Hidayatullah.com—Ekspor kendaraan truk listrik buatan China ke negara-negara Asia terdongkrak naik, karena harga bahan bakar minyak meroket akibat perang Iran sehingga banyak konsumen melirik kendaraan listrik.
Dalam empat bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari, ekspor truk listrik berat China meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 16.823 kendaraan. Setengahnya dikirim ke Asia Selatan dan Asia Tenggara, dengan pengiriman ke Asia Selatan meningkat lebih dari lima kali lipat dan ke Asia Tenggara naik hampir tiga kali lipat, lapor Reuters Ahad (16/8/2026).
Asia Selatan dan Asia Tenggara sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu lonjakan harga solar terbesar, menurut GlobalPetrolPrices.com, menciptakan peluang bagi China untuk menjadi produsen truk listrik terbesar dunia.
Truk listrik di China berkembang dari hampir nol pada tahun 2021 menjadi 30% dari penjualan kendaraan jenis truk tahun lalu, dengan 140.000 truk listrik terjual pada paruh pertama tahun ini. Penggunaan diesel di negeri panda itu mulai menurun tahun lalu.
“Perang telah membuka pintu bagi pasar-pasar baru ini,” kata Zhaoting Yue, wakil presiden pemasaran internasional di Sany, produsen truk berat listrik terbesar di dunia.
Sany sebelumnya fokus pada Eropa tetapi kini beralih ke Asia Tenggara dan mengembangkan model yang lebih murah, kata Yue kepada Reuters.
Pada bulan Juni, perusahaan tersebut mengirimkan pesanan tunggal terbesarnya — 880 truk berat — kata Yue, tanpa bersedia untuk menyebutkan ke mana tujuannya karena kontrak tersebut bersifat tertutup.
“Sebelum harga minyak naik, pembeli di negara-negara ini mungkin membutuhkan waktu 28 bulan untuk mengembalikan investasi mereka pada truk berat listrik,” kata Yue. “Sekarang, hanya butuh 18 bulan.”
Sany memperkirakan perang akan memicu pertumbuhan pesat setidaknya selama tahun depan, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.*




