Hidayatullah.com– Peperangan tanpa henti selama hampir tiga setengah tahun, lonjakan harga-harga barang dan anjloknya nikai mata uang telah mengakibatkan banyak warga Sudan seperti Sawsan Mahmoud kesulitan untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar – pangan berupa roti.
Kebanyakan toko roti di ibu kota Khartoum tutup disebabkan meroketnya harga gandum dan kelangkaan bahan bakar minyak.
Mahmoud, 44, mengatakan dia dan suaminya sekarang harus patungan untuk membeli roti saja.
“Situasinya sungguh tak tertahankan,” ujar ibu tiga anak itu seperti dilansir AFP Kamis (5/11/2026). “Kami mengurangi jumlah roti yang kami makan dan sekarang kami makan hanya sekali sehari.”
“Kami harus menyisihkan 900.000 pound ($88) sebulan untuk membeli roti saja. Jumlah itu hampir sama banyaknya dengan gaji saya dan suami bila digabungkan.”
Di salah satu dari segelintir toko roti yang masih beroperasi di ibu kota, Abir Mohammed mengeluh bahwa “dulu kami biasa makan roti setiap hari; sekarang kami tidak bisa melakukannya”.
Sudan mengimpor sebagian besar kebutuhan gandumnya, sehingga harga gandum rentan terhadap penurunan nilai mata uang lokal.
Harga sepotong roti di Khartoum berlipat ganda dari 250 menjadi 500 pound Sudan selama sepekan terakhir.
Selama bulan lalu, pound Sudan kehilangan sekitar 25 persen nilainya terhadap dolar, mencapai titik terendah sepanjang masa di angka lebih dari 10.500 pound per dolar sebelum sedikit pulih menjadi sekitar 10.200 pada hari Rabu (4/11). Pada tahun 2023, ketika perang pecah antara paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan tentara pemerintah, nilai tukar satu dolar setara dengan 500 pound Sudan.
Tidak ada tepung
Di dalam toko roti Mohammed al-Fateh di Khartoum, para pekerja mencampur tepung, air, dan ragi menjadi adonan kental, yang kemudian mereka bagi menjadi cakram-cakram bundar dan memasukkannya ke dalam oven menggunakan dayung kayu panjang. Dalam hitungan menit, adonan berubah menjadi roti pipih tradisional yang merupakan bagian penting dari makanan pokok orang Sudan.
“Banyak toko roti yang tutup karena tidak ada tepung di pasaran,” kata Fateh. “Anda bisa menghabiskan satu atau dua hari penuh antre di pusat distribusi, tapi tetap saja pulang dengan tangan kosong.”
Di daerah Al-Azhari di bagian selatan Khartoum, Mutawakil Ahmed Babiker berjuang untuk mempertahankan toko rotinya agar tetap beroperasi setelah harga tepung naik dua kali lipat.
Dia juga menyinggung masalah lain, “pemadaman listrik yang memaksa kami membeli bahan bakar untuk generator”.
“Kemungkinan besar saya terpaksa menutup toko roti ini,” ujarnya.
“Kami menjual sepotong roti seharga 500 pound, yang lebih murah daripada biaya produksinya, tetapi saya tidak bisa menaikkan harga karena kondisi masyarakat.”
Di penjuru ibu kota, warga Sudan mengantre di luar dapur umum, menunggu makanan gratis. Banyak dari dapur umum telah berhenti beroperasi ketika tentara merebut kembali kendali ibu kota dan mengusir RSF pada Maret 2025.
Di luar Khartoum, sebagian besar pasokan gandum tiba dalam bentuk bantuan, tetapi kekurangan bahan bakar dan kenaikan harga yang terus-menerus, serta penutupan jalan akibat pertempuran, menghambat pengiriman.
Ombada Emergency Room di Omdurman, yang mengkoordinasikan dapur umum di daerah tersebut, telah memperingatkan bahwa “lingkaran kebutuhan semakin meluas hingga mencakup ribuan keluarga dan pengungsi”.
“Kelangkaan pasokan makanan dan harga yang melambung tinggi, membuat akses untuk makan satu kali sehari pun menjadi sebuah mimpi,” kata pengelola dapur umum itu.
Di sebuah pasar di Omdurman, di mana perniagaan sedang lesu, Al-Muradi Awad mengeluhkan kondisi hidup yang buruk saat dia berbelanja kebutuhan sehari-hari.”Nilai gizi setiap makanan telah menurun,” kata Awad.
“Harga satu kilogram daging berkisar antara 50.000 hingga 70.000 pound. Jika sebelumnya Anda mampu membeli dua kilogram daging, hari ini Anda hanya bisa membeli 125 gram.
“Tingkat kemiskinan di Sudan melonjak hingga 80 persen, menurut data dari biro statistik pusat, sementara inflasi tercatat mencapai angka yang mencengangkan yaitu 99 persen tahun lalu.
Menurut laporan yang didukung PBB, lebih dari 200.000 orang di negara bagian Kordofan Selatan dan Darfur Utara mengalami kelaparan, dan laporan tersebut juga memperingatkan bahwa kelaparan dapat menyebar ke delapan kota lain pada tahun 2027.*




