Hidayatullah.com – Kompleks Imam Al-Bukhari kembali dibuka untuk publik setelah renovasi besar-besaran. Kompleks ini merupakan lokasi makam Imam Al-Bukhari, ulama penyusun kitab Sahih al-Bukhari, kumpulan hadits paling otentik.
Lahir di wilayah yang kini menjadi bagian dari Uzbekistan, Imam Bukhari melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia Islam untuk mengumpulkan dan memverifikasi secara cermat ucapan serta perbuatan Nabi Muhammad ﷺ, meninggalkan warisan yang tidak berhenti menjadi pedoman bagi umat Islam bahkan lebih dari 1.200 tahun kemudian.
Kompleks Imam Al-Bukhari yagn baru kini dilengkapi dengan masjid yang mampu menampung 10.000 jemaah, empat menara tinggi, 14 kubah berwarna biru, serta sebuah museum yang mengisahkan kehidupan Imam Bukhari dan kontribusinya dalam keilmuan Islam.
Di kompleks seluas 45 hektar tidak hanya terdapat masjid dan makam Imam Al-Bukhari saja, namun juga terdapat sejumlah gedung administrasi dan sebuah iwan (serambi terbuka beratap kubah) yang ditopang oleh 154 pilar.
Jika kompleks lama mampu menampung hingga 12 ribu pengunjung, renovasi baru ini memungkinkan hingga 65 ribu pengunjung setiap hari. Masjidnya sendiri mampu sendiri dapat menampung 10.000 jamaah , sementara area pelataran dapat menampung antara 35.000 hingga 40.000 orang selama acara keagamaan besar, seperti shalat Id.
Sebuah museum dengan sembilan paviliun telah dibangun sebagai bagian dari kompleks ini. Museum tersebut menampilkan riwayat hidup dan karya Imam al-Bukhari serta menjelaskan proses pengumpulan dan pencatatan hadis. Pameran ini juga mencakup materi mengenai para nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an, serta informasi sejarah terkait kehidupan Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah.
Fasilitas yang dirancang untuk menampung banyak pengunjung
Menurut Sahobiddin Arzikulov, Direktur Departemen kompleks tersebut, proyek ini dibangun dengan menggunakan standar konstruksi terkini. Ia menegaskan bahwa fasilitas-fasilitasnya dirancang untuk mengakomodasi jumlah pengunjung yang besar, dengan area khusus untuk beribadah dan layanan pendukung.
Fasilitas wudhu telah disediakan baik untuk perempuan maupun laki-laki, serta dirancang untuk melayani arus pengunjung yang padat. Layanan pemandu juga telah disiapkan untuk mengatur alur peziarah dan memberikan informasi mengenai situs tersebut.
Material konstruksi didatangkan dari berbagai negara. Batu yang digunakan pada bagian eksterior didatangkan dari Turki, Yunani, Italia, dan Tiongkok, sementara bagian makam menampilkan batu alam yang dikerjakan oleh perajin dari India. Secara keseluruhan, delapan belas jenis batu—termasuk marmer dan granit—digunakan di seluruh area situs.
Saat mendeskripsikan kompleks ini, para pengunjung kerap menyoroti material dan detail konstruksinya.
Salah seorang pengunjung asal Turki, Abidin Ozkul, yang bekerja di industri marmer, mengatakan bahwa kualitas pengerjaan batu di seluruh situs ini sangat terlihat jelas dan mencerminkan penggunaan material impor serta keahlian pengerjaan yang khusus.
Pengunjung lainnya, Havva Nur—juga dari Turki—mengomentari suasana kompleks tersebut dan kesesuaiannya sebagai tempat yang didedikasikan untuk Imam al-Bukhari.
Hubungan Indonesia-Uzbekistan
Pada 10 September 2026, Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf dan delegasinya sempat bersilaturahmi dengan Muslim Board of Uzbekistan di Taskent dan membahas potensi kerja sama wisata religi, termasuk kompleks Imam Al-Bukhari.
Dalam pertemuan itu Muslim Board of Uzbekistan berharap hubungan kedua negara semakin dekat dan hangat. Mereka juga menyampaikan kesiapan untuk terus menerima masyarakat Indonesia yang ingin berkunjung dan berziarah ke Uzbekistan.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengunjungi kompleks Imam Al-Bukhari, yang menjadi salah satu simbol kedekatan kedua negara. Kunjungan ke kompleks tersebut juga dilakukan putri Soekarno, Megawati pada 20 September 2024.




