Hidayatullah.com–Kontroversi pembacaan al-Qur’an dengan langgam Jawa pada perayaan Isra’ Mikraj di Istana Negara (15 Mei 2015) lalu tak henti menuai komentar para tokoh Islam.
Ketua Dekan Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Prof. KH. Dr. Didin Hafidhuddin menyatakan bahwa hal itu menyalahi fungsi utama membaca al-Qur’an.
“Orang membaca al-Qur’an itu agar bisa meresapi maknanya dan mendapatkan hidayah dari Allah,” ungkap Didin, belum lama ini.
Menurut Didin yang juga Pembina Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albab Bogor, inti tilawah al-Qur’an adalah dengan menghadirkan hati dan fikiran pada ayat-ayat yang dibaca. Sebab hanya dengan cara itu iman seseorang bisa bertambah dan mendapat hidayah.
“Jangan malah sibuk mengurus langgam. Akhirnya orang yang mendengarnya malah tersenyum-senyum saja, bukan lagi merenungi ayat tersebut,” terang Didin.
Dalam kesempatan taushiyah di hadapan para dosen dan puluhan mahasiswa UIKA, ustadz yang akrab disapa Kiai tersebut mengaku bukan seorang pakar atau ahli Qira’at (bacaan) al-Qur’an. Meski demikian ia tetap saja menyayangkan peristiwa itu terjadi.
“Saya bukan ahli Qira’at al-Qur’an dan mungkin saja tidak ada hukum bacaan yang dilanggar secara teori. Tapi bacaan al-Qur’an dengan langgam tersebut menyalahi adab dan etika dalam membaca al-Qur’an,” seru Didin yang juga Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Didin berpesan, hendaknya umat Islam menyadari upaya pembodohan agama ini. Sebab sepatutnya al-Qur’an dibaca dengan penuh keimanan dan penghayatan. Ia adalah kalamullah (ucapan Allah) yang harus dibaca dengan adab. Di antaranya dengan membaca al-Qur’an secara perlahan (tartil), tidak terburu-buru dan sambil merenungkan tadabbur ayat-ayat al-Qur’an itu.
“Itulah ciri orang beriman, ketika ia membaca al-Qur’an, maka hatinya bergetar dan keimanannya kian bertambah,” ucap Didin sambil mengutip Surah al-Anfal [8] ayat 2.
Terakhir, Didin juga mengkritisi maraknya gerakan sekularisasi dan liberalisasi agama di negeri Indonesia. Kini atas nama kearifan lokal, masih menurut Didin, seluruh urusan agama dipaksa hendak dilokalkan semua.
Mulai dari penamaan istilah Islam Nusantara hingga ke bacaan al-Qur’an dengan langgam (cengkok) Jawa.
“Umat Islam harus berhati-hati, ini semua adalah buah dari pemikiran sekular dan liberal tersebut.” Pungkas Didin tegas.*/Masykur Abu Jaulah