Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisa Dunia Islam

Intervensi Rusia di Suriah dan Usul Rekonsiliasi di Teluk [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 Oktober 2015 10:39 10:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 Oktober 2015 10:39
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Musthafa Luthfi

Solusi serius

Untuk menghadapi intervensi negeri beruang merah itu, Arab dan sekutu-sekutunya di Barat harus mengajukan solusi serius setelah beberapa tahun belakangan ini masih sebatas rencana dan solusi setengah hati. Sejumlah analis Arab melihat usul Turki untuk membentuk zona larangan terbang dapat sebagai salah satu opsi penting menghadapi “petualangan” Rusia itu.

Sejauh ini, diantara negara Barat yang mendukung kuat usul Turki tersebut adalah Prancis. Presiden Perancis, Francois Hollande misalnya menyatakan bahwa negaranya akan melakukan pembicaraan serius tentang usul zona larangan terbang tersebut dengan sekutu-sekutunya.

Baca Juga

Betulkah Gabung Board of Peace merupakan Tindakan Realistis?
Masjid Dikepung, Ulama Dipenjara: Jejak Panjang Diskriminasi di Tajikistan
Amerika Serikat dan Proyek Genosida di Gaza
Kebijakan Politik Iran dan Dilema Amerika
Muslim Tajikistan: Ditekan Penguasa, Diincar ISIS

Diyakini bahwa pemberlakukan larangan terbang tersebut dapat menekan semua faksi untuk duduk di meja perundingan guna selanjutnya dilontarkan solusi serius. “Reaksi yang paling tepat untuk menghadapi intervensi Rusia tanpa solusi jelas itu adalah solusi serius Arab bersama sekutu Barat dengan segera,” papar sejumlah analis Arab.

Namun kelihatannya, solusi serius dimaksud tidak mudah sebab sebagian kalangan di Arab sendiri masih belum kompak menyangkut reaksi yang tepat menghadapi intervensi Rusia tersebut. Mesir sebagai negara Arab terbesar secara militer dan penduduk misalnya secara mengejutkan mendukung keterlibatan militer Rusia di Suriah.

Menlu Mesir Sameh Shoukry pada Sabtu (3/10/2015) misalnya menyatakan dukungan negaranya dengan alasan sebagai upaya menghentikan penyebaran terorisme di kawasan. “Intervensi Rusia di Suriah akan membatasi penyebaran terorisme dan membantu menghadapi serangan ISIS di negara yang dilanda perang,” paparnya dalam salah satu pernyataan di TV setempat.

Menurut Menlu Shoukry, berdasarkan kontak langsung dengan mitranya di Rusia bahwa intervensi negeri beruang itu semata-mata untuk melawan terorisme dan menghentikan perluasan pengaruhnya. Dia juga menandaskan bahwa Rusia memiliki potensi dan kemampuan sehingga berpengaruh terhadap keberhasilan perang melawan teroris di Suriah.

Tentunya posisi Mesir tersebut sangat tidak menguntungkan negara-negara Arab yang mendukung oposisi Suriah karena negeri Piramida tersebut mengamini dalih negeri Beruang itu untuk menyerang seluruh kekuatan oposisi penentang rezim Bashar Assad. Sebagaimana dilaporkan bahwa serangan Rusia atas oposisi hanya 5 % yang menargetkan langsung ISIS.

“Justeru sudut pandang Mesir seperti ini menunjukkan ada perbedaan serius dengan negara-negara Arab pro oposisi Suriah dan hal ini adalah masalah nyata (dalam tubuh Arab). Sikap itu juga dapat dibaca sebagai kelalaian terhadap kejahatan Assad yang telah menyebabkan negerinya hancur dan Assad jualah sebagai sponsor munculnya ISIS,” papar Tahreq al-Hamid.

Menurut salah satu analis Arab itu, sebagian pihak mungkin tidak sadar bahwa Assad lah penyebab tewasnya lebih dari seperempat juta rakyat Suriah dan jutaan lainnya mengungsi. “Dia pula rezim Arab pertama yang meminta bantuan negara luar untuk memerangi rakyatnya setelah sebelumnya mendapat bantuan milisi sektarian,” tandasnya lagi.

Apa yang dikemukakan salah satu pengamat Arab itu, banyak benarnya sebab sikap negeri Arab terbesar itu dapat dijajdikan sinyal bagi Rusia untuk melapangkan jalan untuk memicu peningkatan kekerasan dan perang sektarian di negeri Syam tersebut. Di lain pihak, negara-negara besar dan kawasan yang memiliki kepentingan masing-masing akan ikut andil membumihanguskannya.

Usul Qatar

Isu lainnya yang menarik perhatian adalah usul Qatar tentang perlunya rekonsiliasi di kawasan Teluk antara negara-negara Arab kaya minyak yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC) dan Iran. Rekonsiliasi ini, menurut pandangan Qatar adalah bertujuan untuk mengakhiri “persaingan politis” di kawasan antara kedua belah pihak.

Tidak tanggung-tanggung negeri ini menyampaikan usulan tersebut pada akhir September 2015 lalu saat pelaksanaan sidang Majelis Umum (MU) PBB dalam rangka memperingati 70 tahun berdirinya badan dunia itu. Negara Arab dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia itu juga siap menfasilitasi perundingan rekonsiliasi dimaksud.

Itulah antara lain isi pidato yang paling menarik perhatian yang disampaikan Amir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad bin Khalifa Al Thani di hadapan peserta sidang MU PBB. Orang nomor satu Qatar itu mengklaim, perbedaan kedua belah pihak yang terjadi selama ini bersifat politis bukan karena perbedaan idiologi Sunni-Syiah.

Seruan Qatar tersebut berlangsung saat situasi kawasan yang diliputi suasana ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan semakin mengarah kepada eskalasi mengkhawatirkan terutama di Suriah dan Yaman. Sejumlah analis Arab menilai seruan tersebut sebagai usul berani dan tampil beda dari yang biasanya ditampakkan oleh umumnya pemimpin Arab.

Namun kelihatannya tujuan lebih penting dari seruan Qatar itu adalah mencabut “sumbu perseteruan ideologi” yang tidak diragukan lagi di antara penyebab berlarutnya krisis di sebagian negara Arab yang mengalami Arab Spring khusus Suriah dan Yaman.

Bagaimanapun, lewat dialog di meja perundingan dapat membuka mata para pemimpin kawasan akan bahaya luar biasa perang sektarian.

Dalam situasi ketegangan politis di kawasan saat ini, memang usul tersebut nampaknya mungkin sulit untuk mendapat tanggapan cepat. Terlebih lagi Iran kembali memunculkan “ketegangan baru” dengan mempermasalahkan musibah Mina yang menimpa jamaah haji manca negara pada musim haji tahun ini.

Tentunya sebelum dialog tersebut terlaksana, alangkah baiknya bila dunia Arab terlebih dahulu melakukan dialog strategis sesama Arab untuk menyatukan sikap dan memperkuat perannya di kawasan agar tidak terus menerus menjadi bulan-bulanan negara-negara besar. Dunia Arab dituntut untuk memperkuat solidaritas guna menentukan nasib sendiri dan melepaskan ketergantungan secara bertahap kepada negara-negara besar.*/Bogor, 26 Zulhijjah 1436 H

Koresponden ANTARA di Timur Tengah (1992- 2008), mantan senior interpreter KBRI Yaman

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:rusiaSerangan Rusia Di SuriahsuriahSyam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pahala Kebaikan
Tulisan selanjutnya Hamas: Penutupan Sekolah-Sekolah Israel Bentuk Deklarasi Kelemahan dan Kegagalan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Berita
2 Juni 2026 18:00
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Analisa Dunia Islam

Al-Sisi dan Lelucon Kontra-Terorisme di Mesir

22 Mei 2022 10:55
Analisa Dunia Islam

Yahya Sinwar

4 Juni 2021 09:05
Analisa Dunia Islam

Pencaplokan De facto Tepi Barat dan Definisi Nyeleneh ‘Israel’

10 Juli 2020 16:28
Analisa Dunia Islam

Turki, Libya dan Pertaruhan Islam Politik di Timur Tengah

25 Juni 2020 16:43
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?