Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Sunnah Kontra Syiah, Mencari Akar Persoalan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 28 Agustus 2012 10:19
Bagikan
Kaum Syiah dalam sebuah acara Asyura di Jakarta
Bagikan

Oleh: Kholili Hasib

KONFLIK Sunnah (Ahlus Sunnah wal Jama’ah)-Syiah pecah lagi. Tapi, pihak berwenang masih enggan menelusuri akar persoalan secara baik. Penanganan ini harus melibatkan para Ulama. Pengamat kebudayaan atau aktivis LSM harus hati-hati memberi komentar.

Pasca kerusuhan Sampang Madura pada Ahad (26/08/2012) kemarin, ragam pernyataan bermunculan di media cetak maupun elektronik. Namun, dari sekian pernyataan yang sering beredar, mayoritas bukan pernyataan lugas mengulas akar persoalan yang sesungguhnya. Kebanyakan berkomentar sederhana, bahwa hal itu cuma karena konflik keluarga, kemiskinan, kultur lokal masyarakat Madura, dan kegagalan intelejen.

Patut pula disayangkan, bahwa pihak-pihak yang tidak berkompeten memahami penyebab bentrok Sunnah-Syiah ikut berkomentar. Persoalan antara Sunnah-Syiah adalah problem akidah Islam. Sehingga yang paling tepat menjelaskan solusi damai Sunnah-Syiah adalah para Ulama, bukan pengamat sosial-kebudayaan dan aktivis LSM liberal.

Pengamat sosial-kebudayaan dan aktivis LSM lebih cenderung meninggalkan solusi normatif. Komentar-komentar seperti tersebut di atasb itu justru membuat keruh isu di masyarakat akar rumput. Padahal, isu Sunnah-Syiah menyangkut nilai-nilai romatif dan teologis. Karena kisruh ini merupakan problem keagamaan, makaa penyelesaiannya pun tidak boleh meninggalkan prinsip keagamaan masyarakat. Sehingga, lebih baik pihak-pihak yang tidak memahami akar persoalan tidak bersuara. Serahkan kepada para Ulama, umara dan pihak berwajib untuk menuntaskan persoalan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil — ketua umum MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) — menilai, konflik Sunnah-Syiah di Sampang disebabkan perbedaan aliran. Sejak berkembangnya Syiah di Indonesia, umat mayoritas terusik dengan ajaran-ajaran ‘radikalnya’, seperti cacian terhadap sahabat dan istri Nabi ‘Aisyah radliallahu anha. Keresahan meluas ketika praktik penistaan itu dilakukan dengan terang-terangan, bukan sembunyi-sembunyi lagi.

Dari data pengalaman di lapangan sering ditemukan masyarakat yang berkonversi ke Syiah, mereka menjadi ‘fasih’ mencaci para sahabat Nabi. Keanehan inilah yang memicu masyarakat tidak tahan bertindak.

Dalam keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Sunnah), penghormatan terhadap sahabat Nabi apalagi istri beliau merupakan bagian dari ajaran prinsip. Di kalangan jama’ah NU, penghormatan terhadap sahabat Nabi dan istrinya adalah ajaran penting. Sejak di pesantren-pesantren tradisional, para santri sejak dini diingatkan jika menulis atau menyebut sahabat Nabi, jangan lupa diikuti kalimat radliallahu ‘anhum (semoga Allah meridlai mereka). Ini merupaka akhlak luhur terhadap para sahabat yang berjasa pada Islam.

KH. Hasyim ‘Asy’ari — pendiri NU — mendiskualifikasi orang-orang yang menghina para sahabat dari madzhab Ahlus Sunnah. Bahwa, kelompok penista sahabat bukan bagian dari madzhab yang sah untuk diikuti (baca karya beliau Risalah Ahl al-Sunnah wal Jama’ah).
Makin meluasnya problem Syiah di daerah Jawa Timur juga dipicu mencuatnya ‘syiahisasi’ terhadap jama’ah NU.

Beberapa tahun lalu, sekitar awal tahun 2000-an, di daerah Jember dan Bondowoso dilaporkan puluhan orang NU awam yang eksodus dari NU dan masuk Syiah karena propaganda alumnus Iran.

Kabarnya, waktu itu ada sekitar 50 KK orang NU yang masuk Syiah. Jama’ah awam ini setelah masuk Syiah berani meninggalkan tradisi. Tidak segan-segan menista sahabat nabi dan ‘Aisyah radliallahu anha.

Meski telah lama ada indikasi dan kini telah terjadi bentrok fisik, sampai sejauh ini belum ada penyelesaian dari pihak berwenang secara memadai, untuk mencari akar permasalahannya.

Peraturan Gubernur Jawa Timur memang telah diterbitkan, namun implementasinya belum maksimal. Sosialisasi juga belum berjalan baik di masyarakat bawah. Maka pihak-pihak terkait harusnya gencar melakukan sosialisasi secara baik.

Menghukum pelaku baik dari pihak Sunnah maupun Syiah bukanlah satu-satunya solusi penyelesaian. Pelaku pengrusakan dan penganiyaan tetap diproses sesuai hukum. Begitu pula para penista ditindak sesuai peraturan.

Akan tetapi, memenjarakan terdakwa bukan akhir penyelesaian. Sebab, bentrok Sunnah-Syiah di Sampang bukan kriminal murni. Pihak berwenang sebaiknya memahami hal ini, dan mengkaji bersama para Ulama mencari apa penyebab sebenarnya kekisruhan ini.

Karena tidak ada arahan dari atas tentang akar kekisruhan, maka aparat keamanan bertugas seperti pemadam ‘kebakaran’. Menunggu api terbakar baru bergerak menyiram dan meredam. Padahal, persoalan Sunnah kontra Syiah bukanlah sekedar ‘kebakaran’. Bukan sekedar kriminal biasa. Bentrok fisik merupakan salah satu akibat dari penyebab-penyebab yang hingga kini belum diselesaikan.

Jika ada sinergi pengarahan menyangkut akar persoalan, maka aparat bisa menyelidiki pemicu timbulnya konflik. Pihak berwenang, baik aparat maupun pemerintah harusnya berkonsultasi dengan para Ulama — khususnya Ulama setempat — yang lebih memahami isu yang sesungguhnya.

Jika diserahkan kepada aktivis LSM, pengamat sosial-kebudayaan dan politisi sekuler, arah penyelesaian makin rancu. Komentar-komentar mereka cenderung parsial, membalik mengecam mayoritas.

Aktivis LSM dan HAM umumnya langsung memvonis pihak mayoritas. Umat mayoritas, misalnya, dituduh tidak toleran, harusnya umat mengayomi minoritas. Apakah benar isu intoleransi yang terjadi di Sampang? Semua pihak harus jeli.

Padahal, yang harus dipahami di sini, sebenarnya kekisruhan ini bukan sekedar lagi isu perbedaan, tapi lebih cenderung kasus penistaan agama. Pelaku penganiyaan tetap harus dihukum, namun penistaan agama harus diusut, dicari solusinya.

Selama ini, pihak berwenang hanya berkonsentrasi kepada isu kriminil terhdap kaum minoritas. Sementara umat mayoritas terus-menerus dikecam sembari melupakan kasus penistaan agama yang sudah nyata. Jelas, sikap ini menambah api yang sudah membara di jama’ah awam.

Jika semua pihak berwenang mau adil, objektif dan berkomitmen menyelesaikan secara komprehensif, maka sebaiknya ada peraturan pemerintah atau perda melindungi umat mayoritas dari penistaan. Karena memang semua bentrok dipicu oleh adanya penistaan terhadap ajaran-ajaran suci kaum Sunni. Sebelum ada dakwah menista sahabat Nabi, bumi Nusantara umat Sunni tidak terusik. Maka, pihak berwenang harusnya tidak enggan membahas isu ini dengan melibatkan Ulama, dan para pakar di bidangnya. Jika tidak, kita hanya akan menanti kekisruan di daerah lain.*

Penulis adalah Peneliti InPAS Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Al Bayyinat dan Ulama Jatim Prihatin Kasus Berdarah Sampang
Tulisan selanjutnya Oposisi Suriah Tembak Jatuh Helikopter Rezim, Dimana Muslim?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Amerika Jatuhkan Sanksi Atas Presiden Kuba, Anggota Keluarga Castro
  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?