Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tazkiyatun Nafs

Awas, Kesyirikan Zaman Sekarang Lebih Parah! (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Maret 2016 17:08 5:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Maret 2016 16:57
Bagikan
Kegiatan larung sesaji yang dilakukan para nelayan. Tidak hanya menyekutukan Allah dalam masalah uluhiyyah saja, namun juga dalam masalah rububiyyah.
Bagikan

2. Kesyirikan Zaman Dahulu “Hanya” Terjadi di Waktu Lapang

REALITA kedua yang menunjukkan bahwa kondisi kesyirikan zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan pada zaman Rasulullah, bahwa kesyirikan zaman Rasulullah hanya terjadi ketika dalam kondisi lapang. Adapun kalau sedang ditimpa kesempitan, kesusahan, atau terancam bahaya, mereka mengikhlaskan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala semata. Di antara bukti yang menunjukkan bahwa kesyirikan orang musyrik jahiliyyah hanya di waktu lapang saja adalah beberapa ayat berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman, “Dia-lah Rabb yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-arang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai. Dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika Engkau (Allah) menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Maka ketika Allah menyelamathan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Wahai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu. Lalu kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.‘ (Yunus: 22-23).

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). Dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. Kemudian apabila dia telah menghilangkan kemudharatan itu dari kamu, tiba-tiba sebagian dari kamu mempersekutukan Rabb-nya dengan (yang lain).” (An-Nahl: 53-54).

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, mscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu selalu tidak berterima kasih.’ (Al-Isra’: 67).

Baca Juga

Ali bin Abi Thalib: Wahai Dunia, Bujuklah Selainku!
Saat Kaki Menapak Surga, Itulah Istirahat Hakiki
Rezeki Lancar tapi Tambah Jauh dari Allah: Awas Istidraj!
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri
Hari Raya Sejatinya untuk Siapa?

“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka ketika Allah menyelamathan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).’ (Al-An’kabut: 65).

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.‘ (Luqman: 32).

Dengan merenungkan ayat-ayat tersebut, jelaslah bagi kita bahwa orang musyrik jahiliyyah berbuat kesyirikan hanya di waktu lapang. Namun, apabila apabila mereka sedang tertimpa kesempitan, kesusahan, atau terancam bahaya, mereka mengikhlaskan doa dan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala dan melupakan segala sesembahan selain Allah.

Mereka tidak menyeru atau berdoa kepada selain Allah Ta’ala karena mereka mengetahui bahwa tidak ada sesembahan mereka yang dapat menyelamatkannya dari bahaya tersebut kecuali Allah Ta’ala saja. Sehingga mereka tidak berdoa kepada Latta, ‘Uzza, Manat, pohon, batu, dan makhluk lainnya, namun mereka hanya berdoa dan menyeru kepada Allah Ta’ala semata.

Adapun kaum musyrikin zaman sekarang ini, maka kesyirikan mereka terus-menerus berlangsung, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Mereka tidak mengikhlaskan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala, meskipun sedang berada dalam kondisi kesempitan dan kesusahan. Bahkan, setiap kali kesusahan dan kesempitan yang mereka alami semakin parah, maka semakin parah pula kesyirikan yang mereka lakukan dengan menyeru kepada Hasan, Husein, Abdul Qadir Jailani, Rifa’i, atau kepada orang-orang mati lainnya. Hal ini adalah sesuatu yang telah diketahui oleh kita semua. Di antara mereka, apabila sedang tertimpa bahaya di lautan, mereka justru memanggil nama-nama para wali dan orang shalih yang telah mati dalam rangka berdoa agar mereka menyelamatkannya dari bahaya tersebut.

Oleh karena itu, tidak ragu lagi bahwa kesyirikan zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman sekarang berbuat kesyirikan dalam dua keadaan (yaitu dalam kondisi lapang dan sempit). Sedangkan orang musyrik zaman dahulu hanya berbuat syirik dalam satu keadaan saja (yaitu dalam kondisi lapang), dan mentauhidkan Allah Ta’ala dalam kondisi sempit.

Penulis mengajak kita semua untuk melihat realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Tentu kita masih ingat dengan ancaman badai tropis beberapa tahun lalu, masyarakat kita justru “masih sempat” berbuat syirik dengan membuat sayur lodeh sebagai bagian dari tolak bala.’ Entah apa yang berada dalam pikiran masyarakat tersebut, namun inilah realita yang terjadi.

Ancaman musibah tersebut tidak menyadarkan mereka agar meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala semata, namun justru meminta kepada selain Allah Ta’ala. Kalaulah mereka beralasan bahwa sayur lodeh tersebut sebagai wasilah (perantara) saja, apa dalil yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mengajarkan adanya kaitan antara membuat sayur lodeh dengan tolak bala?

Kita lihat juga realita yang lain, apabila tertimpa musibah berupa penyakit yang tidak kunjung sembuh, dan telah ada tanda-tanda tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, sebagian masyarakat kita justru “masih sempat” berbuat syirik dengan mendatangi dukun atau paranormal agar membantu menyembuhkan penyakit yang mereka derita. Sungguh amat kasihan ketika kita melihat orang yang bertauhid di kala sehatnya, namun menjadi musyrik di kala sakitnya. Apalagi sakit itulah yang akhirnya menjadi sebab tercabutnya nyawanya. Kematian manakah yang lebih tragis dari kematian dalam keadaan musyrik?

Masyarakat yang lain, ketika punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah, ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Ketika suatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya, kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Inilah beberapa realita di masyarakat kita yang menunjukkan bahwa mereka berbuat syirik di waktu lapang dan sempit.*/dr. M. Saifudin Hakim, sebagaimana diungkapkan dalam bukunya Saudaraku… Mengapa Engkau Enggan Mengenal Allah? [Tulisan berikutnya]

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kesyirikan rububiyyahkesyirikan uluhiyyah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Awas, Kesyirikan Zaman Sekarang Lebih Parah! (1)
Tulisan selanjutnya Awas, Kesyirikan Zaman Sekarang Lebih Parah! (3)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Berita
4 Juni 2026 21:20
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Inilah 7 Penyebab Orang Gagal dalam Bulan Ramadhan

18 Maret 2026 13:00
KajianRamadhanTazkiyatun Nafs

Susah Payah Puasa cuma Dapat Lapar dan Dahaga

9 Maret 2026 17:00
KajianTazkiyatun Nafs

Menundukkan Nafsu di Bulan Suci: Belajar dari Muhammad bin ‘Amr al-Ghazzi

8 Maret 2026 11:13
Tazkiyatun Nafs

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

28 April 2021 18:19
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?