Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Kapan Ikhtilath Dibolehkan? Apa Adabnya?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Mei 2010 18:06
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Salah seorang ulama terkemuka di Arab Saudi, Syeikh Dr. Abdul Latif bin Abdul Aziz Alu As Syeikh, turut ambil bagian dalam kontroversi ikhtilath, yaitu percampuran antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di satu tempat. Kontroversi ikhtilath ini menjadi permasalahan besar di Kerajaan, serta menjadi perbincangan yang hangat di berbagai media masa di Arab Saudi. Demikian dilansir oleh Al-Arabiya.net (17/5).

Syeikh Abdul Latif menilai bahwa pendapat orang-orang yang tidak membolehkan adanya ikhtilath dalam keadaan darurat itu masih kurang tepat menurut tujuan hukum Islam. Karena menurutnya, di dalam hukum Islam jelas terdapat perbedaan antara ikhtilath yang diperbolehkan dan ikhtilat yang diharamkan.

Dia menambahkan bahwa ikhtilat yang didasarkan pada toleransi, tidak bertentangan dengan apa-apa yang telah dinyatakan dalam buku-buku dan fatwa-fatwa kelompok yang mengharamkannya.

Mantan Asisten Dua Sekjen Hai’ah Kibar Ulama ini juga mengatakan, semua ulama telah sepakat bahwa tujuan diletakkannya syariat Islam adalah untuk menjaga kebutuhan manusia yang sangat penting, yaitu: menjaga agama, menjaga jiwa dan raga, akal, keturunan, dan yang terakhir adalah menjaga harta. Kelima poin ini dalam istilah fikihnya disebut dengan dharuriyat.

Jika salah satu dari lima dharuriyat ini hilang, maka kemashlahatan manusia juga tidak akan terwujudkan. Bahkan hanya akan menimbulkan kerusakan dan kehancuran umat manusia.

Baca Juga

Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Dalam kontroversi ikhtilath ini, para ulama terbagi menjadi dua pendapat dan dua kelompok. Ada yang mengharamkannya secara mutlak, dan ada juga yang membolehkannya selama tidak melanggar syari’at Islam.

Dia menjelaskan lagi bahwa syariat Islam telah dirancang sedemikian rupa agar manusia mudah untuk menjalankannya, bukan malah dipersulit atau menjadi beban. Dan sekarang bisa dilihat bagaimana ikhtilat itu sudah tidak bisa dihindari, terutama di tempat-tempat umum seperti di pasar dan di Masjidil Haram ketika musim haji. Maka Syeikh Abdul Latif menilai bahwa ikhtilat seperti ini merupakan ikhtilath yang ada pada ranah dharurah.

Ia menegaskan lagi bahwa ikhtilath seperti ini bukanlah masalah yang baru-baru ini saja muncul. Masalah ini sudah ada sejak zaman dulu, dan bahkan ketika zaman tasyri’ atau zaman dibentuknya syariat Islam, yaitu pada masa Rasulullah SAW.

Namun, tambahnya lagi, tidak ada syariat Islam yang mengharamkannya secara mutlak. Lebih dari itu, syariat Islam justru membolehkan adanya ikhtilath ketika di Masjidil Haram, saat pelaksaan haji.

Beliau juga menyebutkan adab-adab yang harus dipenuhi, hingga ikhtilath dibolehkan. Hal ini tentu saja berbeda dengan ikhtilath yang diperbolehkan. Ikhtilath yang diperbolehkan tentu memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi, sebagai berikut:

1. Diwajibkan bagi perempuan untuk menutup aurat. Sesuai dengan ayat Al Qur’an: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59)

2. Diwajibkan untuk penjaga pandangan (ghaddul bashar), baik bagi laki-laki maupun perempuan. Seperti yang dijelaskan dalam surah An-Nur ayat 30: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”, dan ayat 31: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya.”

3. Bagi perempuan agar menjaga sikap ketika berbicara, sehingga tidak membuat orang lain berniat untuk berbuat yang tidak baik. “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)

4. Ketika berjalan, diharapkan tetap tenang dan tidak memperlihatkan perhiasan. “Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.” (Al-Nuur: 31)

5. Tidak dengan gaya yang berlebihan dan bermacam-macam.

6. Meninggalkan pekerjaan yang tidak bermanfaat, atau yang mengundang laki-laki untuk melakukan tindakan yang tidak baik.

7. Tidak diperbolehkan bagi perempuan memakai pakaian atau perhiasan apapun seperti wangi-wangian yang mencolok, yang bisa menimbulkan syahwat bagi laki-laki.

8. Menghindari adanya sentuhan antar laki-laki dan perempuan.

9. Hendaknya ikhtilath masih dalam batas-batas kewajaran, sesuai dengan kebutuhan, dan tidak melampaui batas.

10. Tidak melampaui batas gender antara laki-laki dan perempuan sehingga adab dan moral antara keduanya tetap terjaga.

11. Tetap ingat kepada Allah SWT dan merasa selalu dalam pengawasan-Nya, serta takut kepada-Nya. Karena hal yang seperti itu dapat mencegah kita untuk tidak melakukan perbuatan yang diharamkan.

12. Dianjurkan adanya sanksi bagi siapa saja yang melanggar ketentuan-ketentuan di atas tadi.

13. Ikhtilath tidak dilakukan secara sengaja, melainkan karena dalam keadaan darurat dan kebutuhan.

Beda, khalwat dan ikhtilath

Syeikh Abdul Latif juga secara tegas membedakan antara khalwat dan ikhtilath. Khalwat adalah menyendirinya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram pada suatu tempat yang tidak dilihat orang banyak, tanpa adanya muhrim perempuan. Dan khalwat seperti ini jelas diharamkan oleh syari’at Islam. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadist: “Tidaklah berkhalwat antara laki-laki dan perempuan kecuali terdapat muhrimnya”.

Namun Syeikh Abdul Latif menerangkan lagi, juga terdapat khalwat yang diperbolehkan ketika dalam keadaan darurat. Seperti di kala seorang wanita tersesat sendirian di padang pasir, maka wajib bagi laki-laki, walau bukan mahramnya memberikan pertolongan. [sadz/aby/sbq/hidayatullah.com]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 200 Tentara Asing Tewas di Afganistan Sejak Awal 2010
Tulisan selanjutnya MUI Bangka Nyatakan Undian Ibadah Umrah Judi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Berita
31 Agustus 2026 18:22
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

31 Agustus 2026 21:23
Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

31 Agustus 2026 20:47
Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

31 Agustus 2026 20:11
Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

31 Agustus 2026 20:04
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?