Hidayatullah.com – Gembong Zionis Benjamin Netanyahu kembali menggunakan taktik lamanya untuk mempertahankan kekuasaan dengan menampilkan wajah para pemimpin Muslim pada baliho pemilu ‘Israel’. Hal itu dilakukan Netanyahu untuk menakut-nakuti masyarakat ‘Israel’ agar tetap mendukungnya.
Melansir Quds News Network pada Senin (17/08/2026), partai Likud yang dipimpin Netanyahu memasang baliho kampanye pada Ahad yang menampilkan Walikota New York Zohran Mamdani, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan pemimpin Hizbullah Naim Qassem.
“Mereka ingin Netanyahu kalah,” bunyi tulisan di bagian atas baliho tersebut. “Jangan biarkan mereka menang,” bunyi tulisan di bagian bawah.
Netanyahu, yang icari atas tuduhan kejahatan perang berdasarkan surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional, dengan bangganya mengunggah foto reklame kampanye tersebut di media sosial X, sebelumnya Twitter.
Papan reklame itu memberi pesan bahwa seorang walikota Muslim di New York, pemimpin dua negara berdaulat dan pemimpin gerakan perlawanan dianggap sebagai musuh bagi ‘Israel’. Setiap warga ‘Israel’ yang tidak memilih Netanyahu berarti memihak pada mereka.
Bagi umat Muslim dan warga Palestina, reklame kampanye jelas-jelas menyingkap ideologi yang menjadi dasar pemerintahan Netanyahu—sebuah pemerintahan yang dipimpin oleh kelompok fanatik yang secara terbuka memusuhi Arab, Muslim maupun Kristen.
Para menteri Zionis seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich membangun karier mereka di atas seruan untuk mengusir warga Palestina, menyerbu Masjidil Aqsha, dan melakukan pembersihan etnis di Gaza. Sementara itu, para pemukim yang berada di bawah perlindungan mereka menyerang warga Muslim dan Kristen Palestina serta menodai tempat-tempat suci mereka.
Kampanye yang menggambarkan para pemimpin Muslim sebagai ancaman eksistensial bukanlah hal baru bagi pemerintahan ini, melainkan cerminan dari pandangan dunia mereka, di mana Muslim dan orang Arab dipandang sebagai musuh yang harus ditakuti dan dikalahkan.
aktik ini pun bukan hal baru. Netanyahu pernah meluncurkan iklan yang nyaris serupa dalam kampanyenya tahun 2019—yang menyasar empat jurnalis Israel yang kritis terhadapnya—dan telah lama membangun citra diri dengan menampilkan sikap tegas terhadap musuh dari luar.
Kini, menjelang pemilihan umum pada 27 Oktober dan dengan posisi partai Likud-nya yang tertinggal dari partai berhaluan tengah pimpinan Gadi Eisenkot dalam berbagai jajak pendapat, Netanyahu kembali memanfaatkan rasa takut. Kali ini, ia menjadikan wajah-wajah Muslim dan tokoh-tokoh pendukung solidaritas Palestina sebagai alat penakut demi mendongkrak kampanye yang tengah goyah akibat rekam jejaknya sendiri.
Baca juga: Baliho Berbahasa Ibrani Mewabah, ‘Israel’ Kuasai Siprus?




