Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Feature

Menghapus Kesan Buruk Amerika Lewat Pertukaran Pelajar

Dija
Terakhir diupdate:
Dija
Dipublikasikan 18 Desember 2010 11:33
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sylvania Franseda berdiri di sebuah ruang kelas yang penuh dengan siswa kelas delapan dalam acara Biro Pendidikan Yahudi dari sekolah Hebrew High, yang digelar Selasa malam (7/12) di Ina Levine Jewish Community Campus.

“Apakah ada orang Yahudi di Indonesia?” tanya seorang siswa laki-laki dalam acara itu.

“Saya tidak tahu,” jawab Sylvania. “Saya tidak punya teman Yahudi. Jadi ini kesempatan baik bagi saya untuk mengenal kalian.”

Seorang siswa lain menanyakan tentang perbedaan antara masakan Indonesia dan Amerika.

“Di Indonesia, kami suka makanan kaya bumbu,” ujar Sylvania. “Di Amerika, orang suka makanan instan. (Di rumah) ibu saya memerlukan waktu lama untuk memasak.”

Baca Juga

Kisah Mualaf Big Frank, Influencer Penuh Tato asal Inggris
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Tangis Perempuan Guangzhou: Ketika Pasar Jodoh China jadi Cermin Krisis Sosial
Dari Ateis jadi Muslim: Perjalanan Simon Wallgren Menemukan Cahaya Islam
Ketika Penghuni Muslim Terancam Ulah Tetangga

Sylvania, seorang siswa sekolah menegah di Arcadia, adalah satu dari enam peserta pertukaran pelajar selama satu tahun di wilayah Greater Phoenix. Program itu bagian dari Youth Exchange and Study (YES) melalui American Field Service (AFS). Begitu keterangan koordinator AFS YES setempat, Karen Powers. Peserta ketujuh akan bergabung dengan mereka Januari mendatang.

YES didanai oleh Departemen Luar Negeri AS. Dibentuk tak lama setelah peristiwa 9/11. Pemerintah AS memberikan beasiswa penuh kepada siswa sekolah menengah dari negara-negara Muslim melalui program pertukaran pelajar yang telah ada.sebelumnya, salah satunya yaitu AFS.

Idenya, menurut Powers, adalah untuk melenyapkan stereotipe tentang Islam di Amerika, dan ketika para siswa kembali ke tanah airnya, mereka diharapkan bisa membantu menghancurkan stereotipe tentang Amerika Serikat.

Siswa Amerika juga bisa mendapatkan beasiswa untuk belajar ke negara-negara Muslim melalui program YES.

Bagi pemerintah federal, program ini bukan yang pertama kalinya. Program beasiswa perukaran pelajar, yang sekarang dikenal dengan nama Future Leaders Exchange (FLEX), dibentuk tidak lama setelah Tembok Berlin runtuh tahun 1989, dengan tujuan membawa siswa-siswa dari bekas negara Uni Soviet ke Amerika.

Salah satu persyaratan bagi siswa YES adalah mereka mengikuti kerja sukarela. Keenam peserta tadi menjadi sukarelawan di ICM Food dan Clothing Bank di Phoenix. Persyaratan lain, pada bulan Nopember mereka harus melakukan presentasi guna menjelaskan tentang negara asal mereka.

“Saya biasanya meminta mereka bicara tentang Islam, jika mereka Muslim, dan juga tentang menjadi siswa pertukaran,” jelas Powers.

Para peserta dalam beberapa kesempatan berinteraksi dengan komunitas Yahudi. Mereka mendapat berbagai macam pertanyaan, semisal “apa persamaan antara Yudaisme dan Islam?”, “seperti apa sistem pendidikan di tempatmu?” hingga “acara televisi apa yang suka kamu tonton?”

Pada 16 Nopember lalu saja di Hebrew High, sekolah menegah yang terletak di Scottdale, mereka menemui hampir 70 siswa kelas delapan. Mereka juga menghadiri acara bat mitzvah (upacara keagamaan menandai anak perempuan Yahudi yang berusia 12 tahun memasuki pubertas, red)  di Congregation Beth Israel dan berbicara di hadapan siswa kelas tujuh dari sekolah agama CBI.

\”Itu seperti berada dalam sebuah momen ajaib di mana Anda melangkah memasuki kelas dan setiap orang berhubungan,\” ujar Kepala Sekolah CBI Stacy Rosenthal. \”Kita bisa mempelajari agama lain dari buku teks, kita dapat melihat dari sumber online terbaik dan terbaru, tapi … mendapati anak-anak dari negara lain dan agama lain yang benar-benar datang, berbicara dan berdialog, terasa lebih relevan dan akrab.\”

Kemudian juga ada kisah keluarga Friedman dari Scottdale yang menjadi tuan rumah siswa asal Turki, Sarp Senesen. Keluarga Yahudi itu bahkan mengajak Sarp menghadiri pembacaan Taurat di Kuil Solel saat Yom Kippur. Mereka mengajaknya ke altar dan membuka kitab suci Yahudi.

Siswa dari Mesir, Mahira Abdelghany, yang disekolahkan sementara di Phoenex Country, sedikit mengalami hambatan dalam kebiasaan sehari-hari.

Dalam keluarganya, melakukan pekerjaan rutin di rumah berarti menyelesaikan apa yang menjadi tanggungjawabnya kapan saja sesempatnya. Tapi di Amerika, melakukan tugas rutin berarti menyelesaikan tugasnya pada jam dan selama waktu tertentu.

Susanto Prakoso dari Indonesia, yang disekolahkan di McClintock High School, mencatat adanya perbedaan dalam pelaksaan ibadah di kalangan remaja AS dengan Indonesia.

“Kebanyakan teman sekolah saya di sini, mereka punya agama tapi jarang pergi ke rumah tempat ibadahnya,” katanya. “Di Indonesia, jika Anda seorang penganut Kristen, Anda sering ke gereja. Jika Anda Muslim, Anda sering ke masjid.”

Lantas apa yang akan dibawa pulang oleh para peserta ke tanah airnya dari pengalaman bersekolah di Amerika selama satu tahun?

“Saya beharap ketka kembali ke Indonesia, saya dapat menyebarkan saling pengertian antar agama, bahwa tidak ada agama yang lebih baik dan tidak ada agama yang buruk,” kata Susanto Prakoso.

Maherani Abdelghany berharap bisa membuat sebuah kelompok di lingkungan rumah atau sekolahnya untuk berbagi pengetahuan tentang budaya yang berbeda.

Sarp Senesen mengatakan, bertemu dengan siswa dari seluruh negara di dunia sama manfaatnya dengan mempelajari budaya Amerika.

“Sekarang saya tidak berpikir orang lain itu aneh, ketika saya melihat orang asing dari budaya yang berbeda,” ujarnya. “Ketika saya datang (ke AS), saya dulu yang aneh,\” pungkas Sarp Senesen.[di/jewn/hidayatullah.com]

Foto: Keluarga Friedman berfoto bersama siswa Turki, Sarp Senesen.

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Hyena Berkeliaran di Kampung Palestina
Tulisan selanjutnya Kapoldasu: Polisi Masih Banyak Melanggar HAM

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Puluhan Warga Palestina Syahid dalam Dua Hari Serangan ‘Israel’, Turki: Netanyahu Sabotase Perdamaian

Berita
3 Agustus 2026 14:27
PBNU Pastikan Pesantren Tambakberas Siap Tampung Lebih dari 3.000 Peserta Muktamar Ke-35 NU
152 Warga Palestina Syahid pada Juli, Tertinggi Tahun Ini
Amerika Tutup Misi Diplomatik di Medan dan Kota Lain di Beberapa Negara
Korea Selatan Mencatat Rekor Suhu Udara Terpanas 42,5 Derajat Celsius

Terbaru

  • Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
  • Erdogan Buka Pintu Bagi Negara Sahabat Gabung Perjanjian Pertahanan Makkah
  • Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
  • Nasyiatul Aisyiyah Gelar Muktamar ke-15, Dihadiri 6.700 Kader
  • Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
  • Serangan Houthi Lukai 11 Orang, Koalisi Saudi: Sengaja Targetkan Sipil
  • Menko Pangan: Ponpes dengan 1.000 Santri Lebih Boleh Bikin SPPG
  • Investigasi Drop Site: Ada Pejabat PBB Jadi Informan ‘Israel’
  • Mayoritas Orang Amerika Menentang Perang AS-Iran, Menurut Jajak Pendapat Reuters/Ipsos
  • Kebohongan Profesor Cambridge Jason Arday yang Diungkap Media

Mungkin Anda Juga Suka

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

30 Mei 2026 17:30
Feature

Karena Politik Penjaga Sapi, Peternak Menangis Pasar Sepi

27 Mei 2026 07:57
Feature

Niat Ajak Teman Kembali Kristen, Pemuda Ini Justru Temukan Hidayah dan Masuk Islam

30 April 2026 14:00
Feature

Jawad Pulang dengan Luka Siksaan ‘Israel’

26 Maret 2026 07:50
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?