Hidayatullah.com–Gema gemuruh serangan udara pasukan rezim Presiden Bashar Al-Assad dan tembakan mortir balasan dari pasukan oposisi menggetarkan bangunan-bangunan di kejauhan. Namun, di dalam sebuah salon kecantikan di kota Damaskus, para pengunjung seakan tidak mempedulikannya.
Di kepung perang saudara yang terus berkecamuk seakan tanpa akhir, sebagian wanita Damaskus bersikukuh untuk tetap mempertahankan kecantikan dan menjaga penampilannya.
Perang itu “rasanya sudah berlangsung selama 100 tahun,” kata Lubana Murshid, seorang pelanggan wanita sambil melihat-lihat koleksi yang dipajang mulai dari krim hingga Botox di sebuah pameran kosmetika di Damaskus.
“Setiap hari ada kematian, tembakan mortir … semuanya buruk,” ujarnya.
“Karena itu, saya lebih suka merawat diri sendiri dan makeup saya, merawat kulit saya, karena ini berpengaruh pada ketenangan batin dan membuat diri saya merasa lebih baik.”
Dampak dari konflik, kata Murshid, terlihat di wajah banyak orang. “Bikin kita tua.”
Perang antara pasukan pendukung rezim Bashar Al-Assad dan pasukan oposisi berlangsung sejak Maret 2011, dengan korban jiwa lebih dari 200.000. Sementara jutaan orang lainnya pergi mengungsi hingga ke luar negeri, tinggal di tenda-tenda kumuh dan makan dari bantuan kemanusiaan.
Namun, keadaan sepertinya normal-normal saja bagi sebagian orang di daerah yang dikuasai pasukan pro-rezim di Damaskus. Sebagian wanita memanjakan diri dengan produk-produk kecantikan, bahkan dengan kosmetika yang tergolong mewah.
“Masalah kecantikan adalah masalah fundamental, dan selalu saja ada orang yang akan membeli tanpa mempedulikan harganya,” kata Nabila Murtada, seorang penjual krim kecantikan yang mengandung emas dan caviar, yang sedang dipamerkan di sebuah hotel kelas atas di Damaskus dikutip AFP (11/12/2014).
Perekonomian Suriah porak-poranda akibat perang. Infrastruktur di negara itu, termasuk pabrik-pabrik, banyak yang hancur. Jalan-jalan yang berbahaya membuat pengiriman barang semakin sulit. Sanksi internasional membuat barang impor juga semakin tak mudah didapat. Pengangguran dan kemiskinan merajalela, di mana Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan lebih dari setengah populasi Suriah saat ini berada dalam kondisi kemiskinan parah.
Muhamed Mebar, direktur penjualan untuk beberapa mereka global, mengatakan bisnisnya sempat mendeg di awal masa konflik. “Tapi tahun ini penjualannya naik, sebab orang sudah terbiasa dengan kenaikan harga,” ujarnya.
Iman Othman, seorang pakar kosmetik dengan pengalaman satu dekade, mengatakan usahanya baik-baik saja seperti dulu. “Krisis tidak mempengaruhi kerja kami karena para wanita akan berusaha dengan banyak cara guna menjaga penampilan mereka.”
Johnny Bashur, direktur penjualan sebuah perusahaan khusus menjual silikon-silikon implan dan Botox, juga merasa optimis dengan masa depan usahanya meskipun perang berkecamuk.
Banyak wanita akan tetap mencari perawatan kecantikan seperti itu, tidak peduli perang dan tidak peduli berapa harganya, kata Bashur.
“Mereka ingin kelihatan lebih muda dan ingin membuat dirinya sendiri merasa lebih baik sehingga meningkatkan kepercayaan diri,” kata pria pengusaha itu.
“Mereka para pecinta makeup masih tetap setia,” kata Leila, seorang wanita yang mengelola toko kosmetik di daerah Mazraa pusat kota Damaskus.
Harga kosmetik yang dijualnya naik, karena sulit untuk mendapatkan barang di masa perang. “Tetapi permintaan masih tetap sama,” ujarnya.
Di sebuah pameran, direktur pemasaran Ehab Al-Nowaiqil memajang suplemen-suplemen buatan Amerika yang menjanjikan kulit mulus dan rambut yang lebih indah.
“Kami memutuskan untuk mempertahankan pasar Suriah, karena kami merasa krisis tidak akan menjadi halangan dan orang-orang Suriah memiliki semangat hidup yang tinggi,” kata Al-Nowaiqil.
Di pinggiran ibukota Suriah, seorang ibu rumah tangga bernama Siham menganggap perawatan kecantikan merupakan salah satu terapi mental di tengah-tengah kengerian perang.
“Tak peduli betapa lelahnya Anda, Anda pasti ingin terlihat (cantik) seperti wanita lainnya,” kata Siham di sebuah salon kecantikan.
Kerunyaman perang “tidak boleh sampai ke jiwa kita,” ujarnya.*