Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Akibat Fanatisme, Umat Islam Kalah Pada Perang Salib [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Februari 2015 10:07 10:07 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Februari 2015 10:04
Bagikan
Alwi Alatas (baju koko putih) bersama vokalis nasyid Raihan, Che Amran
Bagikan

Lanjutan wawancara PERTAMA

Perpecahan Sudah Tingkat Fisik

Anda menyebut perpecahan akibat fanatisme golongan, beri  contoh kami kasus-kasus perpecahan dalam sejarah Islam, di mana kasus itu justru berpotensi melemahkan umat atau menjadi peluang musuh mengalahkan kita?

Salah satu contoh yang bisa kita ambil adalah pada masa menjelang Perang Salib. Ketika itu terjadi perpecahan di antara kelompok-kelompok Muslim, bahkan di antara empat madzhab.

Pada taraf apa perpecahannya?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Perpecahan itu sampai ke tingkat kecenderungan saling mengkafirkan di antara sebagian ulama madzhab yang berbeda. Hal ini beberapa kali menyebabkan terjadinya konflik fisik di antara dua kumpulan pelajar atau dua kampung yang berbeda madzhab.

Keadaan ini jelas melemahkan umat. Pada gilirannya para pemimpinnya juga berpecah-belah. Yang ini bukan karena beda madzhab, tetapi karena beda kepentingan politik dan kekuasaan. Ketika para ulamanya sibuk dengan perbedaan madzhab, umat dan pemimpinnya kehilangan arah dan pegangan. Sehingga ketika tentara Salib masuk pada akhir Abad ke-11, kaum Muslimin tidak mampu menahannya, bukan karena mereka kalah kuat dibanding musuh, tetapi karena mereka sendiri bermusuh-musuhan satu sama lain.

Sejauh apa konfliknya kala itu?

Kadang terjadi juga konflik fisik. Tapi yang lebih sering terjadi adalah saling mencela dan saling mengecam di antara kelompok-kelompok Muslim pada masa itu.

Apakah sama dengan saat ini?

Pada masa sekarang ini tentunya tidak persis sama. Tapi sekarang ini perbedaan dan friksi juga dilatari oleh fanatisme masing-masing kelompok. Ada juga terjadi saling serang secara verbal, atau saling tuduh melalui media social (Medsos). Sekarang ini, konfliknya berpotensi untuk tersebar lebih cepat karena adanya teknologi dan telekomunikasi yang pada jaman dahulu tidak ada.

Selain itu ada hal lain yang perlu kita cermati. Pada jaman dahulu, era Perang Salib misalnya, musuh lebih sedikit jumlahnya dan tidak lebih kuat dari kaum Muslimin. Tapi mereka mampu mengalahkan umat Islam (pada Perang Salib I) disebabkan umat berpecah belah.

Sekarang, zionis dan para pendukungnya lebih kuat dari segi teknologi, media, finansial, militer, dan berbagai hal lainnya. Dengan bersatu saja kita sebenarnya masih kalah unggul dalam banyak hal dibandingkan mereka, bagaimana lagi dengan berpecah belah?

Bagaimana agar masalah perbedaan (khususnya masalah furu’) tidak terus melebar? 

Konflik dan perpecahan internal Ahlu Sunnah itu merupakan masalah di dalam dirinya sendiri. Kita tidak perlu menyalahkan pihak lain. Memang benar bahwa adanya perpecahan atau potensi perpecahan itu akan dimanfaatkan oleh pihak lain yang berkepentingan untuk melemahkan umat. Tetapi kita tidak mungkin menyelesaikan masalah kita dengan melemparkan kesalahan pada pihak lain.

Kalau pihak lain dengan kepentingannya berusaha memecah-belah kita maka itu memang kerja mereka (ini bukan berarti mereka benar), tetapi masalahnya mengapa kita mau dipecah-belah? Mengapa kita memberi ijin kepada mereka untuk memecah-belah kita?

Selain itu, jika kita sibuk melemparkan kesalahan pada pihak lain, kita seolah menganggap tidak ada masalah pada diri kita dan karenanya tidak merasa perlu untuk melakukan perbaikan.

Persatuan itu harus diikat oleh sesuatu yang mendasar dan lebih permanen, sehingga bisa diharapkan untuk menyelesaikan semua, atau setidaknya sebagian besar, permasalahan umat.

Tentang perbedaan di antara kelompok-kelompok yang ada, maka kita perlu memahami bahwa perbedaan itu akan selalu ada. Bahkan di dalam satu kelompok pun biasanya ada perbedaan juga. Ini sifat manusia. Karena itu diperlukan komunikasi, upaya untuk saling memahami, serta sifat berlapang dada dalam menyikapi perbedaan furu’ yang ada.[]

 

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahlus sunnahAhlus Sunnah Wal Jama’ahPerang SalibpersatuanUkhuwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Beginilah Islam Membela Para Muslimah
Tulisan selanjutnya Studium Generale I SPI #IndonesiaTanpaJIL Membahas Sirah Nabawiyah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Berita
3 Juni 2026 06:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?