Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

HAU: “Kenapa tak Setuju TNI Setara Polri Dalam Penanganan Terorisme?”

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Juli 2016 14:10 2:10 pm
Ahmad
Dipublikasikan 25 Juli 2016 14:10
Bagikan
Pengamat Kontra Terorisme, Harits Abu Ulya.
Bagikan

Hidayatullah.com- Paska bom bunuh diri di Mapolresta Solo dan tewasnya Santoso alias Abu Wardah di Poso meresonansi dinamika pembahasan revisi UU terorisme. Baik anggota Pansus DPR RI maupun publik dihadapkan salah satu wacana yaitu perlunya keterlibatan TNI dalam porsi yang lebih dalam penanganan terorisme.

Dari pihak Polri melalui statemen terbuka Kapolri Jendral Tito Karnivan mengisaratkan ketidaksetujuannya terhadap keterlibatan TNI lebih dari porsi yang sudah berjalan seperti sekarang. Dalihnya, potensi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), abusse of power sampai soal tak terakomodir dalam criminal justice system mengingat terorisme merupakan tindakan pidana yang dikatagorikan ekstraordinary crime.

Pengamat Kontra Terorisme Harits Abu Ulya [HAU] menyoroti ketidaksetujuan Polri terhadap penglibatan TNI dalam penanganan aksi terorisme itu. Menurutnya, TNI sudah lama memiliki satuan-satuan anti teror bahkan, di setiap matra hal tersebut ada. Sehingga, kemampuan pasukan anti terornya tak perlu diragukan lagi.

“Namun, pada hari ini, dihadapkan dengan realitas dilematis, ibaratnya TNI punya akal, mata, telinga, kaki dan tangan tetapi, mereka di ikat dan ‘dipenjara’ oleh UU hingga terjadi pengerdilan sedemikian rupa tanpa di sadari dalam konteks keamanan dan pertahanan,” jelas Harits dalam siaran persnya yang diterima hidayatullah.com, Senin (25/07/2016).

Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) menambahkan, pertanyaan publik kerap muncul, teroris model apa yang harus ditangani Polri dengan densusnya dan teroris macam apa yang harus ditangani TNI dengan unit gultor-nya? Menurutnya, publik justru dibuat ambigu (bingung). “Apakah ada jenis keragaman terorisme yang dianggap mengancam keamanan bangsa dan negara ini?” tanya Harist.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Harits mengatakan, tidak ada salahnya kita belajar spesifik pada realitas empirik kasus Poso, harusnya publik bisa berpikir kenapa perburuan Santoso Cs terlalu berlarut-larut dan penyelesaiannya sangat terkesan ada ego sektoral yang begitu kuat. Menurutnya, komitmen demi negara tidak menjadi prioritas serta menyelesaikan Poso lebih condong seperti mengelola proyek keamanan dengan segala keuntungannya.

“Seperti kasus Poso operasi gerilya ke depan sebaiknya bukan gabungan TNI Polri tapi berikan porsi untuk TNI yang lebih sebab, dalam operasi gerilya ada tahapan-tahapan khusus, berbeda dengan operasi biasa,” sarannya.

“Operasi gerilya namanya oli organisasi, lawan dari insurgensi. Itu yang tahu teknik dan taktiknya adalah TNI khususnya Angkatan Darat (AD),” imbuhnya.

Harits menjelaskan, Ops. Camar Maleo dan Ops. Tinombala butuh waktu lama karena sinergitas yang solid tidak optimal. Apalagi kemampuan personil non-TNI untuk Ops. gunung sangat rendah sehingga banyak lobang tikus yang bisa ditembus oleh kelompok Santoso selama pelariannya. Sementara itu, menurutnya, hari ini TNI telah mengalami transformasi yang luar biasa sehingga tak perlu lagi trauma dari kesalahan masa lalu.

“Perlu dipertimbangkan dan dicoba untuk memberikan porsi yang tepat dan dituangkan dalam UU terorisme tentang peran TNI dalam menanggulangi aksi terorisme yang saat ini justru cenderung dikebiri polisi,” ujarnya.

Menurt Harits, hanya perlu ada dewan pengawas yang betul-betul independen serta berintegritas untuk mampu mengontrol penuh, mulai dari hulu sampai hilir dari proyek kontra terorisme di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan mampu meminimalisir kekhawatiran adanya pelanggaran HAM dan sebagainya.

“Perlu diingat dan dicatat, juga kerap terjadi pelanggaran HAM pada upaya penindakan hukum oleh polisi meskipun selama ini berusaha di tutup-tutupi. Paling tidak, kasus kematian Siyono-Klaten adalah kunci kotak pandora persoalan itu,” jelasnya.

Ia meminta Polri untuk jujur dan berkaca terhadap upaya penindakan terhadap orang-orang yang terkait terorisme sepuluh tahun terakhir. “Berapa yang tewas di luar proses peradilan? Sudah lebih dari 130 orang. Berapa yang mengalami kekerasan fisik dan verbal ketika penindakan dan penyidikan? Hampir 90% semua orang yang ditangkap terkait dugaan terorisme mengalami keadaan seperti itu.

Harits mengkritisi penggunaan kekuatan berlebihan yang sering dilakukan oleh Polisi dalam menangani terorisme. Belum lagi soal perlakuan tidak sehat terhadap keluarga terduga teroris seperti, intimidasi dan pembunuhan karakater kerap terjadi. Akibatnya, fenomena tersebut secara laten telah meradikalisasi banyak kelompok bahkan, akhirnya melahirkan dendam menjadi ideologi dari spiral kekerasan yang terus menggeliat.

“Soal terorisme tak perlu menjadi domain dari Polri saja. Keterlibatan TNI hanya perlu dibuatkan regulasi yang tepat dan availible agar tidak kontraptoduktif kedepannya,” tutupnya.

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:terorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Generasi “Y” dan Generasi “554”
Tulisan selanjutnya Dakwah dengan Akhlak yang Baik

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?