Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Agar Harta Tidak Menimbulkan Penyesalan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 September 2011 13:28 1:28 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 September 2011 13:28
Bagikan
Bagikan

BAGI kebanyakan orang, hidup hanyalah untuk memenuhi kebutuhan dasar. Adapun yang disebut dasar itu adalah kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta kebutuhan pendidikan dan kesehatan diri dan anggota keluarga. Karena itu, orang bekerja mati-matian memenuhi kebutuhan yang disebut di atas. Setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, biasanya orang tidak puas hanya sampai di situ. Secara naluriah, muncullah kebutuhan-kebutuhan lain seperti bersenang-senang dan bergaya. Karena itu, orang pun lantas menebus kebutuhan untuk berlibur, meninjau tempat-tempat yang menyenangkan, dan juga memakai barang-barang yang tidak lagi berdasarkan fungsinya, tapi sudah bergeser menjadi berdasarkan estetik dan gengsinya.

Demikianlah orang membeli baju yang mewah, rumah yang besar dan mewah dan juga kendaraan yang serba mewah. Itulah sifat asli kebanyakan manusia. Walhasil manusiapun larut memperturutkan kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Pada titik itu, manusia jatuh menjadi subjek seperti yang disinggung oleh Allah: al-hâkumu al-takâtsur. (1). Hattâ zurtumu al-maqâbir (2) (Bermegah-megahan (dalam hal jumlah anak, harta, pengikut dan kemuliaan dunia) telah melalaikan kamu. Hingga kamu masuk ke dalam kubur.) Ya, memang pada akhirnya manusia kebanyakan hanya sibuk mengumpulkan harta yang pada awalnya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, tetapi lama kelamaan bergeser mengumpulkan harta untuk penumpukan harta itu sendiri hingga manusia larut dan lupa diri.

Lupa diri dalam menumpuk harta itu hanya akan berhenti manakala manusia telah masuk ke liang kubur. Tatkala sudah berada di liang kubur, harta yang menumpuk tak ada artinya lagi bagi dirinya yang tengah menghadapi persoalan hukum dengan Tuhan. Saat seperti itu, penyesalan sudah sangat terlambat. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang disinyalir Tuhan pada surah Al-Takâtsur di atas.

Tentulah agar kita terhindar dari kecaman Tuhan tersebut, sebaiknya kita mesti memiliki sikap yang jelas terhadap harta.

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Pertama, kita harus menyadari bahwa harta adalah milik Allah. Karena itu, tidak tepat menganggap harta yang kita peroleh meskipun dengan mengerahkan segenap pikiran dan keringat kita adalah milik kita pribadi.

Anggapan semacam inilah yang menjadi pangkal timbulnya kerusakan sosial di tengah-tengah masyarakat. Anggapan semacam ini pulalah yang menimbulkan aktivitas penumpukan harta dan keengganan untuk membagi kepada sesama yang kemudian pada akhirnya menimbulkan keirian dan kedengkian di pihak lain dan keangkuhan di pihak yang punya harta.

Sayangnya, paham liberalisme dan individualisme yang berkembang kuat di zaman ini mengafirmasi sikap keliru terhadap harta tersebut. Karena itu jangan heran, bila kerusakan sosial begitu parah terjadi di dalam masyarakat.

Kedua, karena harta tidak untuk ditumpuk, maka hendaknya dibelanjakan kepada yang dianjurkan oleh Tuhan supaya harta dapat beredar dan menimbulkan kesejahteraan bersama. Inilah rahasia larangan Tuhan untuk menumpuk harta dan anjuran-Nya yang kuat agar harta diinfakkan (disalurkan atau dibelanjakan) kepada objek-objek yang tepat.

Adalah tidak tepat apabila kita membelanjakan harta terhadap hal-hal yang diharamkan-Nya. Sebab hal itu sama dengan penghianatan terhadap Allah si Pemilik Harta sesungguhnya.

Jika saja kedua sikap di atas benar-benar diamalkan minimal oleh orang Muslim saja—tidak harus seluruh manusia—, sudah barang tentu kerusakan sosial dapat diminimalisir dan jangkauan kesejahteraan dapat diperluas di tengah-tengah masyarakat.*/Syahrul Efendi D

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dukung Zionis, Malaysia Batalkan Perjanjian dengan AS
Tulisan selanjutnya Teh Hijau Bantu Pangkas Kolesterol

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?