Menuntut ilmu adalah sangat mulia. Bahkan bisa meningkatkan derajat seseorang. Hanya saja, perlu disadari bahwa ada adab yang juga tak kalah penting untuk dijaga di atasnya.
Hidayatullah.com | DUNIA literasi Mesir pada akhir abad ke-19 mengenal sosok Abdullah Nadim, seorang orator dan sastrawan yang mendirikan majalah satir legendaris bernama “Al-Tankīt wa al-Tabkīt” (Ejekan dan Celaan). Melalui tulisan-tulisannya, Nadim kerap memotret realitas sosial yang getir namun dibungkus dengan tawa.
Salah satu kisahnya yang paling ikonik adalah kisah tentang seorang pemuda desa bernama Za’it. Pada momentum hari raya, kisah ini menjadi pengingat kita semua, terutama di momen perayaan hari besar atau kepulangan ke kampung halaman: bahwa setinggi apa pun sekolahmu, adab tetaplah mahkotamu.
Kisah Za’it: Dari Lumpur Sawah ke Benua Eropa
Alkisah, di sebuah desa terpencil di Mesir, hiduplah seorang petani bersahaja. Ia memiliki seorang putra bernama Za’it. Sejak kecil, Za’it adalah anak sawah tulen. Kesehariannya dihabiskan dengan menggembala kerbau, bermain di lumpur, dan tidur di bawah pohon-pohon kurma. Makanannya pun sangat sederhana: roti gandum kasar dan bawang merah mentah yang ia lahap dengan nikmatnya.
Suatu hari, seorang pedagang kota yang cerdik melihat potensi pada Za’it. Ia berkata kepada ayahnya, “Kirimkan anakmu ke sekolah. Biarkan dia belajar agar dia menjadi ‘manusia’ yang beradab dan berilmu.” Sang ayah, yang ingin anaknya memiliki nasib lebih baik, menyetujuinya. Za’it dikirim ke sekolah di kota, dan karena kecerdasannya, ia akhirnya mendapat beasiswa dari pemerintah untuk belajar ke Eropa.
Empat tahun berlalu. Sang ayah menanti dengan rindu yang membuncah. Ia membayangkan anaknya akan pulang menjadi pemuda yang bijaksana, membawa kemajuan bagi desa, dan tetap menjadi Za’it kecil yang penyayang.
Tibalah hari yang dinanti. Kapal yang membawa Za’it bersandar di Pelabuhan Iskandariyah (Alexandria). Sang ayah, dengan pakaian desanya yang sederhana, berlari menyambut sang putra. Dengan air mata haru, sang ayah merentangkan tangan, hendak memeluk dan mencium pipi anaknya sebuah tradisi kehangatan timur yang lazim.
Namun, apa yang terjadi? Za’it justru melompat mundur dengan wajah jijik. Ia mendorong dada ayahnya dan berseru dalam bahasa yang campur aduk, “Subhanallah! Hai kaum muslimin, tradisi pelukan kalian ini sungguh menjijikkan dan primitif!”
Sang ayah tertegun, tangannya menggantung di udara. “Lalu, bagaimana kita harus bersalaman, Nak?” tanya sang ayah dengan suara bergetar.
Za’it menjawab dengan angkuh, “Ucapkan ‘Bonne Arrivée’ (Selamat Datang) dan cukup taruh tanganmu di tanganku sekali saja. Begitu saja, tidak perlu drama!”
Tragedi “Bawang” di Meja Makan
Keanehan Za’it tidak berhenti di pelabuhan. Saat tiba di rumah, sang ibu menyiapkan hidangan istimewa untuk merayakan kepulangan putra tercintanya. Sebuah thajin (masakan dalam kuali tanah liat) berisi daging lezat yang dimasak dengan bumbu bawang merah berlimpah disajikan.
Begitu melihat hidangan itu, Za’it mengerutkan kening seolah melihat benda asing yang berbahaya. ia bertanya dengan nada sok elit, “Ibu, benda apa ini yang kau masukkan ke dalam daging? Bentuknya aneh dan baunya menyengat.”
Ibunya menjawab heran, “Lho, itu bawang, Nak. Kamu kan dari kecil makan ini.”
Za’it menggeleng-gelengkan kepala. “Bawang? Aku tidak tahu apa itu ‘bawang’. Maksudmu… oh, mungkin yang kau maksud adalah Onion? Ah ya, itu dia. Aku lupa istilah lokalnya.”
Ibunya hanya bisa terdiam. Bagaimana mungkin seseorang yang tumbuh besar dengan aroma bawang di ladang setiap hari, tiba-tiba lupa nama benda itu hanya karena tinggal empat tahun di negeri orang?
Di sinilah Abdullah Nadim menyindir keras fenomena ghurur; tertahannya hati oleh kilau budaya asing hingga mencampakkan akar budayanya sendiri. (Syauqi Dhaif, al-Fukāhah fi Mishr, 143-147).
***
Kisah Za’it bukan sekadar banyolan tentang orang yang lupa kulitnya. Di dalamnya terkandung pelajaran moral yang sangat fundamental bagi kita yang sedang menuntut ilmu atau sudah merasa berilmu.
Pertama, Adab Adalah Inti dari Ilmu. Pendidikan Za’it di Eropa mungkin berhasil secara intelektual, namun gagal secara spiritual dan sosial. Ilmu yang tidak menghasilkan adab kepada orang tua adalah ilmu yang mandul.
Allah SWT memerintahkan kita untuk bersikap rendah hati kepada orang tua:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ ٢٤
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (QS. Al-Isra [17]: 24).
Para salaf menekankan hal ini dengan ungkapan yang jelas. Imam Anas bin Malik pernah berkata:
تعلَّموا الأدبَ قبلَ أن تتعلَّموا العِلمَ
“Belajarlah adab sebelum belajar ilmu”. Sedangkan Ibnu Mubarak berkata:
كانوا يطلبونَ الأدبَ ثمَّ العِلمَ
“Dahulu mereka menuntut adab sebelum ilmu”. Demikian juga Sufyan Ats-Tsauri pernah menyatakan:
ليسَ عملٌ بعدَ الفرائضِ أفضلَ من طلبِ العِلمِ، وكانَ الرجلُ لا يكتبُ الحديثَ حتى يتأدَّبَ
“Tidak ada amal setelah kewajiban yang lebih utama daripada menuntut ilmu, dan seseorang tidak menulis hadis hingga ia beradab.” Makhlad bin Husain pernah berkata kepada Ibnu Mubarak:
نحنُ إلى كثيرٍ من الأدبِ أحوجُ منَّا إلى كثيرٍ من العِلمِ
“Kita lebih membutuhkan banyak adab daripada banyak ilmu.” (Abdul Fattah Al-Mushailihi, Risālah fī al-Adab li Ashhābi ath-Thalab, 2019: 36-37). Dalam kesempatan lain, Ibnu Mubarak bercerita:
تَعَلَّمْتُ الأَدَبَ ثَلاثِينَ سَنَةً، وَتَعَلَّمْتُ العِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً
“Aku mempelajari adab selama tiga puluh tahun, dan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.” (Muhammad ‘Uwaidhah, Fashl al-Khithāb fī al-Zuhd wa al-Raqāʾiq wa al-Ādāb, 9/283).
Kedua, Bahaya Kesombongan Intelektual. Za’it merasa bahwa karena ia tahu istilah “Onion”, maka ia lebih mulia daripada ayahnya yang hanya tahu “Bawang”. Ini adalah bentuk kesombongan yang sangat halus namun mematikan.
Hadits Nabi SAW:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim).
Ketiga, Menjaga Identitas dan Syukur. Menuntut ilmu ke negeri Barat atau mana pun adalah hal baik, namun melupakan akar budaya dan agama adalah musibah. Za’it merasa “pelukan” itu menjijikkan hanya karena standar estetikanya berubah menjadi standar orang asing, bukan standar kasih sayang Islam.
Nabi SAW pernah mengingatkan:
مَن تَشَبَّه بقومٍ فهو منهم
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini memperingatkan kita agar tidak kehilangan jati diri (identitas) hanya karena ingin dianggap modern atau maju di mata manusia.
Jadi, seberapa banyak pun gelar yang tersemat di belakang namamu, jangan biarkan itu menjauhkanmu dari tangan ayahmu yang keras karena kerja, atau membuatmu lupa akan hangatnya masakan sederhana ibumu. Gelar hanyalah hiasan, sementara adab adalah mahkota. Dan seorang muslim sejati selalu menempatkan adab di atas ilmu. (MBS)




