Hidayatullah.com – Diskursus politik merupakan kebutuhan mendasar manusia. Hal ini karena politik tidak bisa dilepaskan dari seluruh elemen dan rangkaian kehidupan manusia, bangsa dan negara.
“Demikian pun Hidayatullah memaknai politik. Dengan jaringan yang telah tersedia, Hidayatullah tidak boleh melepaskan diri dari sejarah bangsa, termasuk dalam hal politik, meski politik tak berarti harus kita maknai secara praktis (meraih kekuasaan),” terang Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, dalam sambutan Diskusi Politik bersama pakar politik tanah air, Chusnul Mariyah, Ph.D yang digelar di Gedung Dakwah Hidayatullah Jakarta (14/9/26).
Senada dengan paparan itu, Ibu Chusnul menjelaskan bahwa Islam dan politik merupakan satu kesatuan.
“Jadi kalau ada orang bilang jangan bawa-bawa agama dalam politik. Itu ungkapan orang yang tidak mengenal politik secara mendalam terutama dari sisi sejarah dan konsep Islam maupun peradaban,” tegasnya.
“Bahkan sebagai umat Islam, kita mesti punya konsep ‘Politic with Tauhid’. Karena ada politik liberal, politik atheis, sambungnya.
Namun bagaimana memperjuangkan Islam sebagai sistem politik umat Islam harus mengenal agamanya dengan baik dan mendalam.
“Kita bahkan harus bisa merebut tafsir narasi di negeri ini. Seperti tafsir politik, partai politik, kekuasaan yang Pancasilais itu seperti apa. Karena kalau tafsir baik kalah dengan tafsir yang tidak baik, maka politik diisi oleh orang-orang yang tidak baik,” ungkapnya.
Diskusi politik berlangsung selama dua jam dengan sesi diskusi yang sangat hangat dan mencerahkan. “Kalau soal pemilu itu very-very technical, kita bisa bahas di lain kesempatan,” tutur wanita yang pernah menjadi Anggota KPU di 2001-2007 itu yang disambut tawa hadirin dan hadirat.*/Herim




