Hidayatullah.com – Semakin banyak orang ‘Israel’ yang pergi meninggalkan wilayah penjajahan Palestina dan tidak kembali. Tren itu terungkap dalam laporan resmi yang diterbitkan Knesset, parlemen ‘Israel’, lansir Yedioth Ahronoth pada Senin (17/08/2026).
“Gelombang permusuhan terhadap Israel di dunia dan rasa memiliki [terhadap tanah air] sebenarnya bisa saja mendorong peningkatan jumlah warga Israel yang kembali, terlepas dari adanya perang,” lapor surat kabar tersebut mengutip laporan Pusat Penelitian dan Informasi Knesset.
“Pada tahun 2022-2024, terjadi penurunan drastis sebesar 53% dalam jumlah penduduk yang kembali,” tulis Yedioth Ahronot menyoroti laporan Knesset tersebut. Laporan tersebut tidak membahas proporsi orang ‘Israel’ yang kembali pada tahun 2025.
Penurunan jumlah orang ‘Israel’ yang kembali, imbuh Yedioth, dibarengi dengan peningkatan jumlah orang ‘Israel’ yang meninggalkan wilayah penjajahan.
Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa rata-rata jumlah tahunan warga Israel yang kembali ke tanah air mencapai sekitar 9.300 orang pada periode 2008 hingga 2012, sebelum turun menjadi sekitar 7.400 orang pada periode 2013 hingga 2020.
“Terjadi penurunan tajam dalam jumlah warga yang kembali, dari sekitar 8.000 orang pada tahun 2020 menjadi sekitar 3.800 orang pada tahun 2024—angka terendah dalam beberapa tahun terakhir,” menurut laporan tersebut.
Surat kabar itu menyebut penurunan paling tajam terjadi pada tahun 2023, namun tidak disebutkan rincian lebih lanjut.
Penurunan angka kepulangan ini juga berkontribusi pada defisit neraca migrasi ‘Israel’ antara tahun 2022 dan 2024, yang mengukur selisih antara jumlah orang yang masuk dan keluar dari negara tersebut.
Berdasarkan data Biro Pusat Statistik yang dikutip dalam laporan itu, ‘Israel’ mencatat defisit migrasi sekitar 140.000 orang selama tiga tahun tersebut.
Surat kabar itu menyebutkan bahwa Amerika Utara selama ini menyumbang jumlah terbesar warga ‘Israel’ yang kembali, namun angka kepulangan dari wilayah tersebut juga telah menurun drastis.
Sekitar separuh dari seluruh warga yang kembali antara tahun 2005 dan 2024 berasal dari Amerika Utara, sementara 13% lainnya kembali dari Inggris, Jerman, dan Prancis, serta 6% dari Rusia dan Ukraina.
Jumlah warga yang kembali dari AS turun secara signifikan, dari sekitar 3.700 orang pada tahun 2020 menjadi hanya 1.500 orang pada tahun 2024.
“Proporsi penduduk yang kembali dari Rusia dan Ukraina meningkat signifikan pada tahun 2022, mencapai 9% dari Ukraina dan 8% dari Rusia dari total warga yang kembali; hal ini tampaknya disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina,” tulis surat kabar tersebut.*




