Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hikmah

Hamba Allah: Antara Mengejar dan Dikejar Rezeki

Mahmud
Terakhir diupdate: 4 April 2026 18:19 6:19 pm
Mahmud
Dipublikasikan 4 April 2026 18:18
Bagikan
Bagikan

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Sesungguhnya rezeki mengejar seorang hamba lebih kuat daripada ajalnya mengejarnya.” (As-Suyuthi, al-Jāmi’ ash-Shaghīr wa Ziyādatuh, 9371)

Hidayatullah.com | SEBAGAIMANA halnya tikus yang berlari di atas roda putar: kaki melangkah begitu cepat, keringat bercucuran, napas tersengal, tapi posisi tetap di situ-situ saja. Suatu gambaran orang yang terjebak dalam delusi bahwa rezeki adalah hasil murni dari kecepatan usaha pribadi. Padahal, jika mau jujur pada kenyataan, hidup sering kali menunjukkan anomali.

Ada yang bekerja sedemikian keras bagai kuda namun hasilnya sekadar penyambung nyawa, sementara ada yang tampak santai namun pintu-pintu kemudahan terbuka lebar baginya. Fenomena ini membawa kita pada satu refleksi cukup mendasar: apakah kita yang sedang mengejar rezeki, atau sebenarnya kita yang sedang dikejar olehnya?

Dalam kitab “Hilyatul Auliyā’” (VII/90) demikian juga dalam “Shahīh al-Jā’mi”“ (II/929), Rasulullah SAW memberikan sebuah perumpamaan yang sangat radikal bagi logika materialis. Beliau bersabda:

لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ هَرَبَ مِنْ رِزْقِهِ كَمَا يَهْرَبُ مِنَ الْمَوْتِ لَأَدْرَكَهُ رِزْقُهُ كَمَا يُدْرِكُهُ الْمَوْتُ

Baca Juga

Sikap Prof. H. M. Rasjidi terhadap Jabatan
Menyiapkan Kurban Terbaik tanpa Memaksa Diri di Luar Kesanggupan
Kisah Jenaka Qurban: 1 Ekor Ayam Ditebus 30 Domba
Empat Kategori Ucapan: Mana yang Layak Disampaikan?
Ujian 1.000 Dinar: Antara Perut Lapar dan Integritas yang Tak Terbeli

“Seandainya anak Adam lari dari rezekinya sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan menjemputnya sebagaimana kematian itu menjemputnya.”

Bayangkan betapa ironisnya kecemasan kita selama ini. Kita sering kali begadang dan mengorbankan kedamaian hati hanya karena takut kehilangan sesuatu yang secara hakikat telah terkunci atas nama kita.

Rezeki bukan seperti barang diskon di toko daring yang akan habis jika kita kalah cepat mengklik; ia adalah janji Tuhan yang sudah tertulis bahkan sebelum kita mengenal konsep angka.

Sahabat yang mulia, Ali bin Abi Thalib Ra. mempertegas hal ini dengan membagi rezeki menjadi dua wajah:

الرِّزْقُ رِزْقَانِ: فَرِزْقٌ تَطْلُبُهُ، وَرِزْقٌ يَطْلُبُكَ فَإِنْ لَمْ تَأْتِهِ أَتَاكَ

“Rezeki itu ada dua macam: rezeki yang engkau cari, dan rezeki yang mencarimu. Jika engkau tidak mendatanginya, ia yang akan mendatangimu.” (Ibnu Abdi Rabbih, Al-‘Iqd al-Farid, 3/160).

Di titik inilah letak keindahan iman. Kita diminta bergerak bukan karena rasa takut akan kekurangan, melainkan sebagai bentuk penghambaan dan etika hidup di dunia. Ketika kita menyadari bahwa ada bagian rezeki yang akan mendatangi kita meskipun kita diam, maka tekanan batin dalam bekerja akan menguap, berganti dengan rasa syukur yang tenang.

Strategi hidup seorang mukmin bukan lagi tentang “bagaimana saya bisa mendapatkan”, tapi “bagaimana saya bisa memantaskan diri”. Namun, kepastian rezeki bukan berarti kita boleh mencari dengan serampangan. Pesan Nabi dalam Sunan Ibnu Majah sangat jelas:

أَيُّهَا النَّاسُ! اتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، فَإنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا؛ وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ؛ خُذُوا مَا حَلَّ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki (ajmilu fit-thalab). Karena sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya, meskipun rezeki itu datang terlambat. Maka bertakwalah kepada Allah, carilah dengan cara yang baik; ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah No. 2144).

Ini adalah perintah untuk tetap elegan dalam berikhtiar. Orang yang percaya bahwa jatahnya tidak akan tertukar, tidak akan merasa perlu menyikut kawan, menjilat atasan, atau menabrak aturan halal-haram demi tumpukan angka di rekening.

Ia akan mengambil apa yang halal dengan tangan terhormat dan meninggalkan yang haram dengan hati yang lapang. Baginya, keterlambatan datangnya rezeki hanyalah soal waktu, bukan soal kegagalan.

Ketenangan ini pernah dipraktikkan dengan sangat presisi oleh Hatim al-Asham. Ia membangun bangunan mentalnya di atas empat fondasi sederhana namun kokoh:

عَلِمْتُ أَنَّ رِزْقِي لَا يَأْكُلُهُ غَيْرِي، فَلَسْتُ أَهْتَمُّ لَهُ، وَعَلِمْتُ أَنَّ عَمَلِي لَا يَعْمَلُهُ غَيْرِي، فَأَنَا مَشْغُولٌ بِهِ، وَعَلِمْتُ أَنَّ الْمَوْتَ يَأْتِينِي بَغْتَةً، فَأَنَا أُبَادِرُهُ، وَعَلِمْتُ أَنِّي بِعَيْنِ اللهِ فِي كُلِّ حَالٍ، فَأَنَا أَسْتَحْيِي مِنْهُ

“Aku tahu rezekiku tidak akan dimakan orang lain, maka hatiku tenang. Aku tahu amal ibadahku tidak bisa dikerjakan orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya. Aku tahu kematian datang tiba-tiba, maka aku segera bersiap. Dan aku tahu aku selalu dalam pengawasan Allah, maka aku malu jika Dia melihatku dalam maksiat.” (Imam Baihaqi, Syu’abu al-Īmān, II/98).

Terkadang, hambatan terbesar dalam memahami konsep ini adalah akal kita yang terlalu “pintar” menghitung. Kita sering terjebak pada logika bahwa satu ditambah satu harus selalu dua, dan kerja lembur harus selalu berarti saldo bertambah.

Ada saat di mana kepasrahan kita justru menjadi pintu pembuka kemudahan yang tidak masuk akal, sebagaimana sindiran dalam syair yang tercatat dalam kitab “Al-Masyikhah Al-Kubra” (2/884) karya Qadhi Al-Maristan:

طَلَبْتُ الرِّزْقَ بِالْعَقْلِ … مِنَ الْغَرْبِ إِلَى الشَّرْقِ

فَلَمْ يَكْسِبْنِي الْعَقْلُ … سِوَى الْبُعْدِ مِنَ الرِّزْقِ

فَأَدْبَرْتُ عَنِ الْعَقْلِ … وَأَقْبَلْتُ عَلَى الْحُمْقِ

“Aku mencari rezeki dengan mengandalkan akal dari barat hingga ke timur, namun akal itu tidak memberiku apa-apa selain kejauhan dari rezeki. Maka aku berpaling dari (ketergantungan pada) akal dan menuju pada kepasrahan (yang dianggap bodoh oleh dunia).”

Pemahaman mendalam terkait nilai-nilai tersebut, membuat kitah semakin tahu bahwa hidup adalah tentang seni menyeimbangkan antara kaki yang melangkah dan hati yang bersandar. Kita tidak dilarang menjadi kaya atau memiliki karier cemerlang. Namun, jangan sampai proses pengejaran itu membuat kita lupa bahwa kita adalah hamba Allah, bukan hamba materi.

Rezeki hanyalah bekal perjalanan, bukan tujuan akhir. Dengan menata ulang niat dan memperbagus cara mencari, kita akan sampai pada sebuah tingkat kesadaran yang sangat memerdekakan: bahwa kita tidak perlu lagi terengah-engah mengejar dunia, karena saat kita berjalan menuju Sang Pencipta dengan penuh martabat, rezeki itu sendiri yang akan berlari mengejar kita. Wallāhu a’lam bi ash-Shawāb. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinerezeki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki: UU Hukuman Mati Knesset Manifestasi Genosida dan Perang Kotor ‘Israel’
Tulisan selanjutnya Rabbi Elhanan Beck: Zionis Tak Peduli Meski Korbankan “100 Juta Orang” demi Israel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral

Berita
8 Juli 2026 21:23
Amerika Serikat Menjatuhkan Sanksi Baru Berkaitan Iran Menyusul Serangan di Selat Hormuz
Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
MUI Jabar Berencana Bentuk Satgas dan Posko Anti LGBT, Terima Dukungan Puluhan Ormas dalam Audiensi
Amerika Serikat Longgarkan Ekspor Item Militer, Chip AI dan Satelit Komersial ke UEA

Terbaru

  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
  • ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
  • Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
  • Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
  • Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat
  • Dua Topan Mendera China dalam Sepekan Hampir 2 Juta Orang Dievakuasi

Mungkin Anda Juga Suka

HikmahKajian

100 Dinar yang Berputar: Spirit Berbagi Salaf Saleh di Hari Raya

28 Maret 2026 10:00
Hikmah

Kisah Jenaka Hari Raya (6) : Adab di Atas Ilmu

26 Maret 2026 13:00
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (5) : Senjata Makan Tuan

25 Maret 2026 10:13
HikmahKajian

Kisah Jenaka Hari Raya (4) : Lebaran, Menjilat Sultan, dan Urusan Kavling Surga

24 Maret 2026 05:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?