Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

JIN, Islam Nusantara dan Neo Liberalisasi [1]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 Juni 2015 13:55 1:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 8 Juni 2015 16:00
Bagikan
Doa sebelum ritual malam karnaval "1 Suro" (kalender Jawa) selama perayaan Tahun Baru Islam di Kraton Kasunanan pada tanggal 14 November 2012 di Kota Solo, Jawa Tengah, Indonesia. Perayaan seperti kemudian dicampur klenik dan mistik. Termasuk pelepasan kerbau "Kiai Slamet"
Bagikan

Oleh: Abdullah al-Mustofa

BELUM lama ini  KH A Mustofa Bisri menyampaikan makalahnya di acara Diskusi Panel bertema “Indonesia’s Role in Addressing Global Islamist Extremism”  yang diadakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC) di Jakarta, Kamis (28/05/2015), menyatakan bahwa Indonesia dapat memainkan peran penting dalam upaya menciptakan perdamaian dunia dengan menawarkan nilai-nilai “Islam Nusantara” sebagai model untuk umat Islam di seluruh dunia.

“Pemerintah perlu juga kokohnya sistem nilai Islam Nusantara, mengingat mayoritas warganya beragama Islam dan wajib dijaga dari ancaman propaganda ekstremisme,” jelasnya. [Rais Aam PBNU: Islam Nusantara, Solusi Peradaban Dunia, www.nu.or.id, 30/05/2015]

Pernyataan dan kenyataan di atas mengisyaratkan bahwa  “Islam Nusantara” – yang merupakan kelanjutan dari ‘pribumisasi Islam’ – sedang dan akan terus bergulir layaknya bola salju yang terus menerus menggelinding, yang mana semakin lama semakin besar ukurannya yang berakibat semakin membahayakan agama dan umat Islam.

JIN dan Neo Liberalisasi Agama

Baca Juga

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka

“Islam Nusantara”  atau JIN, menurut penulis adalah gerakan Neo-liberalisasi agama. Penyebutan JIN ini meminjam istilah yang dipakai pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab saat ceramah dalam tabligh akbar menyambut bulan suci Ramadhan bertema “Bahaya Liberal”, Selasa, 2 Juni 2015 di Masjid Raya Al-Ittihaad Jalan Tebet Mas Indah 1,  Jakarta Selatan. Kala itu ia mengatakan, “Untuk itu, Jemaat Islam Nusantara ini saya kasih julukan JIN.”

Sedang yang dimaksud Neo-liberalisasi agama di sini adalah gerakan baru dengan metode baru pengikut paham Islam liberal dan para simpatisannya di Indonesia dalam upaya untuk lebih mengefektifkan dan mengintensifkan proyek mereka yaitu liberalisasi ajaran Islam dan meliberalkan umat Islam Indonesia.

Gerakan baru ini diciptakan dan digunakan setelah mereka menemui kenyataan di lapangan proyek mereka menemui halangan dan tantangan berupa perlawanan dari para pejuang Islam yang secara ikhlas melawan gerakan, pemikiran dan paham sekular dan liberal yang sangat gencar, tepat sasaran, cerdas dan efektif.

Gerakan yang lama adalah “akal menundukkan sumber ajaran Islam”.  Dengan meminjam metodologi dari para filsuf, kaum Mu’tazilah dan Ahlu Kalam, kelompok ini  mempunyai dan menyebarkan ajaran dan keyakinan bahwa akal adalah segalanya.

Menurut mereka,  jika sumber ajaran Islam tidak masuk akal atau bertentangan dengan akal, maka tidak dipergunakan atau dita’wilkan menurut kemauan akal mereka dengan bertumpu pada debat dan logika, atau teks-teks sumber ajaran Islam dipotong-potong untuk memuaskan sikap pragmatis mereka.

Sedangkan gerakan yang baru adalah “kearifan lokal (wisdom local) menundukkan sumber ajaran Islam.

Tentang bentuk-bentuk kearifan lokal, Sartini, dosen Filsafat Kebudayaan Fakultas Filsafat UGM dalam makalahnya  “Menggali Kearifan Lokal Nusantara Sebuah Kajian Filsafati” pada halaman 2 menjelaskannya dengan  mengutip  pendapat Prof. Nyoman Sirtha. Dalam artikelnya berjudul “Menggali Kearifan Lokal untuk Ajeg Bali” dalam http://www.balipos.co.id, Sirtha menyebutkan bentuk-bentuk kearifan lokal dalam masyarakat dapat berupa nilai, norma, etika, kepercayaan, adat-istiadat, hukum adat, dan aturan-aturan khusus.

Ungkapan Jawa othak athik mathuk atau gathuk (diotak-atik agar sesuai) pas untuk menggambarkan keduanya,  dimana ajaran Islam diotak-atik oleh otak (baca: hawa nafsu) agar  sesuai dan untuk disesuaikan dengan akal dan kearifan lokal (baca: keinginan hawa nafsu).* (bersambung)

Penulis adalah anggota Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kediri Jatim

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamIslam NusantaraJamaah Islam NusantaraJINNeo liberalisasipribumisasi Islamsinkretisme agama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Saudi Perintahkan Masjid Matikan Pengeras Suara Luar Saat Shalat
Tulisan selanjutnya ‘Islamisasi’ dan ‘Arabisasi’ Nama di Jawa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Tak Mau Angkut Senjata 'Israel', Lufthansa Tetapkan Embargo
BeritaIptekes

Nyamuk Datang Naik Pesawat Dua Pekerja Bandara Jerman Meninggal Karena Malaria

Berita Iptekes
27 Agustus 2026 23:34
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

18 April 2026 09:01
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?