Oleh: Kholili Hasib
PERNYATAAN Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Nusron Wahid (NW) dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TVOne Selasa, 14 Oktober 2014 bertema “FPI Menyerang Ahok Melawan” yang mengatakan ‘di atas hukum agama dan adat, ada konstitusi negara’ nampaknya telah menuai kontroversi. Wabil khusus, telah dianggap mencoreng nama baik Gerakan Ansor dan kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sendiri.
Faris Khoirul Anam, anggota Aswaja Center PWNU Jawa Timur mengecam pendapat NW tersebut. Bagi Faris, sudah saatnya NU menerapkan “Aswaja Terapan” yakni semacam disiplin ajaran yang tujuannya untuk menertibkan kader NU yang melenceng pemikirannya dari asas-asas dasar organisasi. [baca: Nusron Wahid, Aswaja Terapan dan Tongkat Nabi Musa]
NW, sebagai ketua GP Ansor, harusnya mengeluarkan statemen yang membela Islam. Bukan justru melecehkan hukum agama. Sesuai dengan nama organisasinya ‘Ansor’ yang artinya ‘penolong’.
Pada awal-awal berdirinya, Ansor, yang merupakan organisasi kepemudaan NU, selalu membela Islam dari penjajah dan musuh-musah Islam lainnya. Ansor dulu tidak pernah menjadi antek penjajah.
KH. Wahid Hasyim pada acara reuni Pengurus Besar Ansor Nadlatul Ulama (nama lama GP Ansor) pada 14 Desember 1949 di Surabaya mengemukakan pentingnya membangun kembali organisasi Pemuda Ansor karena dua hal: (1) Untuk membentengi perjuangan umat Islam Indonesia; (2) Untuk mempersiapkan diri sebagai kader penerus NU.
Pada tanggal 23 Oktober 1945 Ansor ikut serta rapat bersama Rais Akbar NU, KH. Hasyim Asy’ari, membahas tentang seruan jihad melawan penjajah yang menduduki Surabaya. Rais Akbar KH. Hasyim Asy’arie menyampaikan amanatnya berupa pokok kaidah kewajiban umat islam dalam berjihad membela tanah air.
Rapat yang dipimpin Ketua Besar KH. Abdul Wahab Hasbullah itu kemudian menyimpulkan satu keputusan dalam bentuk resolusi, yang diberinama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah”. Intinya, mewajibkan setiap umat Islam (Fardlu ‘Ain) mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari serangan musuh. Resolusi jihad tersebut telah membakar semangat perjuangan arek-arek Suroboyo dan menjadi sumber inspirasi dan motifasi dalam mengusir penjajah.
Pada saat PKI (Partai Komunis Indonesia) memberontak kepada pemerintah RI, lagi-lagi Ansor berada di depan. Bahkan Ansor dianggap musuh besar PKI pada saat itu. Perlawanan NU terhadap penganut komunis ini dilakukan secara all out. Baik secara fisik maupun kultural.
Peristiwa G/30/PKI merupakan sejarah suram bangsa yang tidak bisa dilupakan oleh Ansor terutama NU. Sebab, pengalaman pahit yang menimpa warga NU (Pemuda Ansor) dalam aksi PKI di Madiun 1948, puluhan bahkan ratusan warga NU menjadi korban keganasan palu arit. Karma itu seperti dikemukakan oleh KH.Saefuddin Zuhri, Perlawanan NU terhadap PKI di lakukan di semua medan juang.
Antara PKI dan NU berhadapan sebagai lawan. PKI menggerakkan massanya, NU mengorganisasi Pemuda Ansor dan Banser-nya. PKI mengerakkan Lekranya, NU mengaktifkan Lesbuminya. PKI menyajikan lagu Genjer-genjer yang penuh hasutan dan sindiran, NU mengobarkan Shalawat Badar. NU mengobarkan semangat perlawanan terhadap PKI sebagai kelanjutan peristiwa aksi PKI di Madiun 1948.
Beginilah semangat perjuangan Ansor, tidak pernah absen menolong kaum Muslimin Indonesia di saat peristiwa-peristiwa penting. Jika kini oknum Ansor absen bahkan berbalik menolong barisan musuh, berarti Ansor telah keluar dari tradisi ke-Ansor-an dan e-NU-an. Melawan arus pemikiran ulama NU dan ulama Ahlus Sunnah dari dahulu hingga sekarang. Mereka tidak pernah mengajarkan liberalisme. Justru sejak lahir, ajaran NU anti aliran-aliran sesat.*/bersambung.. KH Hasyim tegas terhadap orang kafir, lembut pada sesama Muslim
Penulis adalah santri NU dan anggota MIUMI Jawa Timur