ke Iraq Menarget Milisi Pro-Iran, Bukan Negara Iraq
  • Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad
  • Hackney London Mulai Akhiri Hubungan Kota Kembar dengan Haifa ‘Israel’
  • Apa itu Project Panama? Mengapa Anthropic Menghancurkan Buku-Buku Langka Demi Melatih AI
  • Netanyahu Yakin Pasukan Elite ‘Israel’ akan Membebaskannya Jika Ditahan di Luar Negeri
  • Setelah Palestina, Kini Suriah Jadi Sasaran Pencurian Tanah Pemukim Yahudi ‘Israel’
  • Amankan Laut Merah dari Houthi, Arab Saudi Galang Koalisi Internasional

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Amerika dan Perang Salib Baru?

6 Juli 2026 10:19
Mimbar

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin

3 Juli 2026 11:27
Opini

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran

2 Juli 2026 12:14
Ghazwul FikrKajian

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu

26 Juni 2026 11:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?