Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

Mahmud
Terakhir diupdate: 28 Maret 2026 09:59 9:59 am
Mahmud
Dipublikasikan 28 Maret 2026 10:00
Bagikan
Bagikan

Hari raya adalah momentum untuk menjadi bagian dari lingkaran kasih sayang. Jangan biarkan harta berhenti di saku Anda saja; biarkan ia berputar, menyembuhkan luka, dan kembali kepada Anda dalam bentuk keberkahan yang tak terhingga.

Hidayatullah.com | BAYANGKAN jika Anda hanya punya satu-satunya harta berharga di tangan −sebut saja seluruh tabungan hidup− tepat beberapa hari sebelum Lebaran. Di saat semua orang sibuk memikirkan baju baru dan hidangan mewah, atau atribut hari raya lainnya, tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh seorang kawan yang sedang kesulitan memberi makan keluarganya.

Apa yang akan Anda lakukan? Kebanyakan dari kita mungkin akan memberikan “seikhlasnya” atau sekadar sisa kembalian. Uniknya, dalam sejarah tercatat sebuah anomali kedermawanan yang luar biasa.

Sebuah kisah tentang “uang panas” yang tidak mau diam, terus berpindah tangan karena setiap pemiliknya merasa ada orang lain yang lebih berhak. Inilah kisah 100 dinar yang berputar, sebuah tamparan bagi egoisme kita di hari raya.

Kisah yang memikat ini diabadikan oleh Ahmad bin Nashir ath-Thayyar dalam buku “Hayātus Salaf baina al-Qaul wa al-‘Amal” (794). Dikisahkan oleh Ya’qub bin Syaibah, ada seorang pria dari kalangan salaf menghadapi hari raya dengan simpanan 100 dinar (sekitar ratusan juta rupiah jika dikonversi hari ini). Itu adalah modal satu-satunya.

Baca Juga

Ustadz Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Jika Bumi Menutup Semua Pintu, Ketuklah Pintu Langit!
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Teladan Umar bin Khattab Ra. dalam Mengatasi Problem Gratifikasi
Al-‘Aqabah: Jalan Terjal Menuju Peradaban Fitrah

Menariknya, ketika surat dari sahabatnya datang memohon bantuan nafkah, pria ini tidak melakukan kalkulasi rumit. Ia mengirimkan seluruh dinar tersebut dalam satu kantong. Plot twist dimulai di sini. Sahabat kedua yang menerima uang itu ternyata juga menerima surat dari sahabat ketiga yang kondisinya lebih memprihatinkan. Tanpa membuka segel kantongnya, ia meneruskan 100 dinar itu.

Cerita kian menakjubkan saat sahabat ketiga, yang merasa prihatin dengan kondisi sahabat pertama (si pemilik asli), justru mengirimkan kantong dinar yang sama kembali ke rumah asalnya. 100 dinar itu melakukan perjalanan “mudik” spiritual, kembali ke tangan pertama tanpa berkurang satu keping pun.

Membedah Spirit “Ītsār”: Saat Logika Kalah oleh Cinta

Apa yang terjadi di antara ketiga sahabat ini bukanlah sekadar transaksi pinjam-meminjam, melainkan ītsār. Ini adalah kasta tertinggi dalam etika berbagi: mendahulukan orang lain di saat kita sendiri sedang “cekak”.  Dalam kitab “at-Taʿrīfāt” (1983: 40) karya ‘Ali Asy-Syarif Al-Jurjani dijelaskan bahwa ītsār adalah:

أَنْ يُقَدِّمَ غَيْرَهُ عَلَى نَفْسِهِ فِي النَّفْعِ لَهُ وَالدَّفْعِ عَنْهُ، وَهُوَ النِّهَايَةُ فِي الْأُخُوَّةِ

“Mendahulukan orang lain atas dirinya sendiri, baik dalam memberi manfaat maupun menolak bahaya darinya. Itulah puncak dari persaudaraan.”

Akhlak ini pernah digambarkan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an ketika menunjukkan betapa luar biasanya persaudaraan antara sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar:

وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗوَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ

“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9).

Hari raya seringkali menjebak kita dalam ritual pamer. Kita ingin terlihat paling makmur. Namun, kisah ini mengingatkan bahwa perayaan sejati adalah saat kita mampu memastikan tidak ada orang di sekitar kita yang merasa sendirian dalam kemiskinan. Mereka tidak memberikan recehan; mereka memberikan “jantung” dari harta mereka.

Ketakutan terbesar manusia adalah menjadi miskin setelah memberi. Ketiga pria dalam kisah ini membuktikan bahwa saat semua orang memiliki mentalitas “tangan di atas”, maka terciptalah jaring pengaman sosial yang instan. Jika Anda memberi, dan orang yang Anda beri juga memberi, maka pada akhirnya semua orang akan terjamin.

Matematika Langit: 100 – 100 = Berkah

Dalam kalkulator manusia, 100 dinar dikurangi 100 dinar hasilnya adalah nol. Pria pertama seharusnya tidak punya apa-apa untuk Lebaran. Namun, karena ia melepaskan keterikatan pada benda tersebut, Tuhan menggerakkan hati manusia lain untuk mengembalikannya ke pemilik awal.

Kisah yang memiliki sanad sahih ini −sebagaimana juga tercantum dalam kitab “Siyar A’lām an-Nubala (II/962-963)− bukan untuk mengajarkan kita agar berharap uang kembali setelah memberi, melainkan untuk menunjukkan bahwa kebaikan memiliki resonansi.

Satu tindakan tulus bisa memicu gelombang kebaikan yang lebih besar. Di akhir cerita, ketika rahasia ini terbongkar, mereka bertiga berkumpul, tertawa haru, dan membagi rata uang tersebut. Sebuah solusi kolektif yang jauh lebih indah daripada menikmatinya sendirian.

Di era digital, kita mungkin tidak lagi mengirim kantong koin emas. Tapi kita punya akses yang lebih mudah untuk “memutarkan” kebahagiaan.

Pertama, Berbagi Tanpa Tapi. Jangan menunggu sisa. Cobalah berbagi sesuatu yang sebenarnya masih kita sukai atau butuhkan.

Kedua, Peka Tanpa Diminta. Ketiga sahabat itu saling tahu kondisi masing-masing melalui rasa peduli yang mendalam. Di zaman sekarang, seringkali tetangga kita “lapar dalam diam”. Ketiga, Merayakan Kebersamaan. Hari raya adalah tentang kita, bukan aku. 100 dinar itu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya sedang menguji siapa di antara mereka yang paling luas hatinya.

Melalui catatan emas para pendahulu ini, kita belajar bahwa hari raya adalah momentum untuk menjadi bagian dari lingkaran kasih sayang. Jangan biarkan harta berhenti di saku Anda saja; biarkan ia berputar, menyembuhkan luka, dan kembali kepada Anda dalam bentuk keberkahan yang tak terhingga.

Inilah indahnya berbagi, yang seringkali mengundang rezeki yang tidak disangka-sangka dan untuk menjaganya adalah dengan sedekah. Dalam kitab “Fayḍh al-Qadīr” (1/501) disebutkan Riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib:

 اسْتَنْزِلُوا ‌الرِّزَقَ ‌بِالصَّدَقَةِ

“Mintalah turunnya rezeki (dari Allah Sang Maha Pemberi) dengan cara bersedekah.” Maksudnya berbagi kepada hamba-hamba-Nya yang membutuhkan. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik kepada mereka. Wajar jika rezeki Allah terus berputar bagi mereka yang suka berbagi. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hari rayaHeadlinesalaf saleh
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Lebih 300 Serdadu Amerika Serikat Terluka Sejak Awal Perang dengan Iran
Tulisan selanjutnya Filipina Darurat Energi, 700.000 Barel Minyak Rusia Tiba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Iptekes

Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati

Iptekes
3 Oktober 2026 09:45
“Jihad Korporat”, Babak Baru Serangan Politikus India terhadap Muslim
LPPOM Dorong Restoran Terbuka soal Status Halal Setiap Outlet
UNIDA Gontor Kukuhkan 4 Guru Besar Baru, Dorong Tradisi Keilmuan
Intelijen Inggris Peringatkan Akademisi Supaya Putuskan Hubungan dengan Institusi China

Terbaru

  • Kopilot Pelaku Serangan di Pesawat Flydubai Tujuan Tel Aviv Pernah Dilarang Terbang di Oman
  • Amerika Jatuhkan Sanksi atas Jaringan Pendanaan Hamas
  • “Jihad Korporat”, Babak Baru Serangan Politikus India terhadap Muslim
  • Iraq Dapat Pengecualian dari Sanksi Amerika Terkait Penerbangan Iran dari dan ke Najaf
  • Houthi Menarget Gardu Listrik Masjid Nabawi, Kata Koalisi
  • Menlu AS Bicarakan Perlucutan Senjata Hizbullah dengan Raja Yordania
  • Pakar Filsafat Islam UNIDA Ungkap Penyebab Generasi Muda Terpapar Ateisme di Media Sosial
  • Studi: Kopi Dikaitkan dengan Penurunan Risiko Kanker dan Sirosis Hati
  • Ustadz Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
  • Temuan BRIN, Bahaya Vape: 100% Berdampak Diabetes, 92% pada Paru-Paru

Mungkin Anda Juga Suka

Kajian

Merdeka Bersuara, Bukan Merampas Ketenangan: Sound Horeg dalam Syariat

22 Agustus 2026 11:43
Kajian

Atas Jasa Ulama Madzhab, Ijtihad Tidak Lagi Harus Dari Nol

22 Agustus 2026 10:58
Sejarah

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

17 Agustus 2026 07:05
Kajian

Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an

8 Agustus 2026 07:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?