Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Mengungkap Kebohongan Baru Ayaan Hirsi Ali, Penulis Anti-Islam [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 31 Maret 2015 17:36 5:36 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Maret 2015 16:53
Bagikan
Ayaan Hirsi Ali, perempuan Belanda berdarah Somalia, yang mendadak terkenal dan disanjung Barat karena dianggap pengkritik Islam dan pandangannya yang liberal
Bagikan

Oleh: Max Blumenthal

Sambungan artikel PERTAMA

Kekuatan Hirsi Ali untuk meyakinkan terletak pada cerita pribadinya yang dramatis dan pesona publik yang telah dibentuknya. Dia telah memasarkan dirinya sebagai informan native, yang telah keluar dari lembah hitam Islam radikal dan menuju terangnya masyarakat Barat. Ceritanya dianggap menggugah serta menyentuh, karena menyediakan cerita yang ingin didengar orang Barat tentang diri mereka serta musuh mereka. Dengan sikap anti-Islam sedang memuncak di seluruh Eropa dan Amerika, kritik Hirisi Ali terhadap Islam sebagai kepercayaan penuh kekerasan adalah sebuah cap pengakuan yang besar. Satu-satinya masalah adalah, seperti tulisannya terhadap Islam, apa yang diberitahukan kepada orang lain tentang dirinya patut dipertanyakan.

Pada Mei 2006, program televisi Belanda Zembla secara seksama membongkar cerita dramatis yang didongengkan Hirsi Ali untuk mengangkat karirnya. Zembla menyimpulkan Hirisi Ali telah menjual ‘cerita penuh kerancuan.’

Terlahir dengan nama Ayaan Hirsi Magam, dia berimigrasi ke Belanda pada 1992, mengganti namanya menjadi Hirsi Ali, dan berbohong pada autoritan Belanda tentang masa lalunya. Tidak seperti ceritanya pada pemerintah, dia tidak datang dari Somalia yang porak poranda karena perang, tapi dari Kenya, dimana dia tinggal di lingkungan yang aman dan berada di naungan perlindungan PBB.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

PBB juga membiayai sekolahnya di sebuah sekolah putri Muslim yang bagus. Meskipun dia mengatakan bahwa dirinya kabur dari perang sipil di Somalia, sebenarnya dia pergi sebelum perang tersebut pecah. Seumur hidup Hirsi Ali tidak pernah hidup di tengah perang dimanapun. Berkat kebohongannya, Hirsi Ali mendapatkan suaka politik hanya dalam waktu lima minggu.

Hirsi Ali memberi tahu penonton yang terpana pada sebuah talk show di TV Belanda bahwa keluarganya, yang katanya taat, telah memaksanya menikahi seorang pria Muslim yang kejam. Dimana dia tidak boleh menghadiri upacara pernikahannya sendiri, dan keluarganya mengancam untuk membunuhnya karena telah melecehkan kehormatan agama mereka. Tetapi, Zembla membeberkan cerita yang sebaliknya. Saudara laki-laki, bibi serta mantan suami Hirsi Ali masing-masing bersaksi bahwa dia hadir di upacara pernikahannya. Ibu HIrsi Ali diungkapkan telah mengirim anak laki-lakinya ke sebuah sekolah Kristen, menunjukkan bahwa keluarganya bukan fanatis Islam.

“Yeah, memang aku mengarang semuanya,” aku Hirsi Ali pada reporter Zembla yang mengkonfirmasi kebohongannya. “Aku mengaku namaku Ayaan Hirsi Ali dan bukannya Ayaan Hirsi Magan. Aku juga mengaku lahir di tahun 1967 padahal aslinya aku lahir tahun 1969.”

Klaim Hirsi Ali mengenai ancaman pembunuhan juga dusta belaka. Dia tetap berhubungan dengan ayah dan bibinya setelah meninggalkan suaminya. Bahkan sebenarnya, suaminya mengunjunginya ke pusat pengungsian di Belanda, dimana dia tinggal setelah pergi dari suaminya. Pria tersebut bahkan membiayai perjalanan Ali ke Eropa dengan perjanjian mereka akan bertemu lagi di Kanada, namun akhirnya dia mengabulkan permintaan cerai istrinya.

Dusta yang Menggulingkan Pemerintahan

Pada 2003, hanya satu dekade setelah mendapatkan suaka politik di Belanda, Hirsi Ali memenangkan pemilu untuk duduk di parlemen lewat Partai Rakyat untuk Kebebasan dan Demokrasi. Pimpinan VVD tahu bahwa kisah yang diceritakan Hirsi Ali pada formulir imigrasinya adalah sebuah kebohongan kelas kakap, karena Hirsi Ali telah mengakui pada partainya. Tapi mereka menutupi penipuan publik tersebut dan bahkan membantunya meningkatkan karirnya.

“Dia menyaksikan lima perang sipil di masa kecilnya, dan telah kabur bersama keluarganya berulang kali. Dia terbuat dari besi dan baja,” kata Neelie-Smit Kroes dari VVD saat itu, menguatkan klaim bahwa partai Hirsi Ali tahu dia berbohong.

Setahun setelah bergabung dengan parlemen Belanda, dimana dia mencoba untuk melarang sekolah Islam di Belanda, Hirsi Ali berkolaborasi dengan sutradara Belanda Theo van Gogh untuk memproduksi sebuah film documenter berjudul Submission. Film tersebut menggambarkan kekerasan terhadap wanita dalam komunitas Muslim sebagai hasil dari pemikiran Islam, menampilkan aktris yang berperan sebagai wanita yang teraniaya dan menayangkan wanita yang menggunakan niqab dan setengah telanjang dengan kalimat-kalimat dalam huruf hijaiyah tertulis di seluruh tubuhnya.

Van Gogh, seorang filmmaker dan kolumnis yang menyebut Muslim sebagai ‘penyetubuh kambing’, ditembak dan ditusuk hingga tewas oleh seorang Muslim radikal Belanda segera setelah film tersebut dirilis. Sebelum kabur dari TKP, pembunuh tersebut meninggalkan pesan di mayat van Gogh, mengancam akan membunuh Hirsi Ali juga. Sikap Hirsi Ali yang konsisten terhadap kejadian tersebut membuatnya dijuluki pahlawan di dunia Barat, terutama di Amerika pasca kejadian 9/11, dimana majalah Time memasukkannya dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di tahun 2005.* (bersambung)

Wartawan dan penulis buku, “Goliath: Life and Loathing in Greater Israel”. Tulisan dimuat di www.alternet.org

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratliberal
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kementerian Komunikasi dan Informasi Akui Blokir Media Islam Tanpa Komunikasi dan Verifikasi
Tulisan selanjutnya Anggota Komisi I DPR: Apa Dasar Hukumnya Pemblokiran 19 Situs Itu?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?