Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Besarkan Persamaan, Tutupi Perbedaan!

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 November 2011 09:49 9:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 November 2011 09:49
Bagikan
Bagikan

SETIAP rumah tangga tentu mendambakan kelanggengan cinta kasih antara suami dan istri. Setiap pernikahan tentu tidak pernah menginginkan pertengkaran, perpisahan apalagi perceraian. Namun seiring dengan bergulirnya waktu, dimana antara suami dan istri mulai saling mengenal secara mendalam perbedaan dan kelemahan masing-masing, tidak sedikit yang ‘gagal’ dalam membaca perbedaan di antara keduanya.

Akibatnya pertengkaran perlahan mulai sering terjadi. Tiada hari yang dilalui kecuali selalu dibumbui dengan percekcokkan, saling lempar tanggung jawab, bahkan sampai pada tahap saling menyalahkan.

Tentu tidak satu pun rumah tangga yang tidak pernah ada di dalamnya pertengkaran, kesalahpahaman, atau pun beda pendapat. Tetapi alangkah indahnya jika kita mampu membaca perbedaan tersebut dalam bingkai kebijaksanaan, sehingga tidak perlu ada pertengkaran yang sebenarnya bisa dihindari.

Ada banyak ragam perbedaan dalam rumah tangga. Mulai dari suami yang super protektif terhadap istri dan anak sampai pada suami yang sangat toleran atau mungkin sangat terkesan kurang peduli dengan hal-hal kecil, dan sederhana. Demikian pula dari sisi istri, mulai dari istri yang sangat tabah, rajin bekerja dan rajin ibadah, hingga istri yang suka belanja, berdandan bahkan mungkin jalan-jalan.
Satu hal yang tidak bisa kita pungkiri ialah perbedaan. Soal ini Allah telah mengatakan langsung dalam al-Qur’an ;

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. 36: 36).

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Demikian pula halnya dalam kehidupan manusia. Laki-laki berpasangan dengan wanita. Keduanya adalah manusia yang berjenis kelamin tidak sama, punya karakter yang berbeda, dan tentu juga punya cara berpikir yang tidak bisa disamakan. Hal ini adalah bukti kekuasaan Allah SWT.

Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30: 21).

Ketika keduanya menyatu dalam ikatan pernikahan maka perbedaan itu adalah ‘jalan pintas’ yang Allah anugerahkan kepada setiap pasangan untuk bisa mengasah iman dengan lebih intens, melatih jiwa dengan lebih nyata, dan yang tidak kalah pentingnya ialah meraih derajat taqwa melalui bahtera rumah tangganya.

Bagaimana sabar bisa diaplikasikan jika masalah tidak muncul. Bagaimana qana’ah bisa diterapkan jika semua berjalan lurus-lurus saja. Atau bahkan mungkin bagaimana kesetiaan bisa diukur jika tidak ada ujian. Prinsipnya perbedaan adalah ‘jalan pintas’ mengasah diri lebih baik lagi. Bahkan bagi istri yang sabar atas ujian yang dialaminya dalam berumah tangga, baginya adalah surga.

Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku khabarkan kepada kalian tentang isteri kalian yang berada di surga? Kami berkata,”Ya, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Dia adalah wanita yang sangat mencintai lagi pandai punya anak, bila sedang marah atau sedang kecewa atau suaminya sedang marah maka ia berkata: Inilah tanganku aku letakkan di tanganmu dan aku tidak akan memejamkan mata sebelum engkau ridha kepadaku.” (HR. Thabrani).

Ingatkan Tujuan Nikah

Sejatinya kalau ditelusuri secara teliti, sumber masalah muncul bukan karena hal-hal prinsip, seperti kepercayaan, kesetiaan, dan kecintaan. Tetapi lebih pada hal-hal teknis. Seorang istri merasa hidupnya kurang bahagia hanya gara-gara suami yang dulunya diyakini baik (karena selalu menuruti keinginannya), belakangan dianggap tidak baik justru karena dalam anggapannya suaminya super protektif terhadap keluarga.

Diharuskan pakai jilbab meski dalam acara keluarga. Di larang mendengarkan nasyid di mobil pribadi saat mengemudi, diingatkan juga oleh suami agar tidak bepergian seorang diri, ini dan itu. Intinya suami banyak mengeluarkan aturan-aturan. Bahkan setiap hari di telpon hanya untuk mengingatkan perihal sudah sholat atau belum.

Jika kita gunakan perspektif iman dalam melihat masalah di atas, maka apa yang dilakukan suami itu secara prinsip tidaklah bermasalah. Namun sangat mengganggu manakala pihak istri belum terbiasa memahami maksud baik di balik sikap sang suami yang katanya super protektif itu. Boleh jadi suami ingin diri dan keluarganya terbebas dari hal-hal yang kurang bermanfaat dan kurang menunjukkan identitas keimanan.

Namun demikian dibalik sebuah cita-cita besar, seorang suami memang sangat bijaksana tidak gampang mengeluarkan ‘fatwa’, sehingga istri dan keluarga merasa dalam penjara yang serba ketat peraturannya. Sampaikan dengan bijaksana dan lemah lembut bahwa anda punya keinginan begini dan begitu. Lalu berikan argumentasi bahwa apa yang anda inginkan itu sesuai dengan ajaran Islam. Dan, jangan lupa berdoa agar istri dan keluarga anda memahami maksud baik anda.
Pada tingkatan tertentu, ketika perbedaan sudah mendominasi kehidupan rumah tangga. Sampai-sampai hampir semua hal terlihat buruk (meskipun sebenarnya tidak) maka kembalilah berdisukusi dengan pasangan, perihal untuk apa pernikahan dilakukan. Jika memang benar ingin mendapat ridho Allah, kenapa tidak memilih jalan damai, dengan sama-sama berupaya memperbaiki diri, saling memahami dan bahu-membahu mengisi sisa hidup untuk taat kepada Allah SWT.
Sekiranya setiap keluarga mengerti untuk apa mereka menikah tentu tidak ada pertengkaran apalagi perceraian. Karena semua didasari pada prioritas mendapat ridho Allah dan ingin benar-benar menyempurnakan agama.

Jadi tidak semestinya Muslim dan Muslimah yang telah mengikat pernikahan lebih suka membesar-besarkan perbedaan kemudian memilih jalan percekcokan hingga akhirnya perceraian. Yakinlah bahwa Allah tidak salah memilihkan kita pasangan. Tapi perbanyaklah intropeksi diri, jangan sampai tidak mensyukuri pasangan yang telah Allah anugerahkan kepada kita.*/Imam Nawawi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Jadilah Pemuda Muslim yang Tangguh!
Tulisan selanjutnya “Bapak Shalat” atau “Bapak Puasa”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Berita
30 Mei 2026 10:28
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?