Pernahkah Anda merasa bimbang saat Idul Adha mendekat; di satu sisi ada kerinduan yang mendalam untuk mempersembahkan hewan kurban terbaik sebagai bukti cinta kepada Allah, namun di sisi lain, kondisi dompet begitu sempit hingga terasa menyesakkan dada?
Hidayatullah.com | Islam adalah agama yang mengajarkan pentingnya kualitas. Dalam hal mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), para pendahulu kita yang saleh memiliki standar yang sangat tinggi. Mereka memahami bahwa apa yang dikurbankan sebenarnya sedang “dikirim” ke hadapan Sang Khalik.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj [22]: 37). Karena itulah, mereka berusaha mempersembahkan yang terbaik sebagaimana yang telah dicontohkan nabi -dalam riwayat Imam Ahmad- saat berkurban : menyembelih hewan yang besar dan gemuk (berkualitas).
Kesadaran inilah yang membuat para sahabat Nabi dan generasi Salafush Shalih tidak main-main dalam memilih hewan kurban. Imam Malik meriwayatkan dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, yang selalu berpesan kepada anak-anaknya dengan nasihat yang menggetarkan jiwa:
“Janganlah salah seorang dari kalian menghadiahkan kepada Allah dari hewan kurban sesuatu yang ia malu untuk menghadiahkan kepada orang yang mulia di antara kalian. Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang paling mulia di antara para pemilik kemuliaan, dan paling berhak untuk dipilihkan yang terbaik bagi-Nya.” (al-Muwaththa, I/474)
Jika kepada pejabat atau tamu agung kita sanggup menjamu dengan hidangan paling istimewa, mengapa kepada Allah kita justru memilih yang paling kurus atau yang paling murah hanya agar “gugur kewajiban”?
Salah satu contoh luar biasa ditunjukkan oleh Abdullah bin Umar RA. Beliau dikenal sangat mencintai hartanya dengan cara menyedekahkannya. Suatu hari, saat menunggangi untanya, beliau merasa sangat kagum dengan kegagahan unta tersebut.
Tanpa menunda, beliau langsung turun, mengalungkan tanda kurban (hadyu) pada lehernya, dan menyedekahkannya untuk Allah saat itu juga. Inilah manifestasi dari firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 92, bahwa kita tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menafkahkan sebagian harta yang kita cintai. (Muhammad Shalh Syawi, al-Lāli’i al-Makkiyyah,378).
Selain contoh tersebut, menarik untuk menelaah perilaku Jabir bin Zaid, seorang ulama tabi’in terkemuka. Beliau dikenal memiliki prinsip untuk tidak pernah melakukan tawar-menawar harga dalam tiga hal: ongkos haji ke Mekah, menebus budak untuk dimerdekakan, dan membeli hewan kurban.
Beliau berpendapat bahwa dalam segala sesuatu yang digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak sepatutnya kita terlalu “perhitungan” atau mencari harga termurah dengan tawar-menawar yang sengit.
Semangat Jabir bin Zaid mengajarkan kita bahwa keridaan Allah tidak ternilai harganya. Ketika kita mengeluarkan harta dengan lapang dada tanpa rasa berat hati, di situlah keberkahan ibadah itu bermula.
Kurban Terbaik Bukan Berarti Memaksakan Diri
Penting untuk dicatat, di balik semangat memberikan yang terbaik, Islam tetaplah agama yang memudahkan. Memberikan yang terbaik bukan berarti harus melampaui batas kemampuan finansial sehingga mengabaikan nafkah wajib keluarga atau terjerat hutang yang memberatkan.
Ada sebuah kisah menarik tentang seorang ulama besar, Imam Asy-Sya’bi. Ketika beliau ditanya oleh seseorang tentang orang yang mengalami kesulitan ekonomi (mu’sir) sehingga tidak mampu membeli hewan kurban, beliau memberikan jawaban yang sangat bijak:
لَأَنْ أَتْرُكَهَا وَأَنَا مُوسِرٌ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَتَكَلَّفَهَا وَأَنَا مُعْسِرٌ
“Meninggalkan kurban ketika aku dalam keadaan mampu, lebih aku sukai daripada memaksakan diri berkurban ketika aku dalam keadaan sempit.” (Abu Nu’aim, Hilyah al-Auliyā, IV/314).
Pernyataan ini bukan bertujuan untuk melemahkan semangat berkurban, melainkan untuk meluruskan prioritas. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ibadah kurban adalah sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah), namun menjaga kestabilan ekonomi keluarga dan menghindari kemudaratan hutang juga merupakan perintah agama.
Bagi mereka yang benar-benar tidak mampu namun memiliki niat yang tulus, Allah sering kali memberikan jalan yang tidak disangka-sangka. Ada sebuah kisah inspiratif tentang sepasang suami istri yang fakir. Mereka hanya memiliki seekor domba.
Sang suami ingin berkurban, namun sang istri mengingatkan dengan lembut, “Kita telah diberi keringanan oleh Allah untuk tidak berkurban karena kemiskinan kita.” Beberapa waktu kemudian, saat mereka kedatangan tamu, sang istri justru meminta suaminya menyembelih domba satu-satunya itu untuk menghormati tamu.
Sang suami menyembelihnya di luar rumah agar anak-anak mereka tidak sedih melihatnya. Keajaiban terjadi; tiba-tiba sang istri melihat seekor domba lain turun dari tembok rumahnya. Ia mengira domba itu lepas, namun ternyata domba yang disembelih suaminya masih ada. Sang istri pun bersyukur:
إِنَّ اللهَ قَدْ عَوَّضَ لَنَا وَرَدَّ لَنَا شَاةً أَحْسَنَ مِنْ شَاتِنَا
“Sesungguhnya Allah telah mengganti dan mengembalikan kepada kita seekor domba yang lebih baik dari domba kita.” (Musthafa Mubarak, Hikāyah wa Qashash min Hayāti as-Sābiqīn, 2012: 163)
Kisah ini mengajarkan dua hal: pertama, keramahan kepada tamu (kemanusiaan) terkadang menjadi pintu pembuka rezeki ibadah. Kedua, Allah melihat ketulusan hati. Ketika seseorang mengutamakan perintah Allah di atas kepentingan pribadinya, Allah tidak akan membiarkannya kekurangan.
Jadi, menyiapkan kurban terbaik adalah tentang kualitas niat dan optimalisasi kemampuan. Bagi yang mampu secara finansial, teladanilah Jabir bin Zaid dan Ibnu Umar; jangan pelit, jangan menawar harga untuk kebaikan, dan berikanlah hewan yang paling kita sukai.
Namun bagi yang sedang dalam kesulitan, janganlah merasa rendah diri atau memaksa diri hingga melanggar syariat lainnya. Cukuplah kelapangan hati dan keridaan atas ketentuan Allah menjadi “kurban” batiniah Anda. Karena pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah tanduk yang gagah atau daging yang melimpah, melainkan getaran takwa yang tulus dari dalam dada.
Menuju hari raya kurban 1447 H ini mari kita berusaha menyiapkan kurban terbaik, seolah itu adalah persembahan terakhir yang akan diantarkan menuju gerbang surga. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Mulia, dan Dia hanya menerima yang baik dari hamba-hamba-Nya. (MBS)




