Oleh: Tengku Zulkifli Usman
Hidayatullah.com | Pimpinan Hamas jalur Gaza Muhammad Yahya Sinwar duduk di tengah reruntuhan rumahnya yang dirudal ‘Israel’ tempo hari. Dari sekian banyak tokoh Hamas yang saya kenal dengan baik record nya, Yahya Sinwar salah satu yang unik dan komplit.
Dalam 4 hari ini saya perhatikan beliau sibuk menerima konferensi pers dan menerima wawancara wartawan pasca perang. Semua pertanyaan yang ditanyakan oleh wartawan dijawab dengan sangat baik, tegas dan sangat heroik.
Keberanian yang luar biasa. Itu adalah ciri khas Yahya. Sangat layak memang jika ia dipilih memimpin Hamas di wilayah yang sangat keras dan panas model Jalur Gaza. Kemarin Yahya Sinwar pulang ke rumah nya yang hancur dirudal ‘Israel’ dengan berjalan kaki dan menyapa warga Gaza.
Warga Gaza sangat mencintai sosok satu ini. Terlihat dari kehangatan setiap bertemu dengan warga Gaza.
Warga Gaza bersyukur bahwa Yahya Sinwar masih diberikan keselamatan dalam perang kali ini dan perang perang yang lalu lalu. Pimpinan Hamas dengan pimpinan faksi lain di Palestina memang memiliki banyak perbedaan.
Sampai saat ini hanya Hamas satu satunya faksi yang sangat berpengaruh, dicintai rakyat, dan sangat rapi juga kuat jaringan nya. Termasuk lobi lobi internasional nya.
Sebagai sebuah faksi yang diboikot oleh mayoritas dunia yang mendukung ‘Israel’. Hamas termasuk kelompok yang sangat rapi dan sangat kuat organisasi nya.
Beda dengan Fatah. Yang lebih dekat dengan penjajah dan menjadi boneka ‘Israel’ di tepi barat mengatasnamakan Palestina.
Fatah dibawah Mahmoud Abbas adalah faksi yang diakui dunia karena Fatah mengakui ‘Israel’ dan setuju dengan solusi dua negara. Mahmoud Abbas sendiri adalah tokoh Palestina yang sangat dekat dengan pejabat pejabat ‘Israel’ dan beliau adalah sosok yang pernah mengatakan sangat anti dengan cara cara yang ditempuh Hamas dalam melawan penjajah.
Fatah saat ini dipimpin oleh sosok seperti Muhammad Shehata, Saeb Erakat, Abbas dkk. Yang kesemua mereka adalah sosok yang sangat dekat dengan ‘Israel’.
Sedangkan Hamas adalah faksi perlawanan senjata dan politik yang berbasis di jalur Gaza dibawah pimpinan Ismail Haniyah, Khaled Misyal, Mahmud Zehar, Abu marzouq, Yahya Sinwar, Sami Abu Zuhri, dkk.
Tahun 2005, Hamas terpaksa harus berperang melawan Fatah yang ingin menguasai jalur Gaza dengan aturan ‘Israel’. Hamas kala itu memaksa Fatah angkat kaki dari Gaza dalam baku tembak yang hanya berlangsung 7 jam. Hamas menyingkirkan Fatah dari jalur Gaza hanya sesingkat itu.
Sebab utama kenapa Hamas mengusir Fatah dari jalur Gaza adalah karena Fatah ingin Gaza masuk dalam wilayah administrasi Abbas yang didukung ‘Israel’.
Hari ini, banyak faksi semisal Hamas bermunculan seperti faksi Jihad Islam dan beberapa faksi lain. Semua mereka memperkuat ide Hamas dalam melawan penjajah dengan senjata bukan diplomasi.
Dua hari lalu misalkan, seorang pimpinan elit sebuah faksi militer di jalur Gaza menyatakan mundur dari organisasi nya dan memilih bergabung bersama Hamas.
Hamas adalah faksi yang sangat ditakuti oleh penjajah karena menolak “solusi dua Negara”, menolak diplomasi langsung dengan penjajah dan menolak mengakui ‘Israel’ secara mutlak.
Itulah mengapa Hamas begitu dibenci oleh dunia dan bahkan dibenci oleh faksi faksi di Palestina yang punya hubungan baik dan berafiliasi dengan ‘Israel’. Itulah mengapa Hamas begitu ingin dihabisi baik dari dalam dan luar negeri.
Karena hanya Hamas yang begitu kokoh sikapnya dalam melawan ‘Israel’ secara kontinyu dan tidak pernah goyah dengan sogokan maupun pembunuhan tokoh tokoh nya. Hamas sendiri sudah keluar dari Ikhwanul muslimin internasional, yang dengan cara itu akan membuat Hamas semakin memiliki banyak teman di dunia internasional yang mendukung mereka di Gaza.
Hamas ingin berjuang lebih terbuka sebagai entitas original Palestina yang ingin memerdekakan negerinya. Dan tidak ingin di stigmatisasi sebagai sempalan sebuah organisasi tertentu. Oleh sebab itu Hamas keluar dari kelompok Ikhwanul muslimin dunia.
Jadi kalau ada negara atau kelompok yang ingin membantu Palestina tapi tidak mau membantu lewat Hamas, maka semua itu adalah desain kelompok pro-zionisme di dunia yang ingin terus meminggirkan Hamas.
Negara yang saat ini membantu Palestina di jalur Gaza langsung lewat Hamas itu hanya Turki, Qatar dan Kuwait. Selebihnya memilih tidak mau melakukan kontak dengan Hamas dan lebih memilih menyalurkan bantuan lewat Fatah yang didukung ‘Israel’.*
Pemerhati politik internasional
Foto: Muhammad Yahya Sinwar di depan rumah nya yang hancur dirudal ‘Israel’ dalam perang 11 hari