Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Gaya Hidup Muslim

Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya

Ahmad
Terakhir diupdate: 9 Januari 2012 07:38 7:38 am
Ahmad
Dipublikasikan 9 Januari 2012 07:38
Bagikan
Bagikan

TIDAK bisa kita pungkiri bahwa sifat amanah (kejujuran) adalah hal yang mulai langka saat ini. Padahal sifat amanah itu adalah syarat menuju kebangkitan dan kejayaan. Tidak akan ada orang yang tampil menjadi pemimpin besar tanpa memiliki sifat amanah. Karena keadilan tidak akan tegak kecuali di tangan orang-orang yang dapat dipercaya.

Hari ini, tidak sedikit orang yang mengutamakan cara berpikir pragmatis dalam bekerja juga termasuk dalam berdakwah. Inilah yang menjadikan kondisi umat Islam secara keseluruhan belum mampu tampil ke permukaan sebagai umat terbaik.

Akhirnya muncul logika, “Apa yang bisa saya dapatkan”. Padahal motto hakiki yang mesti dimiliki setiap Muslim adalah, “Apa yang bisa saya bantu, apa yang bisa saya berikan,” bukan sebaliknya. Apalagi ikut-ikutan pakai jurus ‘aji mumpung’. “Yah, mumpung masih menjabatlah, cepat-cepat kumpulin kekayaan. Lima tahun lagi kalau gak kepilih kan gak bisa menikmati!”

Kalau kita data, ada cukup banyak anggota DPR, pejabat negara yang tersandung kasus korupsi dan harus mendekam dalam bui. Sementara itu, mereka juga orang Islam yang dari namanya saja sudah bisa diketahui.

Dalam dunia dakwah juga mulai banyak praktik pragmatisme ini. Ketika seorang aktivis ditunjuk sebagai ketua misalnya. Logika yang terbangun adalah, “Wah untuk apa saya susah-susah mengerjakan hal-hal begini. Belum tentu nanti kalau bagus hasilnya saya bisa menikmati.”

Baca Juga

Gaya Hidup Minimalis: Kunci Kesehatan Mental di Tengah Hidup Serba Cepat
Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan
Teladan Rasulullah untuk Para Suami
Tawakkal dalam Bekerja
Awasi Makananmu, Selamat Hidupmu!

Logika itulah yang menjadi sebab utama, mengapa umat Islam miskin produktivitas, miskin prestasi. Bekerja tidak lagi murni karena Allah, tidak lagi murni karena memperjuangkan umat Islam.

Tengoklah bagaimana sikap kaum Anshor tatkala menerima kedatangan kaum Muhajirin yang datang ke Madinah. Kaum Muhajirin datang ke Madinah tanpa perbendaharaan harta (istilah sekarang MADESU alias masa depan suram).

Akan tetapi kaum Anshor tak ragu untuk berbagi dengan kaum Anshor. Seluruh milik mereka dipersilakan separuhnya untuk kaum Muhajirin.

Apa pasal kaum Muhajirin berani bersikap seperti itu? Karena kaum Anshor mengenal dengan pasti bahwa kaum Muhajirin adalah para pengikut utama rasulullah saw yang tentu jika diberi kepercayaan akan memiliki komitmen, punya etos kerja yang bagus, juga memiliki dedikasi yang tinggi.

Kunci Sukses Nabi

Amanah adalah senjata utama rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak kecil beliau telah dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Perangainya yang jujur tersebut membuat saudagar kaya-raya, Khadijah tertarik merekrut beliau sebagai direktur pemasaran dalam perniagaan yang diusahakannya.

Bahkan karena kekagumannya yang tak terbendung akan kejujuran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, Khadijah pun yakin dengan sepenuh hati, bahwa dirinya tidak akan merugi bila melamar rasulullah saw sebagai suaminya. Artinya sikap amanah nabi kala itu telah mengantarkan beliau sukses menjadi figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, sebagai pemimpin dan sebagai utusan Allah SWT.

Jadi pantaslah jika Rasulullah menegaskan bahwa amanah adalah cermin keimanan seorang Muslim. “Rasulullah tidak pernah berkhutbah untuk kami kecuali ia mengatakan : “Tidak adakeimanan bagi orang yang tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak pandai memeliharanya.” (HR Imam Ahmad bin Hambal).

Etos Kerja dan Keuntungan Besar

Sikap amanah akan mendorong seorang Muslim memiliki etos kerja yang baik. Baginya, segala aktivitas adalah dalam rangka mendapat ridho Allah, termasuk dalam hal bekerja. Oleh karena itu, dia akan menjaga dirinya dari berbuat curang, korup, dan beragam tindak tercela lainnya yang dapat merusak kualitas keimanannya.

Seperti yang populer diriwayatkan dalam sejarah kekhalifahan Umar bin Khattab mengenai seorang gadis yang dipaksa oleh ibunya agar mencampur susu yang hendak dijual esok hari agar dicampur dengan air.

“Campurlah susu itu dengan air wahai putriku,” ujar si ibu. “Tidak ibu, aku tidak akan pernah melakukan hal itu,” tegas sang anak. “Bukankah tidak ada orang yang melihat kita, tidak ada khalifah di sini,” timpal sang ibu. Sang anak langsung menjawab dengan tegas, “Apakah ibu lupa bahwa Allah melihat segala sesuatu.”

Mendengar jawaban sang gadis, Umar yang ketika itu sedang dalam perjalanan patroli, langsung membuat satu keputusan besar. Khalifah kedua itu langsung menikahkan putranya dengan putri penjual susu itu. Apa pasal, tidak akan merugi selamanya orang yang menjadikan amanah sebagai perangai dalam hidupnya.

Keuntungan dunia tak membuatnya tergoda untuk bertindak dosa. Justru sebaliknya, kesusahan hidup yang dirasa, justru membuatnya kian semangat bekerja dengan mematuhi sepenuh hati syariah Allah Subhanahu Wata’ala.

Luar biasa, atas kehendak Allah, akhirnya dari keturunan putra Umar dan gadis penjual susu itu lahirlah khalifah terbaik pasca khulafaur rasydin, yaitu Umar bin Abdul Azis. Sungguh satu keuntungan yang sangat besar.

Setiap Kita Mengemban Amanah

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda; “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang pembantu adalah pemimpin dalam memelihara harta tuannya dan ia akan ditanya pula tentang kepemimpinannya”, (HR Imam Bukhori).

Oleh karena itu, marilah kita berupaya menumbuhkan sikap amanah dalam diri kita. Yaitu dengan sungguh-sungguh memelihara iman. Kaya jangan membuat kita kikir, apalagi sombong, semena-mena, karena harta benda itu hakikatnya hanyalah titipan bahkan boleh jadi justru sebuah ujian.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 8 : 29).

Sebaliknya Allah melarang setiap Muslim menjadi pengkhianat atau pengabai amanah. Sebagaimana Allah SWT tegaskan;

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal : 27).

Ringkasnya sebagai apapun, kita wajib menjadi Muslim yang amanah. Jika anda guru, maka mengajarlah dengan penuh semangat dan keteladanan. Jika anda pejabat, maka bekerjalah dengan penuh semangat untuk kepentingan ummat. Jika anda pelajar, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh demi mendapat ilmu yang bermanfaat untuk menegakkan agama AllahSubhanahu Wat’ala.

Jika bukan amanah Allah yang kita perjuangkan lantas kebahagiaan dari siapa yang bisa kita harapkan? Tanpa mentalitas amanah yang baik, mustahil kebangkitan umat Islam akan tegak di muka bumi. Wallahu a’lam./Imam Nawawi

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Salafy Mesir: Wisata OK, Pelacuran No
Tulisan selanjutnya Hidup Adalah ‘Roller Coaster’ Gratisan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali

Terbaru

  • 123 Santri Ar-Rohmah Putri Diterima PTN Jalur SNBP dan SNBT, Terbanyak di Malang
  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Mungkin Anda Juga Suka

Gaya Hidup Muslim

Hati-Hati dalam Timbangan dan Takaran

16 November 2022 11:58
Gaya Hidup Muslim

Beginilah Islam Memuliakan Pembantu

7 November 2022 13:30
Gaya Hidup Muslim

Sibuk Mengoreksi Diri Sendiri

18 Oktober 2022 09:00
Gaya Hidup Muslim

Berapa Kali Kita Mengkhatamkan Al-Quran?

9 Oktober 2022 08:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?