Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak

Mahmud
Terakhir diupdate: 31 Oktober 2026 20:28 8:28 pm
Mahmud
Dipublikasikan 31 Oktober 2026 20:28
Bagikan
Bagikan

Sepintar dan setinggi apa pun gelar seseorang, tidak akan ada artinya jika tidak bersendikan akhlak mulia. Tidak mengherankan jika diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlak.

Hidayatullah.com | GELAR akademik mentereng, tingginya angka Intelligence Quotient (IQ), serta ketajaman logika oleh kebanyakan orang kerap dijadikan satu-satunya standar keberhasilan seseorang. Padahal, kenyataan di lapangan berulang kali menampar logika tersebut.

Silakan dibaca berita-berita kriminal dan penyelewengan wewenang ―seperti kasus-kasus korupsi berbelit hingga tindakan pembunuhan berdarah dingin yang sempat menggegerkan wilayah Madiun dan sekitarnya― justru kerap melibatkan individu-individu yang dikabarkan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Ketika seseorang ber-IQ tinggi kehilangan kompas moral, kecerdasannya tidak lantas padam; ia justru bermutasi menjadi instrumen kejahatan yang terencana, rapi, dan sistematis. Otak yang brilian digunakan untuk menyamarkan alibi, memanipulasi hukum, atau menyembunyikan aliran dana haram. Tragedi moral ini membuktikan adagium lama yang pernah disampaiakan filsuf Renaisans Prancis, François Rabelais, “Ilmu pengetahuan tanpa hati nurani hanyalah kehancuran jiwa dan raga.”

Dalam khazanah literatur Islam klasik, korelasi antara kecerdasan dan keluhuran budi pekerti bukanlah wacana pelengkap, melainkan poros utama. Di dalam kitab “Shifat ash-Shafwah”, Al-Imam Ibnul Jauzi mendokumentasikan bagaimana generasi salaf memandang ilmu bukan sekadar timbunan data kognitif, melainkan cahaya ketakwaan yang menjelma menjadi benteng akhlak.

Baca Juga

Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menegaskan betapa berbahayanya ilmu yang tidak dipadukan dengan kesantunan jiwa (hilm):

مَا جُمِعَ شَيْءٌ إِلَى شَيْءٍ أَحْسَنَ مِنْ حِلْمٍ إِلَى عِلْمٍ

“Tidaklah dua perkara digabungkan satu sama lain yang lebih indah daripada perpaduan antara sifat santun dengan ilmu.”

Ilmu pengetahuan adalah instrumen daya (power), sedangkan kesantunan dan akhlak adalah rem yang menjaga agar daya tersebut tidak menjelma menjadi kezaliman. Jika orang tua modern hanya berfokus membiayai les akademik anak tanpa menanamkan adab, maka ia telah melewatkan warisan yang paling esensial:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَالِدًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik.”

Salah satu potret paling tajam mengenai orientasi belajar terekam dalam kisah ibunda Sufyan ats-Tsauri. Saat sang anak hendak berangkat menuntut ilmu, sang ibu bekerja membanting tulang memintal benang demi membiayai keperluannya. Namun, di balik pengorbanan material tersebut, sang ibu menetapkan parameter evaluasi yang sangat ketat. Waki’ mengisahkan:

قَالَتْ أُمُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ لِسُفْيَانَ: يَا بُنَيَّ اطْلُبِ الْعِلْمَ وَأَنَا أَكْفِيكَ بِمِغْزَلِي، وَقَالَتْ لَهُ: يَا بُنَيَّ إِذَا كَتَبْتَ عَشَرَةَ أَحْرُفٍ فَانْظُرْ هَلْ تَرَى نَفْسَكَ زِيَادَةً فِي مَشْيِكَ وَحِلْمِكَ وَوَقَارِكَ، فَإِنْ لَمْ يَزِدْكَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ.

“Ibunda Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Sufyan: ‘Wahai anakku, carilah ilmu dan aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.’ Beliau juga berpesan kepadanya: ‘Wahai anakku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf (kalimat ilmu), perhatikanlah apakah engkau melihat dirimu bertambah baik dalam caramu melangkah, bertambah sifat santunmu (hilm), dan bertambah ketenangan/kewibawaanmu (waqar). Jika ia tidak menambah hal itu padamu, ketahuilah bahwa catatan itu tidak membahayakanmu dan tidak pula memberimu manfaat’.”  

Nasihat ini menjadi tamparan keras bagi peradaban hari ini. Sering kali manusia bangga saat indeks pemahaman dan pengetahuannya melesat, tetapi tidak pernah mengevaluasi apakah cara ia memperlakukan orang lain menjadi lebih santun, atau justru semakin arogan dan culas. Jika ilmu tidak melembutkan hati, ia hanya akan menjadi racun batin.

Kecerdasan sering kali menipu pandangan mata. Seseorang bisa tampak sangat bijak saat menyusun narasi atau merancang strategi, namun bobrok dalam praktik integritas. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu tidak pernah silau oleh hafalan atau kecakapan bicara seseorang sebelum melihat bagaimana adab kesehariannya.

Ibrahim an-Nakha’i mengisahkan prinsip para salaf ketika hendak menimba ilmu:

كَانُوا إِذَا أَتَوُا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ نَظَرُوا إِلَى صَلَاتِهِ، وَإِلَى هَدْيِهِ، وَإِلَى سَمْتِهِ.

“Dahulu mereka (para salaf) apabila mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya, mereka memperhatikan terlebih dahulu bagaimana shalatnya, perilakunya, serta budi pekerti dan adabnya (samt).” (Jilid II, hlm. 50)

Adab mendahului ilmu. Seseorang tidak diposisikan sebagai panutan hanya karena ia pandai mendebat atau memiliki logika yang canggih; yang dinilai pertama kali adalah keselarasan antara keyakinan dan tingkah lakunya.

Hal ini selaras dengan penjelasan tabi’in terkemuka, Masruq, mengenai batas pembeda antara kepintaran hakiki dan kebodohan batin:

بِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْجَهْلِ أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ، وَبِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْعِلْمِ أَنْ يَخْشَى اللهَ.

“Cukuplah bagi seorang mukmin dianggap bodoh bila ia merasa ujub (bangga diri) dengan amalnya, dan cukuplah bagi seorang mukmin dianggap berilmu bila ia memiliki rasa takut kepada Allah.”

Fenomena koruptor berdasi dan pelaku kejahatan berdarah dingin yang berotak encer harus menjadi lonceng peringatan bagi keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Mengasah otak tanpa mendidik hati ibarat memberikan senjata tajam kepada orang gila; kehancuran yang ditimbulkannya tinggal menunggu waktu.

Ilmu pengetahuan yang sejati bukanlah instrumen untuk mengelabui hukum atau menindas mereka yang lemah. Ilmu adalah lentera yang menuntun pemiliknya untuk semakin berhati-hati dalam setiap desah napas dan langkahnya. Pintar itu penting, namun bersendi akhlak adalah mutlak. Tanpa fondasi moral dan rasa takut kepada Sang Pencipta, tingginya IQ hanya akan menjadi pintu masuk menuju jurang kehinaan kemanusiaan. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akhlak muliaIlimu dan Akhlak
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Parlemen Turki Setujui RUU Ratifikasi Pakta Pertahanan Mekkah

Berita
29 Oktober 2026 14:54
Buya Hamka, Tontonan Penuh Tuntunan
LPPOM Sebut Penundaan Wajib Halal 2028 Realistis bagi UMK
Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi

Terbaru

  • Pintar Saja Tidak Cukup, Ilmu Harus Bersendi Akhlak
  • Korea Selatan Pidanakan Siswa yang Curang dengan Kacamata Pintar
  • Tersangka Penembakan di Pinggiran Paris Menarget Orang Berpenampakan Muslim atau Afrika
  • Akademisi Swedia Dilarang Masuk Inggris Jelang Penampilan Bersama Pendiri Palestine Action
  • LPH Hidayatullah Sambangi BPJPH, Bahas Penguatan Regulasi, Kompetensi dan Integritas Auditor
  • Madinah dan Istana Kepresidenan Yaman Jadi Target Serangan Houthi
  • Tolak Konser Andrea Bocelli di Indonesia, UBN: Jangan Beri Panggung Pendukung Genosida
  • Meretas untuk Kepentingan Rezim Assad Pria Suriah Divonis 42 Bulan Penjara
  • Pengembangan AI Membuat Investor Alphabet, Amazon, dan Microsoft Khawatir
  • Koalisi Pimpinan Arab Saudi Umumkan Tembak Jatuh Drone Houthi di Mekkah

Mungkin Anda Juga Suka

Hikmah

Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli

8 April 2026 10:00
Hikmah

Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

4 April 2026 18:18
HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?