Hidayatullah.com – Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa Pakta Pertahanan Bersama Mekkah sebagai inisiatif penting yang dilakukan oleh Turki, Arab Saudi, dan Pakistan untuk menunjukkan solidaritas di seluruh dunia Islam.
Hal tersebut disampaikannya saat berpidato pada acara pemuda Youth Meetings di Samsun, Turki.
Tanda Persatuan
Dalam pidatonya, Erdogan mengatakan bahwa kesepakatan yang ditandatangani bulan lalu itu merupakan pesan yang jelas bagi masyarakat Muslim.
“Arab Saudi, Pakistan, dan Turki telah mengambil langkah. Melalui langkah ini, mari kita kirimkan sinyal kepada dunia Islam. Ada perkembangan positif,” ujarnya.
Presiden Turki sejak 2014 itu menegaskan bahwa negaranya memandang kesepakatan ini sebagai bagian dari strategi untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi negara-negara Muslim. Ia memperingatkan bahwa berbagai persoalan yang melanda dunia Islam menuntut perhatian dari kekuatan-kekuatan besar.
Baca juga: Bagaimana Pakta Pertahanan Mekkah Bisa Mengubah Peta Ekonomi Timur Tengah?
Peran Turki
Erdogan menegaskan kembali komitmen Turki untuk memimpin upaya dalam mengatasi tantangan-tantangan dunia Islam.
“Turki berpendapat bahwa kita harus segera mengatasi kesulitan yang dihadapi dunia Islam. Untuk mengatasinya, Turki telah mengerahkan dukungannya bagi kawasan ini,” ungkapnya.
Ia menganggap isu dunia Islam di kawasan adalah hal yang penting dan akan terus memperluas hubungan pertahanan dengan Pakistan dan Arab Saudi. “Kita tidak boleh menganggap remeh masalah ini,” tegasnya.
Pada awal Agustus, Turki, Arab Saudi dan Pakistan menandatangani Mecca Joint Defence Agreement (Pakta Pertahanan Makkah) dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) trilateral di Istana Al-Safa, Makkah.
Perjanjian yang diteken Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif itu menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu negara anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.*
Baca juga: Inilah Lima Poin Utama Pakta Pertahanan Mekkah antara Turki-Arab Saudi dan Pakistan




