Hidayatullah.com— Haiti hari Ahad (20/9/2026) mengekstradisi 18 orang tersangka kasus pembunuhan presiden Haiti Jovenel Moise ke Amerika Serikat.
Moise ditembak mati di rumah pribadinya di ibu kota Port-au-Prince pada bulan Juli 2021 oleh sekelompok orang bersenjata yang kebanyakan merupakan tentara bayaran asal Kolombia.
Proses penyelidikan kasus tersebut yang dilakukan oleh aparat Haiti mengalami banyak kendala disebabkan kekacauan hukum dan maraknya geng-geng kriminal bersenjata di negeri itu.
Ekstradisi merupakan langkah besar dalam upaya menyeret para pelaku pembunuhan itu ke pengadilan, kata Jason Reding Quiñones, kepala kejaksaan wilayah Southern District di Florida lewat platform X seperti dilansir BBC hari Senin (21/9/2026).
“Lima tahun kemudian, kami masih membawa para tersangka ke hadapan pengadilan-pengadilan di Amerika [Serikat], dan kami masih belum selesai,” imbuh Quiñones.
Sejauh ini 30 tersangka sudah ditetapkan sebagai terdakwa.Pihak kejaksaan Amerika Serikat menduga perencanaan dan pembiayaan pembunuhan Moise dirancang di wilayah Florida, Amerika Serikat, di negara Republik Dominika dan di Haiti sendiri.
Disebabkan buruknya sistem peradilan di Haiti, tanggung jawab menjadi berpindah ke pundak jaksa AS untuk membawa para tahanan ke Florida supaya kasus tersebut bisa diadili di negara bagian AS itu.
Banyak warga Haiti terkejut karena pemimpin berusia 53 tahun itu bisa dibunuh dengan sangat mudah.
Mereka yang diekstradisi hari Ahad itu terdiri dari 17 bekas tentara Kolombia dan Joseph Badio, seorang pejabat senior yang kala itu bekerja di unit anti korupsi di Kementerian Kehakiman Haiti.Sebuah perusahaan keamanan berbasis di Miami, Amerika Serikat, dituduh memainkan peran penting dalam menyewa para bekas tentara Kolombia tersebut.
“Penangkapan internasional dan di sejumlah lokasi hari ini menegaskan komitmen berkesinambungan FBI untuk menyeret semua pihak yang terlibat dalam kasus ini ke pengadilan,” kata agen khusus FBI Brett Skiles lewat platform X.
Para pria itu, yang dijerat berbagai dakwaan termasuk konspirasi untuk membunuh atau menculik Moise dan konspirasi untuk memberikan dukungan material terhadap upaya tersebut, terancam hukuman penjara seumur hidup.
Para bekas tentara Kolombia itu mengklaim sebagai tentara bayaran yang diyakinkan bahwa mereka terlibat dalam suatu kudeta dan mereka tidak mengetahui bahwa tujuan dari aksi mereka adalah untuk membunuh Moise.
Beberapa orang yang diduga berkaitan dengan pembunuhan Moise ditembak mati oleh aparat kepolisian kala itu. Empat orang divonis bersalah di pengadilan Miami pada bulan Mei atas andil mereka dalam konspirasi tersebut, yang menurut jaksa sejak lama direncanakan dan dibiayai di Miami, serta Republik Dominika.*




