Sepintar dan setinggi apa pun gelar seseorang, tidak akan ada artinya jika tidak bersendikan akhlak mulia. Tidak mengherankan jika diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menyempurnakan akhlak.
Hidayatullah.com | GELAR akademik mentereng, tingginya angka Intelligence Quotient (IQ), serta ketajaman logika oleh kebanyakan orang kerap dijadikan satu-satunya standar keberhasilan seseorang. Padahal, kenyataan di lapangan berulang kali menampar logika tersebut.
Silakan dibaca berita-berita kriminal dan penyelewengan wewenang ―seperti kasus-kasus korupsi berbelit hingga tindakan pembunuhan berdarah dingin yang sempat menggegerkan wilayah Madiun dan sekitarnya― justru kerap melibatkan individu-individu yang dikabarkan memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Ketika seseorang ber-IQ tinggi kehilangan kompas moral, kecerdasannya tidak lantas padam; ia justru bermutasi menjadi instrumen kejahatan yang terencana, rapi, dan sistematis. Otak yang brilian digunakan untuk menyamarkan alibi, memanipulasi hukum, atau menyembunyikan aliran dana haram. Tragedi moral ini membuktikan adagium lama yang pernah disampaiakan filsuf Renaisans Prancis, François Rabelais, “Ilmu pengetahuan tanpa hati nurani hanyalah kehancuran jiwa dan raga.”
Dalam khazanah literatur Islam klasik, korelasi antara kecerdasan dan keluhuran budi pekerti bukanlah wacana pelengkap, melainkan poros utama. Di dalam kitab “Shifat ash-Shafwah”, Al-Imam Ibnul Jauzi mendokumentasikan bagaimana generasi salaf memandang ilmu bukan sekadar timbunan data kognitif, melainkan cahaya ketakwaan yang menjelma menjadi benteng akhlak.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menegaskan betapa berbahayanya ilmu yang tidak dipadukan dengan kesantunan jiwa (hilm):
مَا جُمِعَ شَيْءٌ إِلَى شَيْءٍ أَحْسَنَ مِنْ حِلْمٍ إِلَى عِلْمٍ
“Tidaklah dua perkara digabungkan satu sama lain yang lebih indah daripada perpaduan antara sifat santun dengan ilmu.”
Ilmu pengetahuan adalah instrumen daya (power), sedangkan kesantunan dan akhlak adalah rem yang menjaga agar daya tersebut tidak menjelma menjadi kezaliman. Jika orang tua modern hanya berfokus membiayai les akademik anak tanpa menanamkan adab, maka ia telah melewatkan warisan yang paling esensial:
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَالِدًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik.”
Salah satu potret paling tajam mengenai orientasi belajar terekam dalam kisah ibunda Sufyan ats-Tsauri. Saat sang anak hendak berangkat menuntut ilmu, sang ibu bekerja membanting tulang memintal benang demi membiayai keperluannya. Namun, di balik pengorbanan material tersebut, sang ibu menetapkan parameter evaluasi yang sangat ketat. Waki’ mengisahkan:
قَالَتْ أُمُّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ لِسُفْيَانَ: يَا بُنَيَّ اطْلُبِ الْعِلْمَ وَأَنَا أَكْفِيكَ بِمِغْزَلِي، وَقَالَتْ لَهُ: يَا بُنَيَّ إِذَا كَتَبْتَ عَشَرَةَ أَحْرُفٍ فَانْظُرْ هَلْ تَرَى نَفْسَكَ زِيَادَةً فِي مَشْيِكَ وَحِلْمِكَ وَوَقَارِكَ، فَإِنْ لَمْ يَزِدْكَ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ.
“Ibunda Sufyan ats-Tsauri berkata kepada Sufyan: ‘Wahai anakku, carilah ilmu dan aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.’ Beliau juga berpesan kepadanya: ‘Wahai anakku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf (kalimat ilmu), perhatikanlah apakah engkau melihat dirimu bertambah baik dalam caramu melangkah, bertambah sifat santunmu (hilm), dan bertambah ketenangan/kewibawaanmu (waqar). Jika ia tidak menambah hal itu padamu, ketahuilah bahwa catatan itu tidak membahayakanmu dan tidak pula memberimu manfaat’.”
Nasihat ini menjadi tamparan keras bagi peradaban hari ini. Sering kali manusia bangga saat indeks pemahaman dan pengetahuannya melesat, tetapi tidak pernah mengevaluasi apakah cara ia memperlakukan orang lain menjadi lebih santun, atau justru semakin arogan dan culas. Jika ilmu tidak melembutkan hati, ia hanya akan menjadi racun batin.
Kecerdasan sering kali menipu pandangan mata. Seseorang bisa tampak sangat bijak saat menyusun narasi atau merancang strategi, namun bobrok dalam praktik integritas. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu tidak pernah silau oleh hafalan atau kecakapan bicara seseorang sebelum melihat bagaimana adab kesehariannya.
Ibrahim an-Nakha’i mengisahkan prinsip para salaf ketika hendak menimba ilmu:
كَانُوا إِذَا أَتَوُا الرَّجُلَ لِيَأْخُذُوا عَنْهُ نَظَرُوا إِلَى صَلَاتِهِ، وَإِلَى هَدْيِهِ، وَإِلَى سَمْتِهِ.
“Dahulu mereka (para salaf) apabila mendatangi seseorang untuk mengambil ilmu darinya, mereka memperhatikan terlebih dahulu bagaimana shalatnya, perilakunya, serta budi pekerti dan adabnya (samt).” (Jilid II, hlm. 50)
Adab mendahului ilmu. Seseorang tidak diposisikan sebagai panutan hanya karena ia pandai mendebat atau memiliki logika yang canggih; yang dinilai pertama kali adalah keselarasan antara keyakinan dan tingkah lakunya.
Hal ini selaras dengan penjelasan tabi’in terkemuka, Masruq, mengenai batas pembeda antara kepintaran hakiki dan kebodohan batin:
بِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْجَهْلِ أَنْ يُعْجَبَ بِعَمَلِهِ، وَبِحَسْبِ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْعِلْمِ أَنْ يَخْشَى اللهَ.
“Cukuplah bagi seorang mukmin dianggap bodoh bila ia merasa ujub (bangga diri) dengan amalnya, dan cukuplah bagi seorang mukmin dianggap berilmu bila ia memiliki rasa takut kepada Allah.”
Fenomena koruptor berdasi dan pelaku kejahatan berdarah dingin yang berotak encer harus menjadi lonceng peringatan bagi keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Mengasah otak tanpa mendidik hati ibarat memberikan senjata tajam kepada orang gila; kehancuran yang ditimbulkannya tinggal menunggu waktu.
Ilmu pengetahuan yang sejati bukanlah instrumen untuk mengelabui hukum atau menindas mereka yang lemah. Ilmu adalah lentera yang menuntun pemiliknya untuk semakin berhati-hati dalam setiap desah napas dan langkahnya. Pintar itu penting, namun bersendi akhlak adalah mutlak. Tanpa fondasi moral dan rasa takut kepada Sang Pencipta, tingginya IQ hanya akan menjadi pintu masuk menuju jurang kehinaan kemanusiaan. (MBS)




